
Tama kembali dari pesantren Annisa dengan raut wajah kecewa. Entah kenapa, ia merasa jika Annisa menjauhi nya.
Ia pulang langsung menuju ke bengkel nya. Tempat usahanya sedari ia masih duduk di kelas tiga SMP.
Usaha turun temurun yang diwariskan semuanya kepada Tama. Karena kelima adiknya yang lain perempuan semua.
Dua adik kandung dengan Mama Linda. Tiga adik tiri dari istri kedua Papa Fabian. Papa Fabian sudah bercerai dari istri keduanya yang gila harta itu.
Semua harta sudah dibagi rata oleh Papa Fabian untuk ke enam anaknya. Yang paling banyak mendapatkan adalah Tama.
Karena dia ahli waris tunggal selain kelima adiknya yang perempuan. Tiba di bengkel mobil miliknya, ia masuk dengan langkah gontai.
Bahkan sampai saat ini belum ada sebutir nasi pun yang masuk ke tubuh nya sedari semalam sampai saat ini.
Anto heran melihat sikap majikan nya ini. ''Bos? Anda kenapa? Perlu sesuatu? Wajah ada pucat loh..'' tegur Anto.
Tama menghela nafas panjang. ''Belikan saya sarapan di depan. Apapun jadi. Yang penting saya makan.'' jawabnya dengan lesu.
''Baik Bos!'' dengan segera Anto keluar dan membeli sarapan lontong kacang kesukaan Tama.
Ia membeli susu juga beserta makan siangnya nanti. Karena ini sudah masuk waktu siang. Pukul sepuluh lewat lima belas menit.
''Ini Bos! Silahkan di makan. Jika perlu sesuatu, panggil saja saya. Saya ada di depan.''
''Ya, apa ada telepon dari sekolah Annisa untukku?'' tanya Tama sembari membuka bungkusan makanan itu.
Anto menggeleng, ''Tidak Bos! Cuma ada satu orang tadi yang datang kesini nanyain Bos. Saya bilang, Bos belum datang.''
''Siapa?'' tanya Tama sambil menyuapkan lontong kacang itu ke mulutnya.
''Nona Selena!''
Tama menoleh pada Anto. ''Selena?''
''Ya, Nona Selena! Mantan tunangan anda.'' sahut Anto datar ketika menyebut tentang Selena.
''Untuk apa dia kemari?''
''Untuk mengantarkan sarapan pagi buat Bos! Itu sudah saya berikan pada pegawai kita yang lain!'' ketus Anto.
Tama menghela nafasnya. ''Terimakasih, kamu boleh keluar!'' usir Tama.
Anto mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan Tama dengan sejuta pikiran nya.
Hari-hari yang dilalui Tama begitu hampa. Hampa tanpa kehadiran Annisa. Adik angkat yang selalu setiap pagi itu menghubungi nya untuk meminta uang jajan.
Padahal seminggu sekali, Tama sudah memberikan nya. Tama merasa kehilangan. Setiap hari Selena selalu saja datang untuk menemui nya.
__ADS_1
Dengan alasan mengantar sarapan pagi dan makan siang untuk Tama. Tama tidak menolak.
Ia menerima Selena dengan lapang dada. Toh, Selena hanya berbuat baik padanya dengan mengantar kan sarapan dan makan siang nya.
Anto mengepalkan kedua tangannya saat melihat Selena begitu akrab dengan Tama. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun.
Seperti permintaan Annisa dua Minggu yang lalu saat Annisa datang ke bengkel nya.
Saat itu Annisa ingin bertemu dengan Tama. Ingin mengatakan jika Mama Linda pulang nya di percepat jadi seminggu lagi.
Melihat kedatangan Annisa, Anto tersenyum manis melihat gadis kecil yang mirip dengan Tama itu.
Sepanjang berbicara dengan Anto, senyum itu terus terukir dengan manis. Namun, saat melihat Tama keluar bergandengan dengan Selena, senyum itu mendadak surut.
Wajahnya mendadak menjadi datar. Anto melihat tatapan mata Annisa mengarah pada Tama dan Selena.
Anto mengepalkan tangannya. Ia ingin mendatangi pasangan yang tidak tau diri itu. Tapi Annisa menahannya.
Annisa bilang, ia tidak apa-apa. Hingga hari-hari berikutnya Anto selalu menyindir Tama dan Selena.
Tama terdiam sedangkan Selena menunduk malu. ''Kemarin Annisa datang kesini. Dia bilang, Nyonya Linda akan segera pulang dari umroh Sabtu ini! Semoga anda tidak lupa tuan Adrian Pratama! Sibuk dengan mantan tunangan, melupakan istri sendiri dan juga Mama nya! Permisi!'' imbuh Anto begitu geram pada Tama.
Tama tertegun mendengar ucapan Anto. Selena semakin merasa bersalah pada Tama. ''Maaf Bang.. aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin menghibur mu. Itu saja..'' lirih Selena.
