
''Nak.. Papi tau Papi salah.. tolong maafkan Papi.'' pinta Papi Gilang dengan wajah sendu nya.
Nara menatap Papi Gilang, dengan raut wajah yang entah seperti apa. ''Papi nggak ada salah sama adek. Jika Papi merasa bersalah terhadap kakak, itu urusan Papi. Bukan urusan adek. Adek mau mandi dulu.'' Imbuhnya pada Papi Gilang, Nara pergi meninggalkan Papi Gilang dan masuk ke kamar mandi.
Tiba dikamar mandi, Nara luruh kelantai dengan dada begitu sesak. Ia menangis sesegukan. Selama ini, belum pernah sekalipun ia berbicara seperti itu kepada sang Papi. Cinta pertama nya.
Ia menangis. Menangis mengingat perkataan nya yang begitu hati sang Papi. Tapi Nara bisa apa? Jika tidak seperti itu, Papi Gilang tidak akan sadar akan kesalahannya.
Tujuan Nara baik.
Sementara Papi Gilang, pria paruh baya itu tertegun dengan pengusiran putri kandungnya. Air mata itu meleleh di pipinya. Sakit sekali mendapatkan penolakan dari sang putri.
Baru satu putri yang menolaknya. Bagaimana jika ia menemui Annisa besok. Pastilah putrinya yang itu pun akan terluka.
Papi Gilang bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Pria cukup matang itu menangis. Ternyata kesalahan nya begitu fatal terhadap kedua putrinya. Namun, ia bangga. Kalau ternyata, Nara memiliki sifat tegas yang sama seperti Annisa.
Sekali mengatakan tidak, maka akan tidak. Begitu pun sebaliknya. Tapi semua itu terjadi karena dirinya. Papi Gilang menangis tersedu di kamarnya seorang diri.
''Maafkan Papi, Nak.. bukan maksud Papi ingin menghancurkan pernikahan Kakakmu, tapi hanya mencoba menguatkan mereka berdua dengan cara menghadirkan orang ketiga. Papi salah.. Papi salah, nak.. maafkan Papi..'' lirih pria paruh baya itu.
Ia menangis sesegukan saat mengingat, bagaimana dirinya dengan tidak punya perasaan bersalah sedikitpun kepada Annisa, ia mencoba membuat Tama luluh akan perkataan nya.
Annisa memang terlihat biasa saja. Tapi tiada yang tau, jika hatinya di dalam remuk redam saat mendapati kenyataan bahwa sang Papi lah yang menyebabkan kehancuran rumah tangga nya bersama sang pujaan hati.
Kini, Papi Gilang hanya bisa meratapi nasibnya. Nasib hubungan nya dengan putri sambung yang dulu pernah ia selamat kan saat kebakaran rumah mereka.
Puteri kecil mirip dirinya itu adalah penguat untuknya dikala Mak Alisa menolak hubungan mereka untuk diresmikan.
Hubungan yang terjalin dari hati akan berakhir dengan baik. Tapi sekarang? Malah dia sendiri yang menghancurkan hubungan nya dengan putri sambungnya.
''Maafkan Papi Nak.. maafkan Papi.. besok. Ya besok, Papi akan datang ke tempatmu untuk meminta maaf. Papi salah. Papi Tidak berfikir Jiak kamu itu masih labil. Di luar saja terlihat dewasa, tapi di dalam begitu rapuh. Saking rapuhnya, hanya karena godaan Papi saja kamu memilih pergi.. hiks.. Maafkan Papi sayang.. Maafkan Papi..'' lirih nya sambil tersedu.
Mak Alisa yang baru saja tiba pun ikut tersedu. Mak Alisa tau, niat Papi Gilang itu baik. Tapi caranya itu yang salah. Ia mendekati Papi Gilang dan memeluknya.
''Sastt.. sudah.. jangan menangis. Kamu sudah janji loh sama aku? Kalau kamu tidak akan menangis yang menyebabkan diriku pun ikut menangis, hem? Kamu lupa? Hiks..'' Kata Mak Alisa.
Ia memeluk tubuh tegap Papi Gilang. ''Hiks.. maaf sayang.. aku bersalah kepada putri kita. Maafkan atas kecerobohan ku. Maafkan aku.. aku salah.. aku salah.. aku menyesal telah melakukan hal ini untuknya. Hiks, padahal niatku baik. Hiks, aku hanya ingin mengatakan mereka dengan menghadirkan orang ketiga. Hiks, ternyata aku salah. Hiks, aku pikir Kakak akan kuat menerima ujian ini. Ternyata... hiks, aku salah.. Kakak masih labil. Dia bisa terluka walau hanya dengan godaan saja.. aaaaaa.. maafkan aku..uuu..uuu..'' Papi Gilang semakin tersedu di pelukan Mak Alisa.
Dua paruh baya beda generasi itu saling menangis menyesali perbuatannya kepada putri mereka. Nara yang baru saja ingin turun dan melewati kamar kedua orangtuanya, pun ikut menangis.
''Hiks.. Kakak..'' isaknya.
__ADS_1
Ia berlalu turun ke bawah untuk mengambil minum. Sepanjang perjalanan, ia terus saja terisak.
Ternyata, sang Papi sudah menyadari kesalahan nya. Kini, tinggal Papi Gilang datang ke pesantren untuk menemui Annisa dan meminta maaf kepadanya atas kesalahan yang ia perbuat.
*
*
*
Keesokan harinya.
