
''Hiks.. cukup Bang! Cukup sampai disini! Aku tau aku masih kecil, aku tidak pantas bersanding denganmu yang sudah dewasa. Kamu cocok dengannya! Pergilah! Urus pernikahan mu dengan nya. Tapi sebelum itu, lepaskan aku dulu!'' tegas Annisa dengan suara bergetar.
Tama mengepalkan tangannya. ''Sampai kapanpun, Abang tidak akan melepaskan mu! Sampai matipun, kamu akan tetap menjadi istri Abang! Bukan yang lain Annisa!''
Deg!
Deg!
Dua jantung yang berdiri berjauhan itu berdetak tak karuan. Yang satu berdenyut nyeri. Yang satu ada rasa senang di dalam hati.
Gadis kecil berparas ayu itu, menarik sedikit ujung bibirnya hingga membentuk senyuman. Senyuman senang keluar dari hati.
''Tunggu sayang.. jangan pergi.. Abang tidak melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan. Abang masih sama dek.. masih sama seperti yang dulu..'' lirih Tama dengan mendekat pada Annisa.
Mama Linda diam saja, ia ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia ingin lihat ketegasan seorang Adrian Pratama. Apakah seperti Papa Fabian atau?
Tama berdiri dibelakang tubuh Annisa yang mematung di tempat. Tubuh itu masih berguncang karena menangis.
''Sayang... Abang mohon, jangan pergi.. Abang butuh kamu. Please...'' pinta Tama dengan memeluk tubuh Annisa dari belakang.
Pelukan pertama setelah mereka menikah. Setelah Annisa beranjak dewasa, Annisa sudah tau batasan.
Begitu juga dengan Tama. Ia pun tau Annisa gadis seperti apa. Ia hanya berani merangkul itupun jika terpaksa.
Jika tidak, Tama tidak pernah menyentuh Annisa seperti saat ini. Mereka berjalan beriringan tapi tidak bersentuhan.
''Hiks.. lepas Bang. Aku mau ke asrama. Tugasku sudah selesai disini. Sekarang urusan lain itu menjadi urusan Abang. Biarkan aku pergi..'' lirih Annisa dengan terisak.
Tama semakin mengeratkan pelukannya. Pelukan yang dulu sangat dirindukan nya. Pelukan yang membuat dirinya merasa nyaman saat memeluk gadis kecilnya itu.
Tubuh Annisa masih saja berguncang. Tama semakin erat memeluknya. Sementara Selena, mengepalkan kedua tangannya.
Wajahnya datar. Mama Linda terkekeh sinis melihat Selena. Ia tidak berbicara lagi, karena sekarang menjadi tugas Tama untuk menahan Annisa agar tidak pergi.
''Jangan pergi... Abang membutuhkan mu.. Abang sayang kamu Dek.. sayang.. banget. Jangan pergi ya?'' bujuk Tama untuk yang kesekian kalinya.
''Hiks.. berikan aku satu alasan, kenapa Abang sangat menginginkan ku tetap berada disamping Abang. Sementara cinta abang bukanlah untukku. Beri aku satu alasan yang bisa membuatku percaya, jika abang memang sangat membutuhkan ku!'' tegas Annisa tanpa berbalik pada Tama.
__ADS_1
Tama semakin mengeratkan pelukannya. ''Abang tidak punya alasan apapun sayang. Tapi satu hal yang harus kamu tau, Abang menerima pernikahan ini dengan setulus hati-,''
''Bohong! Abang terpaksa menerima ku dan pernikahan ini! Minggir! Aku tidak percaya lagi dengan ucapan Abang! Cukup sekali aku mendengar ucapan mu yang begitu membuatku percaya, jika Abang memanglah tidak menginginkan pernikahan ini. Abang terpaksa menerima ku, karena Mama Linda. Bukan tulus dari hati Abang! Pikirkan baik-baik sebelum Abang mengambil keputusan ini! Keputusan mutlak yang Abang buat sendiri tanpa paksaan dari siapapun! Termasuk kekasih tercinta Abang! Sampai saat itu tiba, aku tidak akan pulang kerumah ini! Aku akan tetap tinggal di asrama.''
''Dan ya, selesaikan urusan Abang dengan mantan terindah Abang itu. Jika hatimu masih terpaut padanya, maka lepaskan aku! Setelah kamu bisa melupakan mantan terindahmu, Kapan pun Abang ingin menjemputku, aku pasti akan ikut. Untuk sekarang, aku tidak ingin berada diantara sepasang kekasih yang masih saling mencintai! Lepaskan aku! Pergilah lanjutkan hubungan mu dengan kekasihmu. Sampai waktu kamu bisa melupakan mantan terindah yang kau cintai itu hilang dari HIDUPMU DAN JUGA HATIMU, baru aku menerima mu sebagai SUAMIKU Bang Adrian Pratama!''
Deg!
Deg!
Tama melepaskan pelukan nya dari tubuh kecil Annisa. Dekapan yang begitu erat membuat mereka berdua nyaman.
Mama Linda terkekeh lagi. Sungguh! Menantu kecilnya ini begitu tegas dalam bersikap. Sekarang giliran Tama yang ingin ia lihat.
