
Ada Tama, Annisa, Sarah dan Mutia dalam satu meja yang kini mereka duduki. Sedangkan untuk kedua orang tau Sarah dan Mutia duduk di laineja tetapi berdekatan dengan Annisa.
Sedangkan di sisi lain, ada ustadzah Azura bersama dengan rekan guru yang lain. Ia mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
Telinganya terasa panas. Aku akan merebutnya dari mu Annisa! Baik! Akan aku lakukan sekarang juga! Tidak bisa menunggu hari lain lagi! Sebelum terlambat! Aku harus mendapatkan Adrian terlebih dahulu sebelum Annisa mendapatkan dirinya seutuhnya!
Tangan halus itu terkepal erat. Wajahnya memerah menahan amarah. Ingin sekali ia memukul dan menjambak Annisa. Jika tidak mengingat hari ini masih di lokasi tempat sekolah tempatnya bertugas.
Tunggu! Tunggu saja! Tunggu kau Annisa!
Bibir tipis berwarna nude itu tersenyum miring melihat Annisa.
Sedangkan Annisa masih saja tertawa-tawa bersama kedua sahabat nya. Mereka makan bersama sambil bersenda gurau.
Annisa menerima setiap suapan yang Tama sodorkan padanya. Bukan hanya Tama yang makan, tetapi Annisa juga. Tetapi dari piring dan sendok yang sama.
Bagi mereka yang tidak tau mereka akan biasa saja. Menganggap jika hal itu masalah biasa. Tetapi tidak dengan seseorang yang tidak menyukai kehadiran Annisa.
Ia semakin panas saja melihat kedekatan mereka berdua. Bukan sekali dua kali ia melihat adegan itu. Tetapi sudah berulang kali.
__ADS_1
''Seperti sepasang suami istri saja! Padahal mereka kan belum menikah? Kemarin aja aku datang ke bengkelnya, karyawannya bilang kalau Tama sampai saat ini masih sendiri. Aku tidak bisa begini terus! Aku harus mencegah semua ini sebelum terlambat! Maaf bang Adrian! Aku sudah membujukku dengan cara baik-baik! Tetapi kamu tidak mau! Jangan salahkan aku jika aku mengambil jalan pintas ini! Hanya ini jalan satu-satunya!'' gumamnya sambil terus memperhatikan Annisa dan Tama yang sedang saling menyuapi.
Ia bangkit karena tidak tahan melihat pemandangan yang membuat hatinya panas seketika. Ia pergi ke ruang guru dan mengambil sesuatu yang sudah ia persiapkan sedari berapa bulan yang lalu.
''Tunggu aku Adrian! Kamu akan segera menjadi milikku!'' ucapnya dengan senyum smirk menghiasi wajah ayunya.
Sementara diluar, Tama terus saja menyuapi Annisa hingga pergi Annisa rasanya ingin meledak.
''Eerrgghhtt... Alhamdulillah.. udah Abang? Adek udah kenyang. Bisa meletus perut ku jika tidak di kontrol makan makanan sebanyak ini Abang!'' sungut Annisa pada Tama.
Sedangkan Tama terkekeh, saking senangnya menyuapi Annisa, ia tidak sadar jika sudah membuat sang istri kekenyangan karena ulahnya.
Annisa melotot pada Tama. Tama pura-pura tidak melihatnya. Ia sibuk mengambil tisu yang akan ia serahkan kepada Annisa.
Sarah dan Mutia terkekeh. ''Biarkan saja Bang. Selama ini Annisa jarang makan. Ia selalu menginginkan kalau Abang yang menyuapinya saat makan. Sering kali kami memaksanya. Tetapi ya gitu. Annisa makannya dikit. Makanya kurus kayak begitu!''
''Hooh. Saking rindunya sama Paksu sampai-sampai tidak selera makan eeuuuyyy!'' timpal Sarah membuat Annisa menepuk gemas lengannya.
''Hahaha.. jarang marah atuh Neng! Kan memang benar yang kau bilang? Sering kali kamu menangis saat mengingat bang Tama. Iyakan? Ngaku kamu Nis!'' tuduh Mutia pada Annisa.
__ADS_1
Annisa melengos. Tama tertawa. Ia sangat suka melihat kebersamaan para gadis itu. Tiada hari tanpa tertawa jika melihat Annisa berkumpul bersama dengan teman-teman nya.
''Semoga kita akan selalu seperti ini selama nya.. jika Samapi terjadi sesuatu dengan mu, mungkin Abang akan mati. Hidup, tetapi tanpa nyawa. Abang akan menjadi batu. Tetapi bernafas! Ingat sayang, kalau ada masalah apapun, tolong dibicarakan baik-baik ya? Jangan kabur lagi seperti dulu..'' lirih Tama sambil menggenggam erat tangan Annisa.
Sarah dan Mutia saling pandang. Mereka berdua hanya bisa tersenyum lirih dan menunduk.
Masih teringat olehnya saat Annisa dulu kabur dari Tama dan memilih pulang ke pesantren. Annisa kabur dan meninggalkan Tama tanpa penjelasan sama sekali.
Hingga membuat Tama terpuruk dan merasa bersalah disaat ia telah menyadari kesalahan nya. Saat itu Tama hanya sedang dilema dengan hati dan pikiran nya.
Ingin menolak tetapi hati menginginkan Annisa. Hal yang Tama tidak tau, kalau Annisa mendengarkan ucapan nya dan Selena saat di taman rumah sakit.
Tama menyesali semua itu. Mulai hari itu juga, Tama mencari dan membujuk Annisa agar kbali kerumahnya. Tetapi karena rasa sakit hati dan kecewanya, Annisa sempat menolak semua bujukan Tama.
Tama sadar. Jika Annisa lah yang ia inginkan. Bukan Selena. Selena hanya pelarian saja. Kejam sih. Tetapi itulah hatinya.
Ingin membuang Annisa dari hati dan hidupnya tetap tidak bisa. Karena Annisa sudah bertahta lama dihatinya.
Mulai ketika Annisa dilahirkan, hingga saat ini. Semua rasa itu masih sama. Hanya saja Tama mencoba untuk menyangkal nya. Ia menginginkan Annisa. Bukan gadis lainnya.
__ADS_1