
Baru saja Annisa bertanya tentang adiknya, dua saudara kecilnya itu sudah berlari mendekati dirinya. ''Kakak!!!!'' pekik Algi dan Nara.
''Huaaaaa.. adik kecil ku!''
Grep!
Mereka berdua memeluk Annisa dengan erat sesekali tubuh itu ia goyang ke kiri dan ke kanan, membuat semua orang yang ada disana terkekeh-kekeh.
''Hiks.. hiks..''
Annisa terkejut. ''Loh, loh, kok nangis??'' tanya Annisa sembari mengurai pelukannya dari tubuh Kinara dan Algi.
Nara si bungsu ternyata yang menangis. Sedangkan Algi terkikik geli. Begitu juga dengan Rayyan. Annisa melototkan matanya pada dua adiknya itu.
''Kalian apakan Kinara!'' tanya Annisa dengan wajah garang nya.
Papi Gilang terkekeh-kekeh begitu juga dengan Mak Alisa. ''Kami nggak ngapa-ngapain kok, kak. Adek aja tuh yang cengeng!'' sahut Algi masih dengan cekikikan.
Ia bersembunyi di belakang tubuh Rayyan. ''Ray????'' tanya Annisa dengan mata memicing tajam.
Rayyan tertawa. ''Nggak ada kakakku yang cantik.. adek tadi kalah main ludo sama kami. Jadi ya .. gitu deh!''
''Maksudnya??''
''Maksudnya, kalau salah satu dari kita kalah main ludo berarti dia nggak boleh ketemu Kakak! begitu!'' jelas Algi membuat Annisa melototkan matanya.
Kinara semakin menangis. ''Huaaaaa... Abang jahat Kak! Adek nggak mau pulang ke rumah! Adek disini aja! Malas dirumah selalu di ejek sama Abang! hiks.. katanya hiks adek cengeng! huaaaa...'' semakin pecahlah tangis Kinara dalam pelukan Annisa.
Annisa geram dengan adik lelakinya itu. ''Kalian?! Awas ya!'' tunjuk Annisa dengan telunjuknya membuat dua laki-laki itu kicep dari tertawa nya.
Mereka berdua tau arti dari telunjuk Annisa itu apa. Terutama Algi dan Rayyan. Mereka mati kutu jika berhadapan dengan Annisa . Mata Annisa menatap tajam pada kedua adiknya itu. Rayyan melengos. Begitu pun dengan Algi.
__ADS_1
Mereka berdua lari ngacir masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Takut di serang sama kakak mereka yang super bar bar ini. Papi Gilang terkekeh. Ia mendekati Kinara dan menggendong nya.
''Ya Allah.. gadis Papi ini udah besar ya?'' goda Papi Gilang pada Kinara.
Bugh.
''Turunin! Adek nggak mau di gendong Papi!'' ketusnya pada Papi Gilang. Mak Alisa terkekeh.
"Sudah ah! Ayo kita masuk dulu ke dalam," ucap Mak Alisa pada semuanya.
Annisa mengangguk, ia tersenyum pada Papa Fabian dan Mama Linda. "Apa kabar Papa dan Mama, sehat?"
"Alhamdulillah sehat, Nak. Ayo kita masuk. Tama! Anto! Ayo masuk!"
Deg!
Senyum Annisa yang tadinya merekah kini meredup seketika ketika mendengar ucapan Papa Fabian yang tidak mengikut sertakan putri bungsunya dari istri keduanya itu.
Annisa bergeming. Tubuh itu tetap berdiri tegak di depan pintu. Sementara yang lain sudah masuk ke dalam rumah. Tinggallah Anto, Tama, Annisa dan Mitha diluar sana. Tak ada yang berbicara sepatah katapun.
Karena mereka tau, jika Annisa sudah berwajah datar seperti itu pasti akan terjadi sesuatu dirumah itu.
Sementara Mama Linda dan Fabian yang sudah masuk duluan, mereka keheranan kenapa Annisa dan Tama juga tidak ikut masuk.
Dua paruh baya itu kembali lagi keluar. Tiba di depan pintu.
Deg!
Deg!
Wajah Annisa begitu datar saat ini. Mama Linda tersentak melihat nya. Apalagi Papa Fabian. Ia yang lebih terkejut lagi melihat wajah Annisa begitu dingin terhadapnya.
__ADS_1
"Nak? Ayo masuk. Mama udah masak banyak loh. Mak Alisa pun tadi juga ikut membantu. Ayo Tama, Anto, Mitha ayo masuk." Ajak Mama Linda pada mereka berempat.
Papa Fabian diam. Pandangan matanya tidak terlepas dari Annisa. "Jika memang kehadiran Mitha disini menjadi pengganggu untuk Papa, lebih baik kami pergi dari sini! Buat apa tinggal satu rumah tapi tidak di inginkan sama sekali oleh Papa kandung sendiri! Ayo Mitha. Kita pergi!"
Deg!
Deg!
"Annisa..." lirih Mama Linda dengan bibir bergetar
Ia menatap punggung Annisa yang berlalu pergi memasuki mobil Tama dengan Tama dan Anto ikut serta bersama nya karena dipaksa tarik oleh Annisa.
"Ya Allah.. Papa... hiks.. hiks.. bisa nggak sih kamu jangan bersikap seperti itu di depan Annisa?! Kamu tau sendiri kan seperti apa Annisa?! Sekarang lihat! Putriku pergi karena ulahmu! Aku yang Mama tirinya saja menerima Mitha apa adanya! Lalu, bagiamana denganmu yang di dalam darahnya mengalir darah mu?! Kamu egois Pa!"
Deg!
Mak Alisa terkejut mendengar ucapan Mama Linda. "Loh, Mbak? Kemana-,"
"Mereka pergi Lis! Semua itu karena ulah Abang kamu yang tidak menerima putri kandungnya sendiri! Hiks. Padahal sudah aku katakan tadi, jangan buat rusuh! Tapi tetap saja! Sekarang, kamu kejar anak kamu yang sudah pergi meninggalkan rumah ini! Kamu tau kan seperti apa Annisa? Sekali ia mengatakan tidak, maka selamanya akan tidak!"
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
Papa Fabian tersentak dengan ucapan Mama Linda. Ia jatuh terduduk di lantai dengan tatapan mata lurus ke depan. Dimana mobil yang di kendarai Tama sudah menghilang di ujung jalan sana.
Papi Gilang ikut duduk berjongkok di samping Papa Fabian. "Seburuk apapun putrimu, ia tetaplah darah dagingmu. Walaupun Mitha dulu pernah melakukan kesalahan, tapi lihatlah kini. Ia berubah menjadi lebih baik. Bukan maksud aku menggurui Om disini. Tapi lihatlah putri kecilku yang dulu pernah aku selamatkan. Annisa bukan lah anak kandungku. Tapi dia menerimaku layaknya ayah kandungnya sendiri. Kenapa Om menolak Mitha yang jelas-jelas darah daging, Om sendiri??"
Deg!
Deg!
💕
__ADS_1