Apakah Tama bisa tegas terhadap hatinya dan wanita itu?
''Baik, jika itu yang kamu inginkan! Abang melepas mu pergi. Tapi hanya untuk sementara. Ingat sayang! Sementara! Kapan saja Abang menyusulnya, kamu harus ikut bersama Abang! Pergilah. Supir akan mengantar mu.'' titahnya lembut pada Annisa.
Tama bergeser dan berdiri di depan Annisa. Annisa menatap lurus ke depan. Tama menyeka air mata Annisa yang terus bercucuran di wajah ayu nya.
Cup.
Cup.
Cup.
Lagi, Tama labuhkan dua kecupan lagi di mata Annisa yang terpejam. Annisa mengepalkan kedua tangannya.
Sangat ingin memeluk Tama saat ini. Namun situasinya berbeda. Ia ingin lihat, bagaimana Tama memperjuangkan dirinya setelah pergi dari rumah itu.
''Abang sangat menyayangi mu, jauh sebelum Abang mengenal Selena. Hati dan pikiran Abang sudah penuh dengan namamu, bagaimana mungkin Abang bisa melepaskan mu dan melupakan mu begitu saja sayang. Abang belum bisa bilang jika ini cinta. Tapi.. hati ini sangat terpaut pada mu. Abang mohon.. kamu jangan pernah mengatakan Jika kamu akan pergi dari Abang selamanya. Abang tidak kan sanggup, sayang.. Jika kamu ingin pergi, Abang izinkan! Tapi kamu tetap istri Abang! Bukan yang lain! Cuma kamu satu-satunya sayang! Cuma kamu! Abang akan menyelesaikan segera urusan Abang dengannya. Abang mohon.. kamu tetap disamping Abang ya?'' bisik Tama dihadapan wajah Annisa.
Harum nafas Tama sangat Annisa sukai Harum mint dari nafasnya itu semakin membuat Annisa tidak ingin pergi jauh darinya.
Bahkan bau harum nafasmu saja bang.. aku tidak ingin pergi.. aku sangat mencintaimu Bang Tama! Sangat mencintai mu! Sampai kapanpun!
Grep!
__ADS_1
Annisa memeluk erat tubuh Tama. Tama tertawa. Mama Linda pun ikut tertawa. Begitu juga dengan Papa Fabian.
Tapi tidak dengan Selena. Wajah wanita cantik itu merah padam. Ia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan rasa cemburu dihatinya.
Annisa terisak dalam pelukan Tama. Tama semakin erat memeluk tubuh kecil itu. Dirasa cukup, Tama mengurai pelukannya dari Annisa.
Annisa kecewa. Tapi ia harus apa? Bukankah ini keinginan nya?
''Ayo, Abang antar sampai ke mobil. Biar mang Rahim yang ngantar kamu ke asrama ya? Besok, Abang kesana. Ingat? Jangan tidak menemui Abang lagi! hem?'' pinta Tama sambil mengajak Annisa untuk berjalan.
Annisa masih sesegukan. Ia mengangguk, Tama tersenyum. Ia semakin erat merangkul tubuh kecil sang istri.
Tama membuka pintu mobil dan membawa Annisa masuk. ''Ingat pesan abang tadi. Jangan menghindar dari Abang. Abang tidak sanggup sayang.. Abang akan selesaikan segera urusan Abang dengan Selena. Abang akan mengembalikannya seperti semula. Seperti dulu, kita selalu bersama kemanapun kita pergi. Jangan pernah katakan jika kamu, akan pergi dari Abang. Ya?'' pinta Tama lagi.
Ia menatap dalam pada mata Annisa yang masih mengeluarkan air mata. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan.
Annisa mengangguk. ''Hiks.. ya.'' sahutnya.
Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan sekarang. Tama tersenyum. Lagi, ia memeluk lagi tubuh hangat yang akan membuat nya candu nantinya.
Cup.
Kecupan sekilas di bibir Tama berikan pada Annisa. Membuat Annisa melotot melihat nya. Tama tertawa hingga kepala nya mendongak ke atas.
''Kamu orang pertama yang mendapatkan ciuman pertama Abang!'' ucap Tama membuat pipi Annisa merona malu.
Annisa menunduk. Lagi, Tama tertawa.
Suara tawa Tama terdengar hingga ke dalam rumah dimana tiga orang itu sedang menunggu kedatangan nya.
''Kamu lihat Selena? Sekuat apapun kamu mencoba untuk mengikat Tama dengan pesona mu, kamu tetap akan kalah dengan cinta tulus dari Annisa. Gadis kecil yang dulu begitu Tama sukai setiap kali berkunjung kerumah Mak angkat nya! Kamu tidak akan bisa memisahkan dua orang yang sudah terikat takdir sedari mereka dilahirkan Selena! Pesanku, sebaiknya kamu cari pria lain yang menerima mu apa adanya tanpa melihat sisi kekurangan mu. Pulanglah. Tama sudah bahagia dengan kehidupan nya.''
💕💕💕💕
Hehehe.. mau yang panas lagi?
Nanti aja ye?
__ADS_1
Uwuuuu uwuuuu dulu! hihihi..