Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Pergi untuk kembali


__ADS_3

Annisa berjalan perlahan untuk turun ke bawah. Sebelum menutup pintu kamar itu, ia melirik lagi kamarnya. Kamar pengantin nya bersama sang suami tercinta.


Annisa tersedu lagi. Ia menunduk untuk menahan rasa sakitnya. Ia menatap kembali untuk yang terakhir kalinya kamar pengantin mereka.


''Abang.. semoga Abang sanggup menunggu ku jika Abang ingin kembali denganku. Tetapi jika tidak, aku menerima keputusan mu. Untuk sekarang, aku ingin menyendiri. Untuk menenangkan hatiku dari rasa sakit yang kau torehkan pada hari ini.


Aku pergi untuk kembali. Seperti yang pernah dulu aku katakan padamu. Aku harap kamu mengerti tentang hatiku. Aku harus pergi bang Tama. Aku pergi karena sekolahku sudah menunggu ku. Aku pergi untuk menuntut ilmu.


Aku pergi untuk memantaskan diriku. Semoga kamu mengerti bang Tama. Semoga kamu bahagia nantinya setelah kepergian ku. Aku sangat mencintai mu bang Tama. Sangat mencintai mu. Tetapi aku harus pergi. Aku harus pergi untuk memantaskan diriku agar layak bersanding denganmu. Suamiku.. aku pergi..'' lirih Annisa dengan dada yang begitu sesak.


Annisa berjalan dengan gontai menuruni satu persatu anak tangga. Ia melirik sekitar untuk merekam memori rumah impian nya dan Tama.


Setiap sisi rumah itu Annisa pandangi hingga puas. Agar semua kenangan dirumah itu bisa ia ingat nantinya.


Annisa tersenyum miris mengingat jika semua itu kenangan yang mungkin tidak akan bisa ia dapatkan lagi setelah ini.


Dirasa cukup, Annisa keluar dari rumah itu dan menguncinya kembali. Kunci rumah itu Annisa letakkan dibawah pot bunga mawar berwarna pink miliknya.


Setelah nya ia memandangi rumah Anto dan Mitha yang tertutup rapat. Annisa bisa menebak jika Mitha saat ini pasti sedang ke showroom. Untuk mengantar makan malam untuk Anto.


Lagi, dada itu begitu sesak. Ia kembali menoleh ke depan dimana taksi online pesanan nya sudah tiba.

__ADS_1


Annisa berjalan sambil menyeret kedua kakinya yang begitu berat menuju taksi online itu. Tiba di depan taksi itu, dengan segera koper Annisa di ambil alih oleh supir dan segera ia masukkan ke bagasi.


Pintu mobil sudah terbuka. Tetapi sebelum masuk, ia menatap lagi rumah nya dan sang suami.


Lagi, air mata itu jatuh bercucuran. Annisa tersedu lagi. Sakit sekali rasanya mengingat Tama. Ia masuk ke mobil setelah dirasa cukup melihat rumah nya dan Tama itu.


Annisa menuju ke bandara sore itu juga. Saat ini sudah pukul lima sore. Sebentar lagi malam.


Annisa akan bermalam di bandara saja. Ia ingin sendirian saat ini. Jika berbicara pada Tama, pasti akan menimbulkan masalah baru nantinya.


Lagipun Annisa belum siap menemui Tama karena kenyataan pahit yang baru saja ia lihat siang ini. Annisa belum sanggup mendapati kenyataan jika apa yang ia lihat itu memang benar adanya.


Tubuh chubby itu terus berguncang sedari tadi. Sepanjang perjalanan hanya di isi dengan Isak tangis Annisa. Ia tidak tau harus berbuat apa saat ini.


Tempat dimana ia akan menuntut ilmu untuk lima tahun ke depan. Mungkin akan sangat menyakitkan tanpa kehadiran Tama di sisinya. Tapi inilah keputusan nya.


Keputusan yang sudah ia ambil sejak melihat kenyataan pahit siang tadi yang membuat hatinya begitu terluka.


Sementara Mitha yang baru saja tiba di showroom kebingungan melihat showroom sedikit ramai. Ia bisa menebak, pasti terjadi sesuatu disana.


''Abang!'' panggilnya pada Anto.

__ADS_1


Anto menoleh dan berlari mendekati Mitha. ''Kebetulan sekali kamu disini. Sekarang, kamu jemput kakak ipar yang saat ini masih berada disekolah nya. Bang Tama tidak bisa menjemput nya. Terjadi sesuatu padanya tadi. Makanya disini sangat ramai. Pergilah! Abang membutuhkan kakak ipar saat ini! Cepat Mitha!''


Deg!


Deg!


Mitha terkejut. Ia menatap raut wajah panik pada Anto yang begitu jelas terlihat di wajah tampan nya.


Tanpa berkata sepatah katapun, Mitha segera mengambil kunci mobilnya dan menuju pesantren Annisa yang berjarak dua jam lebih dari showroom Abang nya.


Mitha ingin bertanya, tetapi tidak jadi. Karena melihat raut wajah panik dari sang suami yang begitu jelas terlihat. Anto ingin pergi menyusul Annisa, tetapi showroom tidak ada yang bisa menunggu nya.


Karena Tama saat ini sedang dalam masalah. Ia tidak mungkin pergi begitu saja sementara Tama sudah menyerahkan showroom padanya sebelum ia tadi masuk ke kamar.


Mitha melajukan mobil itu dengan sedikit kencang hingga cukup satu jam lebih empat puluh lima menit, Mitha tiba di pesantren yang sudah sepi dengan para siswi nya itu.


Mitha tertegun mendapati pintu pagar itu sudah di gembok. Ia panik. Tidak tau harus berbuat apa.


Mitha menghubungi Anto dan menyampaikan kabar itu. Anto seperti disambar petir secara tiba-tiba mendengar ucapan Mitha bahwa sudah tidak ada orang lagi di sekolah Annisa saat ini.


Mitha terduduk lemas di tanah. Ia tersedu memikirkan Annisa yang tadi pulang dalam keadaan menangis. Anto baru saja menceritakan hal itu pada Mitha.

__ADS_1


Membuat adik kandung se ayah dengan Tama itu shock bukan main dengan kenyataan yang baru saja ia dengar tentang Abang kandung nya.


Dan kini? Annisa pergi. Pergi entah kemana. Pergi meninggalkan Tama dalam masalah besar dan hanya Annisa yang bisa menyelesaikan nya.


__ADS_2