Anak Genius Namaku Aji

Anak Genius Namaku Aji
Kisah Aji ( Bukan Ending )


__ADS_3

Hidup ibarat sebuah perjalanan. Ada banyak jalan yang akan dilalui. Tidak hanya datar dan lancar, tapi ada juga tanjakan dan turunan, dengan jalan yang berkelok, berlumpur, berlubang dan berkerikil.


Ada saat hujan dan panas, dalam suatu perjalanan yang kita lalui juga. Apa kita akan berhenti, jika perjalanan belum sampai pada tujuannya?


Setidaknya, kita akan terus melanjutkan langkah untuk perjalanan itu, meskipun kita juga tidak tahu, kapan waktunya untuk sampai di tujuan.


Kita hanya melakukan apa yang kita anggap benar, meskipun ada banyak suara yang berkata kepada kita.


"Jangan lewat jalan itu!"


"Lewat jalan sebelah sana!"


"Seharusnya tidak begitu!"


"Ahhh... payah!"


"Sudah, berhenti saja. Jangan diteruskan!"


Tapi, apakah kita harus mengikuti semua kata orang? Apa yang ada di dalam hatimu?


Perjalanan takdir seseorang, tidak ada yang tahu, bagaimana kedepannya. Hanya Tuhan dan waktu, yang bisa menjelaskan dan menjawabnya.


*****


Dua tahun kemudian.


"Ma. Adek bayinya sedang tersenyum!" Seru Aji pada mamanya, Cilla.


"Ajak ngobrol dong!" seru Cilla, dari dalam kamar mandi.


"Kan dia belum bisa ngomong Ma!" jawab aji dengan berteriak juga.


Ceklek!


Cilla keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang lebih segar. Dia berjalan ke arah box bayi yang ada, tidak jauh dari tempat tidurnya. Ada Aji, anaknya yang besar, sedang membungkuk memperhatikan adik bayinya.


"Dia memang belum bisa ngomong Sayang, tapi dia bisa mendengar jika Kamu ajak bicara. Ada interaksi dengan hati dan perasaannya juga dengan Kamu," kata Cilla menjelaskan.


"Wah lucu ya Ma. Tapi dia belum bisa di ajak main game atau yang lain," protes Aji.


"Belum dong! Nanti kalau sudah sebesar Aji, dan Aji sudah tambah gede bisa diajak main-main. Diajarin juga ya, biar pinter juga kayak Aji," kata Cilla dengan membelai rambut Aji.


"Sayang, Ayo sarapan dulu, terus Papa antar ke sekolah. Kita nanti terlambat lho!" panggil Gilang dari luar kamar.


"Tuh, sudah dipanggil papa. Yuk!" ajak Cilla pada Aji.

__ADS_1


Aji menurut. Dia berjalan keluar kamar terlebih dahulu, sedangkan Cilla, mengangkat anaknya yang ada di box bayi, yang masih berusia empat bulan.


"Wah... cucu Oma sudah rapi. Siap sekolah ya?" tanya mami Rossa pada Aji, cucunya yang paling besar.


"Siap dong Oma!" jawab Aji, dengan mengacungkan jari jempolnya pada mami Rossa.


"Besok, kalau adek Anjani sudah besar, kita bisa sekolah bareng, dan Aji pasti akan menjaga dia!" kata Aji dengan bersemangat.


"Harus dong! Aji harus bisa menjadi pelindung Anjani. Bagaimana rasanya punya Adek bayi?" tanya mami Rossa, sambil menuang nasi ke piring Aji.


"Seneng Oma. Adeknya lucu! Aji mau punya adek yang banyak, bisa?" tanya Aji antusias.


Gilang dan Cilla, terbelalak kaget mendengar permintaan dari Aji. Sedangkan mami Rossa tertawa-tawa senang, sambil melihat Cilla dan Gilang secara bergantian.


"Kalian bisa dengar sendiri. Mami juga mau kok minta kayak Aji," kata mami Rossa, dengan memeluk Aji dari arah samping. Meskipun demikian, perkataannya itu ditujukan untuk anaknya Gilang, dan menantunya, Cilla.


"Honey. Kamu juga bisa dengar kan? Berarti kita mesti lembur lagi, jika Anjani sudah tertidur," kata Gilang pada Cilla, dengan suara pelan.


"Mas... ihsss! Masih pagi ini," kata Cilla dengan wajah bersemu merah.


Gilang tersenyum senang, mendengar jawaban istrinya itu. Dia juga merasa bahagia, dengan semua yang sudah dia jalani selama ini. Pernikahannya dengan Cilla, adalah kebahagiaan yang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk anaknya Aji, dan maminya, mami Rossa.


