
Syakir menghela nafas sesak saat mengingat keadaan Tama yang terbaring tidka berdua di bangkar pasien.
Ia tetap harus berbicara sesuai keinginan Annisa tadi malam. Annisa menitipkan pesan untuknya. Maka dari itu, Syakir sendiri yang harus menyampaikan nya.
Syakir menatap sendu pada Tama, ''Assalamu'alaikum Abang.. adek datang. Apakah Abang tidak ingin melihat adek disini? Adek sudah datang sesuai dengan keinginan kak Annisa!''
Deg!
Deg!
Jantung Tama berdetak cepat saat mendengar nama Annisa dari bibir Syakir. Tama tau, jika itu suara Syakir. Tetapi ia masih belum ingin bangun.
''Bangun Bang. Kalau Abang ingin mendengar pesan Rindu Kakak untuk Abang. Adek punya pesan itu. Apakah Abang tidak ingin mengetahui nya?'' ucap Syakir lagi yang semakin membuat jantung Tama berdetak semakin kencang.
Suara alaram jantung di monitor itu semakin keras berdetak. Hingga menimbulkan suara nyaring.
Semua yang ada disana kaget mendengar nya. ''Apa yang kamu katakan nak? Hingga membuat Putra Mama memandu seperti itu? Kenapa mesin monitor itu semakin bising suaranya?'' tanya Mama Linda pada semau orang.
Raga yang memang sedang berada didalam mendekati Tama. ''Aku tau, Abang bisa mendengar suara kami semua. Bangunlah bang. Seluruh keluarga sedang menunggu mu. Apakah kamu tidak ingin mendengar kabar tentang Adek Annisa di Bandung sana dari Syakir??''
Deg!
Deg!
''Abi!'' seru Ira sembari menggeleng kan kepala nya. Tetapi Ragata tidak peduli. Ia tetap ingin bicara pada Tama yang terlelap.
Suara mesin monitor itu semakin nyaring terdengar. Semuanya panik. ''Lanjutkan Dek! Apa yang menjadi pesan kakak mu, sampaikan padanya jika ia ingin melihat istrinya kembali!''
Deg, deg, deg..
Degup jantung itu semakin keras terasa saat ini. ''Ragata!'' seru Mak Alisa dengan suara naik satu oktaf.
Papi Gilang mengelus lembut bahunya. ''Tenang... Ragata tau apa yang terjadi pada Tama. Kamu lupa? Kalau Ragata itu seorang Dokter?''
__ADS_1
Deg!
Jantung Tama semakin tidak karuan. ''Lanjutkan Nak. Tak apa. Yang lain semuanya diam! Jangan ada yang berbicara selain Syakir!'' tegas Papi Gilang hingga membuat ruangan itu sunyi senyap seketika.
''Ayo Dek. Bicara padanya apa yang kakak mu sampaikan!''
''Baik, Abang. Kakak menyampai kan sesuatu untuk Abang. Dengarkan baik-baik!'' ucapnya sambil memegangi tangan Tama.
Sedang Tama yang saat ini sedang berada di taman luas tanpa sekat sedikit pun kini menunggu ucapan Syakir dengan seksama.
Ia terus saja menatap bias cahaya yang terus menuju ke arahnya itu. Seperti cahaya itu sengaja datang untuk menjemput nya.
''Abang...''
Deg!
Lagi, jantung Tama berdetak tidak karuan. Seolah ia bisa mendengar suara Annisa. Padahal itu suara Syakir.
''Bangun. Kenapa Abang tidak bangun? Sementara aku di Bandung saja sudah bangun dan kembali beraktivitas? Kenapa Abang menghukum diri sendiri? Abang harus bangun. Usaha kita membutuhkan Abang saat ini. Bangunlah. Aku ada kejutan untuk Abang. Tetapi tunggu sampai empat tahun lagi!'''
Deg!
''Lihat lah. Walau hanya dari Syakir, tetapi pesan itu begitu membantu dirinya untuk bangun. Kita lihat, apakah bang Tama akan sama seperti ku dulu??'' kata Raga pada kak Ira.
Kak Ira hanya bisa tersenyum saja. Ia terus menatap pada Tama yang saat ini tangan kanannya mulai bergerak.
''Abang tidak boleh sakit. Tanggung jawabmu banyak! Usahamu, kedua orang tuamu, adik-adik mu dan juga... Kam- ehm hah. Aku pergi untuk kembali bang Tama. Bukan untuk pergi seperti pemikiran mu. Kalau kamu masih menginginkan ku, itu keputusanmu. Bukankah sudah aku katakan di dalam surat itu, bahwa aku mengikuti semua keputusan mu??'''
