
Annisa berjalan dengan terseok-seok menuju jalan raya. Melalui celah bunga Bougenville itu ia keluar dari taman samping yang langsung menuju dimana mobil Tama sedang parkir.
Annisa semakin sakit hatinya saat melihat di sekolah tadi, Tama pulang dengan Azura. Guru di pesantren nya.
Sekuat tenaga menahan Isak di bibir nya agar tidak menimbulkan curiga karena saat ini showroom Tama sangat ramai. Ada Anto disana. Tapi tidak terlihat Tian.
Annisa berjalan perlahan sambil menunduk hingga menemui jalan raya. Ia menghentikan taksi yang kebetulan lewat dihadapan nya. Annisa masuk setelah taksi itu berhenti.
Kini ia menuju keruang mereka berdua. Rumah Tama. Yang tidak jauh dari showroom. Hanya lima belas menit saja jarak tempuhnya.
Sepanjang perjalanan Annisa terus tersedu. Sulit itu taksi itu terkejut Kaka melihat Annisa. ''Loh? Inikan gadis yang dulu pernah menangis juga di taksi ku? Sudah Alma sekali. Satu setengah tahun yang lalu. Dan kali ini ia ketika bertemu dengan nya terjadi hal seperti ini lagi??'' gumamnya dalam hati dengan mata terus memandangi Annisa dari sebalik kaca spion depan nya.
Annisa terus saja tersedu. Ia tidak sanggup mendapati kenyataan yang begitu pahit di dalam hidupnya saat ini.
Kebetulan sekali di dalam taksi itu sedang mengalun lembut sebuah lagu yang begitu tepat dengan diri Annisa saat ini.
Entah apa yang terjadi kepada mu
Kau berani selingkuh di depan mataku.
__ADS_1
Annisa tersedu. Alunan merdu itu begitu tepat dengan dirinya saat ini. Selingkuh. Itukah yang kini Annisa rasakan.
Dadanya semakin sesak. Hatinya semakin sakit. Supir taksi itu hanya mental kab padanya. Ia tidak tau harus bicara apa. Ingin bicara takut salah. Lebih baik ia diam. Sama seperti satu setengah tahun yang lalu.
Lima belas kemudian, Annisa tiba di kediaman nya dan Tama. Annisa membayar taksi itu dengan cepat. Setelahnya ia langsung berlari menuju rumah nya.
Ia membuka pintu gerbang itu dengan tergesa dan hampir terjatuh. Tetapi ia tidak peduli. Annisa kembali melanjutkan perjalanan nya menuju pintu rumah Tama.
Semakin lama semakin berat. Hingga tiba di depan pintu, tangan itu kembali bergetar hebat. Mata itu mengabur kembali. Pandangan matanya kembali buram sana seperti saat di showroom tadi.
Dari balkon atas Mitha melihat Annisa yang berlari dengan tergesa-gesa. Ingin menghampiri tetapi ia sedang masak. Karena Anto hari ini memintanya untuk mengantarkan makanan ke showroom.
Mata itu terus memperhatikan gerak gerik Annisa yang menurutnya sedikit aneh. Karena mengingat sayurnya, Mitha kembali turun ke bawah menuju dapur kembali dan meninggalkan Annisa yang masih tersedu dengan memegang kunci pintu.
Susah payah Annisa membuka pintu itu. Sekuat tenaga ia berlari menuju ke atas. Dimana di kamarnya, Annisa segera mengambil koper yang sebukdn lalu ia bawa dari pesantren saat pulang bersama Tama.
Annisa memasukkan semua barang-barang bawaannya ke dalam koper dengan sangat terburu-buru.
Semuanya ia masukkan dengan segera. Semua buku SMA kuah keperluan nya. Termasuk ATM yang berisi uang miliknya. Sedang yang cahs dan ATM yang Tama berikan Annisa tinggalkan di atas meja.
__ADS_1
Ia semakin tersedu kala menatap figuran besar foto pernikahan mereka berdua. Ia mencari sesuatu di dalam laci nakasnya. Annisa menemukan foto mereka berdua. Foto pernikahan nya.
Segera Annisa bawa album itu. Untuk sekarang Annisa tidak bisa berpikir apapun. Ia hanya ingin menenangkan dirinya saat ini.
Setelah semuanya siap, Annisa jatuh terduduk di lantai. Ia tersedu kembali dengan memegangi digital dirinya dan Tama saat di pantai karang Anyer dulu.
''Adek pergi Bang. Semoga Abang bisa melewati hari-hari tanpa diriku. Maafkan diriku yang labil ini. Mungkin benar kata orang, aku ini gadis yang labil. Maafkan istri kecilmu ini bang Adrian Pratama. Semoga kamu sanggup menjalani hidup ini. Selamat tinggal Abang. Semoga kita bertemu kembali lima tahun lagi..'' lirih Annisa dengan dada yang begitu sesak.
Annisa melipat kertas putih yang saat ini ada di tangan nya. Ia mengecup dan memeluk kertas putih pengantar kata kepergian nya itu.
Ia tersedu. Sakit sekali. Tidak tau bagaimana cara untuk menjabarkan nya. Annisa seperti di paksa untuk melepaskan Tama begitu saja. Padahal hatinya begitu terpaut pada pria tampan kepala tiga itu.
Dirasa cukup, Annisa melepaskan mahar pemberian Tama. Ia letakkan di atas kertas putih itu lengkap dengan ATM pemberian Tama.
Sedang untuk ATM nya sendiri sudah ia bawa. Seluruh surat menyurat pun sudah. Annisa membuka lemari dan mengambil buku penting tentang statusnya dengan Tama.
Ia mengambil buku hijau itu dan memasukkan nya ke dalam berkas penting lainnya.
''Adek pergi Abang.. adek pergi dengan membawa seluruh hati ini. Separuh lagi ku tinggalkan bersama mu. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Kita akan bertemu setelah lima tahun lagi.. selamat tinggal suamiku, imamku, cintaku, kekasihku, pujaan hatiku.. Aku sangat mencintai mu bang Adrian Pratama.. sangat mencintai mu.. inilah keputusan ku. Semoga kamu bisa menerimanya..'' lirih Annisa dengan segera keluar dari kamar itu dengan meninting satu bush ransel dan juga satu buah koper perlengkapan nya.
__ADS_1