Pagi ini Papi Gilang dan Mak Alisa akan pergi ke pesantren untuk menemui Annisa. Nara kemarin sore sudah balik ke pesantren nya diantar oleh Rayyan. Abangnya. Bang Lana tidak pernah ada dirumah, karena pemuda itu sedang bertugas sebagai abdi negara.
Pengganti dari Bang Lana adalah Rayyan. Putra sulung Papi Gilang dari pernikahan pertamanya dengan Mama Vita. Sedangkan Mak Alisa merupakan ibu susu sekaligus ibu sambung bagi Rayyan ( Baca kisah tentang Mak dan Papinya ada di Pelabuhan Terakhir ku ).
''Sudah siap?'' tanya Rayyan kepada kedua orang tuanya.
Mak Alisa dan Papi Gilang mengangguk dan tersenyum, ''Sudah. Ayo, kita berangkat.'' Sahut Papi Gilang.
Bibir pria paruh baya itu terus saja melengkung kan senyum manis nya. Rayyan sampai terkekeh dibuatnya. Mereka bertiga pergi menuju pesantren Annisa yang berjarak sekitar satu jam dari rumah mereka.
Di perjalananan Rayyan dan Papi Gilang asik membuat lelucon. Menggoda sang Ibu ratu. Siapa lagi jika Mak Alisa. Wanita paruh baya itu hingga jengkel dibuatnya karena ulah absurd pria beda usia itu.
''Apa?!'' pekik Papi Gilang begitu terkejut.
Buhahahaha...
Rayyan tertawa terbahak tiap kali Mak Alisa mengatakan hal itu kepada Sang Papi. Kata-kata keramat yang ia tidak mengerti. Tapi bisa membuat Sang Papi mati berdiri.
Selama perjalanan mereka bertiga terus saja tertawa sambil melempar ejekan. Mak Alisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak dan Papi itu.
Satu jam berlalu, kini mereka bertiga sudah tiba di pesantren tempat Annisa menuntut ilmu. Dengan sangat kebetulan, Annisa dan ustdzah Hanim baru saja pulang berbelanja perlengkapan dapur pesantren saat sebuah mobil Pajero berwarna putih memasuki kawasan pesantren.
Annisa mengenali mobil itu. ''Papi?? Mak??'' gumam nya.
Dan itu terdengar oleh ustadzah Hanim. Sementara dua paruh baya itu masih berdebat dan saling pukul saat turun dari mobil mereka.
Jika Mak Alisa memukul lengan Papi Gilang, Papi Gilang mengecup pipinya berulang kali. Membuat wanita itu semakin jengkel saja. Wajahnya di tekuk masam. Sangat jelek. Begitu kata Papi Gilang.
Lagi, pukulan ringan itu mendarat di lengan kekar sang Papi. Annisa dan ustadzah Hanim yang melihatnya ikut terkekeh. Begitulah kebersamaan kedua orang tau beda usia itu.
__ADS_1
Annisa mengikuti jejak Mak Alisa. Walau Papi sangat muda, tapi Mak Alisa bisa mengimbanginya. Sama seperti dirinya dan Tama.
Oleh karena rasa nyaman dan cinta itu sudah hadir saat ia berumur sepuluh tahun. Masih sangat kecil. Sementara Tama sudah dewasa.
Annisa tersenyum dan terkekeh saat melihat adiknya, Rayyan pun ikut menggoda sang ibu ratu. Yang berakhir jika ibu ratu ngambek dan meninggalkan mereka berdua.
Kedua anak dan Papi itu tertawa terbahak bahak melihat Mak Alisa merajuk. Mak Alisa berbalik dan menatap mereka berdua dengan tajam.
Bukan nya marah, tapi semakin membuat dua pria beda usia itu semakin tertawa terbahak bahak. Karena melihat tingkah Mak Alisa yang begitu lucu menurut mereka.
Mak Alisa tersenyum saat melihat Annisa dan ustdzah Hanim. ''Assalamu'alaikum, ustdzah.. Nak??''
''Waalaikum salam ibu Alisa.''
''Waalaikum salam Mak.'' sahut Annisa dengan segera memeluk wanita paruh baya yang telah melahirkan nya itu.
''Bawa masuk Nis, kedua orang tuamu dan juga adikmu!''
Annisa mengangguk, ''Ayo, Mak. Kakak baru saja pulang belanja dari pasar sama ustadzah.''
''Oh ya?''
''He'em,'' sahut Annisa.
Sepanjang perjalanan masuk ke dalam pesantren Annisa dan Mak Alisa saling berbicara. Mereka berdua mengabaikan dua pria beda usia yang melongo melihat kepergian mereka.
''Ck! Ya elah si Mami! Pakai di tinggalin segala lagi! Mana berat nih belanjaan nya! Ck! Papi! Papi juga harus bawa ini! Kalau nggak mau di usir Mami dari kamar!'' celutuk Rayyan dengan segera berlalu meninggalkan Papi Gilang yang melongo karena perkataan nya.
''Hemm.. ck! Dasar! Awas saja berani mengusirku dari kamar! Akan Papi kurung Mami kamu itu selama sebulan! Biar tau rasa dia!'' ketus Papi Gilang sambil berjalan.
Rayyan mendengarkan nya tapi ia tak ambil pusing. Mereka berdua memasuki kawasan pesantren tempat Annisa menuntut ilmu.
💕💕💕💕💕
Ck! Dasar di Papi! Hadeeeuuhh... 😄😄
Sambilan nunggu Abang Tama dan adek Annisa update, mampir dulu yuk, di cerita temen othor yang satu ini.
Cus kepoin!
__ADS_1
Like dan komen selalu othor tunggu! 😘😘