Deg, deg, deg..
''Sa-sayang...'' lirih Tama dengan suara lirihnya.
Ragata dan Ira mendekati Tama. Syakir memegangi tangan kanannya. Ia melihat pada Raga dan Ira. Mereka berdua mengangguk.
__ADS_1
Syakir melanjutkan kembali ucapan nya. ''Apapun keputusan Abang, aku ikut saja. Semua itu demi keutuhan keluarga kita. Aku tidak kemana-mana. Tetap di Bandung. Tetapi aku melarangmu untuk menemui ku bang Tama, sebelum waktu yang aku tentukan!''
''Nggak.. Abang akan datang untuk menemui mu..'' lirih Tama lagi semakin membuat seluruh keluarga tertegun.
Termasuk Mama Linda dan Papa Fabian.
''Nggak usah. Abang urus saja seluruh keluarga kita. Beri pengertian kepada mereka semua. Bahwa aku pergi bukan untuk meninggalkan mu. Tetapi untuk memantaskan diriku agar layak berdiri disamping mu. Aku pergi untuk menuntut ilmu. Bukan hal lain, seperti yang kamu lakukan dua Minggu yang lalu!''
Deg!
Deg!
Seluruh keluarga saling pandang.
''Enggak sayang.. Kamu salah paham..'' lirih Tama lagi masih dengan mata terpejam.
''Semua itu nyata terlihat bang Tama. Aku terluka. Tetapi aku masih bisa memaafkan mu. Untuk sekarang, biarlah berjalan seperti ini. Kamu di Medan. Dan aku di Bandung. Kita berdua harus menjalani hidup seperti ini. Aku tidak menyalahkan mu. Barangkali, ini juga salahku yang tidak mengerti dirimu. Tak apa. Aku akan berusaha lebih baik lagi jika kamu masih menginginkan ku! Aku akan belajar disini seperti apa cara membuat suami menjadi senang kepada kita dan tidak berpaling kepada wanita lain. Bangun bang Tama. Bangunlah. Aku akan menunggumu empat tahun lagi disini. Disaat tugasku sudah selesai, maka kamu boleh menemui ku. Tetapi jika kamu tidak menerimanya, dan kamu ngotot ingin menemui ku sekarang. Maka, aku akan menghilang dari muka bumi ini hingga kamu dan Papi pun tidak akan bisa menemukan ku!''
''Enggak!'' seru Tama seketika dengan mata terbuka. Papi Gilang melotot mendengar ucapan Syakir yang merupakan ucapan Annisa untuknya. Ia berdecak sebal.
''Ingat itu bang Tama. Rasa cinta dan sayangku padamu mengalahkan rasa benci ku padamu. Aku terluka dan kecewa itu saja. Tetapi jauh di lubuk hatiku, aku masih menginginkan mu. Sekarang terserah padamu akan seperti apa perjalanan rumah tangga kita ke depan nya. Jaga diri baik-baik. Minta Mitha untuk memasakakn makanan kesukaan mu. Karena aku sudah mengajarkan nya. Aku pamit. Bangun dan duduklah. Jika kamu masih ingin melihatku kembali. Aku sangat menyayangimu, suamiku Adrian Pratama!''
''Annisa .. sayangku...'' lirih Tama dengan segera duduk dan melihat semua orang satu persatu dihadapan nya.
Semuanya tertegun melihat Tama yang langsung duduk karena mendengar ucapan Syakir dari Annisa untuknya.
Entah apa yang mendesak dirinya, tiba-tiba saja perut itu mual ingin muntah. Tama ingin turun dengan cepat.
''Abang mau kemana?! Jarum infus nya belum dibuka!'' pekik Ira begitu terkejut melihat sikap reflek Tama yang ingin turun entah ingin kemana.
''Ab- hueeeekk.. eerrrgghh hueeeekk...'' Tama memuntahkan isi perutnya yang hanya berisi cairan pahit di lantai di sebelah Syakir.
Syakir mematung. Hampir saja dirinya tersiram muntahan Tama jika tidak ditarik cepat oleh Mitha.
__ADS_1
Semua yang melihatnya pun keheranan. Ragata terkekeh, ''Kamu mual Bang? Mual karena apa ini? Jangan-jangan....'' ucap Ragata menggantung Karena melihat Tama yang ingin muntah lagi.
Secepat kilat ia membantu Tama menuju ke kamar mandi, di ikuti Ira dan Mak Alisa di belakang nya.