Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Posesif


__ADS_3

''Ayo makan! Abang udah beli makanan untuk kita makan. Ayah udah di antarkan makanan kan oleh rumah sakit?'' ajak Tama pada kedua adiknya itu.


''Aseeekkk.. makan malam!'' celutuk Syakir kegirangan. Annisa dan Tama terkekeh.


Ayah Emil beranjak dari bangkar nya dan turun menuju dimana Tama dan Annisa sedang duduk lesehan dilantai. ''Ayah makan bersama kalian ya?'' ucap Ayah Emil sembari mendudukkan dirinya di dekat Syakir.


Syakir memegang lengan ayah Emil dan memapahnya untuk duduk di dekatnya dan Annisa. Ayah Emil di apit oleh kedua anaknya. Tama tersenyum melihat itu.


Annisa dengan sigap melayani sang ayah terlebih dahulu. Baru kemudian sang suami, terakhir Syakir. Tiga lelaki itu begitu senang ketika Annisa melayani nya dengan baik.


''Terimakasih, Nak. Ayah beruntung memiliki putri secantik dan sebaik dirimu. Maafkan ayah yang dulu pernah menelantarkan mu dan juga dua saudara mu yang lain. Ayah khilaf waktu itu. Ayah tidak tau kebenaran nya. Ayah mengetahui nya saat usia kamu enam tahun. Jika bukan bunda mu yang memberikan bukti itu pada ayah, pastilah sampai saat ini ayah masih marah terhadap Mak mu.. Maafkan ayah nak.. maafkan ayah yang telah mengabaikan mu saat pertama kali kamu dilahirkan... hiks..'' Ayah Emil terisak saat mengatakan hal itu pada Annisa.


Tubuh kurusnya semakin kurus karena ia sakit paru-paru ini. Tubuh kurus itu berguncang hebat. Ia memeluk tubuh Annisa dengan erat. Keduanya tersedu untuk beberapa saat.


Begitu juga dengan Syakir dan Tama. Mereka pun ikut menangis. ''Sudahlah Yah. Hiks. Kakak sudah memaafkan ayah sedari dulu. Ayah tidak bersalah. Memang sudah seperti ini takdir kita. Jika bukan karena ayah berpisah dnehn Mak, mungkin sampai saat ini kakak tidak memiliki adik sebaik dan setampan Syakir!''


Syakir tersipu malu. Tama memutar bola matanya malas. ''Jadi suami tua kamu ini tidak baik dan tampan begitu?!'' ketus Tama secara tiba-tiba.


Annisa terkejut. ''Eh, Abang apaan sih?! Nggak gitu Abang! Ishh.. kamu itu tetap yang terbaik dan tertampan tau!'' ketus Annisa begitu jengkel dengan Tama.


Ketiga lelaki itu tertawa melihat tingkah Annisa. ''Ayo, kita makan! Abang udah lapar ini! Masa' ada makanan enak di anggurin sih? Abang makan duluan! Bismillahirrahmanirrahim!'' ucap Syakir untuk meredakan kekesalan Annisa pada Tama yang sudah merusak suasana mengharu kan setelah sekian lama.

__ADS_1


''Ya, kita makan!'' sahut ayah Emil


Mereka berempat ikut makan. Dengan Annisa dan Syakir saling bergantian menyuapi sang ayah untuk makan malam. Ayah Emil tersenyum. Namun, air mata itu tetap mengalir di pipi tirus nya.


''Udah.. ayah lagi makan loh.. Mada iya msjdn nadi minumnya air mata sih?!'' gerutu Annisa pada ayah Emil yang terus beruraian air mata.


Sudah berapa kali Annisa mengusap nya. Tetap saja paruh baya itu tersedu melihat Annisa begitu menyayangi nya.


Ayah Emil tidak menyangka jika Annisa Putri kecil yang terlahir tanpa dirinya itu begitu mulia hatinya. Tama terkekeh kecil. Mereka makan bersama sambil terus menyuapi ayah Emil yang tidak berhenti menangis.


Selesai makan, mereka melanjutkan dengan sholat isya di musholla rumah sakit. Sedang Annisa tetap berada di ruangan inap ayah Emil.


Kini Annisa, Tama, dan Syakir sudah merebahkan diri di tilam tahu yang ia bawa tadi sore. ''Ishh.. Abang sana Kenapa?! Adek mau tidur sama Syakir! Awas ih!'' Tama bergeming.


Syakir terkikik geli melihat Annisa uring-uringan melihat Tama tidak mau bergeser sedikitpun. Annisa semakin kesal pada Tama. Bagaimana tidak. Sudah sekian lama tidak bertemu dengan adik kandung se ayah dengan nya itu.


Maksud hati ingin tidur dengan memeluk tubuh Syakir. Ia merindukan adik kecilnya itu. Sementara Tama tidak peduli. Ia tetap menjadi penengah bagi kedua adik kakak itu.


''Abang!! Awas ih!'' sungut Annisa lagi.


''Nggak akan!!'' Tama bersikeras. Annisa semakin kesal.

__ADS_1


''Hihihi.. Abang posesif juga ya sama Kakak??'' ucap Syakir dengan terkikik geli.


''Hem, posesif apanya! Galak iya!'' ketus Annisa semakin kesal. Ayah Emil pun ikut terkekeh.


''Sudahlah nak.. menurut pada suami mu. Dirimu sudah menjadi hak nya. Sudah sewajarnya kalau Tama melarang mu untuk tidur di dekat Syakir. Jangan kan kamu, ayah pun begitu kok. Tanya aja Syakir kalau tidak percaya!''


''Hooh betul itu!'' timpal Syakir mengiyakan.


''Cakep Yah!'' Tama pun ikut menimpali.


Annisa semakin merengut sebal. Tama dengan segera memeluk tubuh chubby Annisa. ''Sudah.. Abang sayang sama kamu. Abang nggak rela jamu di pekik Syakir terus sedari tadi! Enak aja Syakir meluk kamu terus! Lah Abang?? Ck. jangan kan peluk. Ingin lihat kamu ada dirumah saja tidak bisa! Hem?'' cebik Tama begitu kesal.


Annisa terkikik geli mendengar ucapan Tama. ''Hemmm.. ternyata! Abang posesif juga ya? hihihi...'' Annisa terkikik geli di dalam pelukan Tama. Syakir pun ikut terkikik geli.


Syakir sengaja mendekat kan dirinya pada tubuh Tama yang sedang miring memrlik tubuh Annisa. ucapan lirih Tama dan Annisa masih terdengar oleh Syakir.


Adik kandung Annisa itu masih saja terkikik ketika mendengar bisikan Tama yang begitu nakal untuk Annisa. Sedang Annisa memukul lengan serta dada Tama sebagai tanda rasa kesalnya.


Bukannya marah, Tama makan terkikik juga. Syakir tersenyum saat menyadari jika pasangan beda usia itu sudah terlelap sedari tadi.


''Semoga Kakak dan Abang bahagia selamanya.. amin..'' doa Syakir dia dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2