Ia merasa malu karena ucapan Anto tadi. Benar kata Anto, jika Tama melupakan Annisa bahkan mengabaikan istri kecil nya karena kehadiran Selena.
Tama semakin bersalah kepada Annisa. Sementara Annisa sudah bersikap biasa saja. Ia akan menebalkan hatinya mulai sekarang.
Ia akan menunggu Tama sampai melepaskan dirinya. Memikirkan itu, Annisa merasa sesak sendiri. Air mata itu menetes lagi.
Sudah dua Minggu sejak terakhir kali Tama ingin menemuinya, sampai hari inipun Annisa tidak melihat wajah Tama lagi.
Bahkan buah-buahan serta jajanan yang biasa ia kirimkan, kini sudah tidak ada lagi. Annisa tersenyum miris.
Gadis cantik berparas ayu ini semakin datar saja saat ini semenjak kejadian dimana ia melihat Tama masih bergandengan dengan Selena keluar dari bengkel nya.
Tanpa melihat ada Annisa disana..
Satu Minggu kemudian, Mama Linda dan Papa Fabian sudah pulang dari umroh nya. Annisa sedari tadi malam sudah datang ke bandara Kuala namu untuk menyusul kedua orang tuanya itu.
Sementara Tama, semakin kebingungan. Ia harus bilang apa jika sampai Mama Linda bertanya dimana keberadaan Annisa saat ini.
Ia berjalan tidak menentu didalam kamarnya dirumah Mama Linda. Karena ketika Tama mendapatkan telepon dari Mama Linda saat umroh, ia ingin jika Annisa dan dirinya harus menginap disana.
Semakin kacau lah Tama saat ini. Sedangkan Annisa sedang bersuka ria dengan Mama Linda dan Papa Fabian.
Annisa di antar oleh Rayyan untuk menyusul Mama Linda. Mak Alisa sempat bertanya siapa yang akan menyusul Mama mertua Annisa.
__ADS_1
Annisa bilang, ia akan ditemani Rayyan dan juga Supir Papi Gilang. Mak Alisa setuju dan membiarkan Annisa dan Rayyan yang menyusul Mama Linda, tanpa ada Tama.
Annisa beralasan jika Tama sedang sibuk di bengkel, karena sangat ramai pengunjung nya. Mak Alisa percaya saja.
Padahal tanpa dan Selena sedang keliling kota Medan untuk menyenangkan hati Selena. Annisa tau itu.
Tiga jam kemudian, mereka tiba di kediaman Papa Fabian. Tama yang sedang di kamarnya semakin kelimpungan, takut jika Mama Linda bertanya tentang Annisa.
Dengan berat hati, Tama terpaksa keluar untuk mencari Mama Linda. Ia terkejut saat melihat jika ada Annisa dan juga Rayyan disana bersama Mamanya.
Tama tersenyum lega. Namun, semua itu surut saat melihat wajah datar Annisa saat melihat nya.
''Kamu darimana Adrian Pratama? Kenapa tidak menyusul Mama? Annisa bilang, jika kamu sedang sibuk di bengkel? Benarkah itu? Bukannya kamu sedang sibuk dengan mantan tunangan kamu itu?!''
Deg!
Deg!
Tama terkejut. Annisa melihat ada ketegangan diantara mereka, akhirnya mencoba untuk membujuk Mama Linda.
''Mama... udah ih! Istirahat dulu, baru setelah itu mengomel lagi, okey?'' bujuk Annisa.
Mama Linda terkekeh melihat wajah Annisa yang begitu imut saat meminta padanya. ''Oke, sayang! Kamu juga istirahat ya? Mama sama Papa masuk dulu.''
''Ashiaaaap Mama Bos!''
Mama Linda tertawa melihat tingkah Annisa. Dengan segera ia berlalu pergi menuju kamar utama dirumah itu.
Sementara Annisa dan Rayyan pergi keluar dan di ikuti Tama. ''Sayang, tunggu!''
''Hati-hati di jalan ya Dek! Bilang sama Mak, kalau Mama Linda udah sampai!''
''Oke, Kak! Abang pulang dulu ya? Assalamualaikum.'' ucap Rayyan setelah mencium tangan Annisa dan tangan Tama.
Kemudian ia pergi meninggalkan kediaman Pratama. Tinggallah Annisa dan Tama saat ini.
Annisa berbalik dan masuk kedalam, membuat Tama lagi dan lagi tertegun. ''Sayang, tunggu! Abang mau bicara!''
''Ada apa? Ingin bilang kalau Abang sibuk di bengkel? Banyak pelanggan? Padahal buktinya satu harian ini Abang bersenang-senang dengan wanita lain? Begitu?!''
Deg!
''Dek...''
💕💕💕💕
Ih, kesel tuh sama bang Tama!
__ADS_1