"Non. Biar bibi gendong neng Anjani dulu. Biar Non bisa sarapan pagi," kata bibi menawarkan bantuan.


"Apa perlu baby sitter Honey?" tanya Gilang memberikan usulan pada istrinya. Dulu, dia sudah pernah mengusulkan untuk mengambil baby sitter, tapi Cilla menolaknya.


"Tidak usah Mas," jawab Cilla dengan mengelengkan kepalanya.


"Tapi kalau setahun lagi ada adeknya, apa Kamu bisa mengurus sendiri juga?" tanya Gilang, dengan tersenyum.


"Eh, beda lagi itu!" jawab Cilla, dengan wajah memerah.


"Hahaha..." tawa Gilang, terdengar penuh dengan kebahagiaan.


Mami Rossa tersenyum, melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia. Dia merasa bersyukur, karena masih bisa melihat anaknya itu berkeluarga, dan mempunyai anak-anak yang lucu. Hidupnya serasa sempurna.


Aji yang sedang sarapan, hanya tersenyum saja mendengar tawa papanya. Dia tidak begitu paham, apa yang sedang dibicarakan oleh papa dan mamanya. Yang dia tahu bahwa, setahun lagi, dia akan mempunyai adek bayi lagi. Itu artinya, akan bertambah lagi, penghuni rumah ini, dan dia juga ada teman bermain, meskipun mereka belum bisa diajak berbicara.


"Pagi semua!"


Dari arah pintu masuk, tampak tuan Adi yang datang bersama dengan dokter Dimas, adiknya. Mereka berdua berjalan menuju ke meja makan. "Wah kebetulan, kita memang belum sarapan," kata dokter Dimas, dengan tersenyum lebar.


"Ah, kamu ini! Jangan bikin malu kenapa!" kata tuan Adi, dengan memukul bahu adeknya pelan.


"Lah, memang begitu kan? Ini namanya rezeki Bang!"

__ADS_1


"Hem..."


Tuan Adi, hanya melengos mendengar perkataan adiknya itu. Dia langsung menyalami mami Rossa dan Gilang serat TOS dengan Aji. "Hai, jagoan Paman!" sapa tuan Adi pada Aji.


"Eh, ngaku-ngaku!" protes Gilang, pada tuan Adi.


"Biarin. Aji saja tidak protes," kata tuan Adi mencibir.


"Untungnya, Aku tidak menegur mbak Cilla dengan cintaku. Hahaha..." kata dokter Dimas, dengan tawanya yang meledek Gilang.


"Ihs... kalian datang pagi-pagi, cuma mau buat kerusuhan di rumahku?" tanya Gilang dengan mata memicing.


"Hahaha... Iya!"


"Betul!"


Keduanya, tuan Adi dan dokter Dimas, sama-sama menjawab pertanyaan dari Gilang, dengan maksud menggodanya Mereka berdua senang sekali melihat wajah Gilang, yang sedang over protektif terhadap Cilla dan Aji.


"Kalau tidak boleh sama mbak Cilla, Aku nunggu Anjani saja!" kata tuan Adi meledek Gilang.


"Eh Anjani milik Aku Bang!" seru dokter Dimas protes.


"Eh, buat Abang dia!" seru tuan Adi, tidak mau kalah.


"Haduh... mana boleh begitu. Cucuku masih imut, dan kalian sudah kakek-kakek," kata mami Rossa, dengan mengelengkan kepalanya, sambil mendengus dingin.


"Ada-ada saja kalian!" kata Gilang kesal.


Cilla, hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka semua. Dia merasa sangat bahagia, dengan apa yang dia jalani sekarang ini. Anak-anak yang tumbuh sehat, suami yang perhatian dan mencintainya. Mertuanya juga, bukan hanya sekedar mertua, tapi menjadi pengganti mamanya yang sudah lama tiada. Cilla merasa bersyukur kepada Tuhan, atas semua karunia yang dia terima ini.


Aji. Dia tidak lagi merasa, jika dia adalah anak yang tidak diinginkan. Dia merasa bahagia, bisa memiliki keluarga yang utuh dan lengkap. Kebahagiaan yang tak pernah dia dapatkan diwaktu dulu, saat hanya ada mamanya saja.


Sesungguhnya, kebahagiaan itu bisa kita ciptakan sendiri, dalam keadaan apapun. Karena sejatinya, kehidupan adalah milik kita, tergantung bagaimana kita memahami dan menguasai hati kita sendiri.


Seoson 1 selesai.


Lanjut seoson 2 🙏🙏🙏


***


Terima kasih outhor TK ucapkan, untuk semua reader yang sudah mendukung novel ini 🙏🙏


Semoga, semuanya tetap dalam keadaan sehat dan bahagia.


Love you all 😘😘😍😍❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2