Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Sangat bersalah


__ADS_3

Setelah kepergian Mitha dan Anto, kini tinggalah Tian disana. ''Maaf Bang.. apa bisa aku minta maaf sekali lagi pada Annisa??'' tanya Tian yang masih berada dirumah Tama.


Tian tidak mau pergi sebelum bisa bertemu dengan Annisa sekali lagi untuk minta maaf atas kesalahan nya tadi. ''Tidak perlu Tian. Pulanglah. Saya pun harus istirahat!'' tolak Tama karena sangat tau seperti apa Annisa.


''Tapi saya merasa sangat bersalah Bang.. tak enak saya sama Annisa. Saya pikir tadi Annisa tidak keberatan jika saya goda seperti itu. Tidak taunya ia masihlah marah gara-gara hal di pantai tadi. Maafkan saya bang...'' pinta tahun lagi pada Tama.


Tama menghela nafasnya, ''Sudahlah Tian. Tidak perlu kamu merasa bersalah padanya. Annisa memang seperti itu jika sedang tidak enak hati dan pikirannya. Tapi kalau nanti ia sudah baikan, kamu bisa berbicara kepada nya. Tapi tidak sekarang. Pulanglah Tian...'' lirih Tama tidak bersemangat.


Tian akhirnya pasrah. Ia merasa sangat bersalah kepada sang istri. Semua itu atas andilnya juga. ''Hah.. maafkan Abang sayang.. terpaksa deh .. malam ini jadi dah aku tinggal tidur sendiri?? Ck. Kenapa pula tadi aku ikut-ikutan buat Annisa kesal seperti itu??'' kesal Tama pada diri sendiri.


Ingin masuk kamar pun Annisa bakalan tidak ada disana. Ia lebih memilih duduk di luar seorang diri sambil menonton tivi untuk menghilangkan rasa sepi di hati dan pikiran nya saat ini.


Satu ruang tapi tidak bersua sampai esok hari. Annisa sedang merajuk karena ulahnya. ''Maafkan Abang sayang...'' lirih Tama pada diri sendiri.


Ia berulang kali merutuki dirinya yang saat itu ikut andil dalam menggoda Annisa yang sedang kesal Karena Masalah tadi siang. Tama duduk seorang diri diluar kamar mereka.


Sedang sang ratu sudah tidur dan terlelap terlebih dahulu sedari tadi. Melihat jam sudah menunjukkan angka dua belas malam, Tama melangkah gontai masuk ke kamarnya yang diyakini malam ini Annisa tidur diluar seorang diri. Yaitu di kamar sebelah.


Tama membuka pintu kamar nya.

__ADS_1


Ceklek!


Gelap.


Itulah yang terlihat. Hanya lampu remang-remang dari lampu tidur di kepala ranjang miliknya. Tama melangkah gontai masuk ke kamar mandi untuk mencuci kaki, gosok gigi dan ganti baju dengan sarung yang sudah tersedia di ranjangnya.


Walau dalam keadaan remang, Tama tetap bisa melihat jika di dalam kamar itu tidak ada Annisa di sana. Tama menghela nafasnya lagi. Ia memakai kain sarung dan baju kaos berwarna putih miliknya yang sering ia pakai kalau sedang tidur malam. Terkecuali sedang panas, Tama tidak memakai baju hanya sarung saja.


Tama tidak melihat kemana lagi. Karena matanya begitu mengantuk saat ini. Ia naik ke ranjang dan masuk ke dalam selimut hangatnya.


Mata itu terpejam lambat laun. Tapi ada yang aneh. Kenapa tubuhnya terasa berat dan seperti ada seseorang yang sedang memeluknya saat ini.


Mereka berdua terlelap dalam balutan selimut hangat bersama. Tama tidak sadar jika sang istri pun ikut tidur bersama nya. Tama terlelap karena merasakan kehangatan di tubuhnya.


''Hemmm... jangan tinggalkan Abang lagi sayang...'' lirih Tama semakin erat memeluk tubuh chubby Annisa.


Annisa tersenyum, ''Nggak akan! Walau dunia ini meminta ku untuk berpisah dari Abang, adek tidak pernah mau. Selama nya hanya Abang. Kalaupun suatu saat nanti adek pergi, adek tetap milik Abang. Adek pergi untuk mencari jati diri. Bukan untuk pergi meninggalkan mu Bang Tama...'' lirih Annisa dengan mata terpejam.


Tama tersenyum, ia seakan merasakan jika Annisa lah yang sedang memeluknya.

__ADS_1


Keesokan paginya.


Annisa bangun saat suara adzan subuh berkumandang syahdu di seluruh alam. Ia bangun dan terduduk. Terlihat Tama begitu lelap dalam tidurnya. Annisa tersenyum. Ia menggelung rambut panjang nya yang terlepas dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu.


Mendengar suara gemericik air di kamar mandi, Tama terbangun. Ia mengerjabkan matanya saat menyamakan sinar dari cahaya lampu yang Annisa hidupkan baru saja.


''Sayang??'' panggil Tama dengan suara serak khas bangun tidur nya.


Annisa yang baru saja siap mandi dan masih memakai handuk putih pun menyahut. ''Iya. Abang mandi lah. Udah subuh. Bangun dan mandi lalu kita sholat bersama. Adek harus pulang kerumah Mak hari ini. Ingin ketemu Kinara. Katanya semalam Kinara ingin ajak adek ke rumah ayah Emil. Ayah Emil dan Bunda mengundang kita karena Bella sedang ulang tahun. Abang bisa??'' tanya Annisa sembari memakai baju gamisnya.


Tama terdiam. Ia masih belum loading. ''Bang Tama!'' panggil Annisa membuat Tama terkejut.


''Hah? iya Abang bersiap! Tunggu! Cuma lima belas menit saja!'' katanya pada Annisa.


Ia berlari masuk ke kamar mandi dengan segera. Hampir saja tersungkur jika tidak berpegangan di pintu. Annisa tertawa. ''Hati-hati Abang!''


Tama terkejut namun, ia terkekeh. ''Hehehe.. Abang kirain tadi mimpi ketemu kamu. Eh, tak taunya beneran! Lima belas menit! Tunggu Abang!''


''Iya!'' sahut Annisa sambil tertawa renyah melihat tingkah Tama. Ia pun bersiap sambil menunggu Tama Yang masih mandi.

__ADS_1


__ADS_2