Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Sudah pasti


__ADS_3

''Hueeekkk... eerrrgghh hueekk.. hueekkk..'' suara muntahan Tama hingga terdengar keluar.


Mak Alisa dan Kak Ira berdiri di belakang nya dan memijat tengkuk nya. ''Mak... Abang nggak ku- eerrrgghh hueeeekk... hueeeekk... hueeeekk.. hueeeekk...''


Brruukkk..


''Tama!!''


''Abang!!'' pekik Mak Alisa dan kak Ira bersamaan.


Ragata yang berdiri di pintu pun masuk. ''Ayo Bang! Cuci dulu sayang mulut Abang,'' Kak Ira mengangguk.


Dengan segera kak Ira mengelap mulut Tama. Mata Tama terpejam erat. Kepalanya pusing sekali. Perutnya seperti di aduk-aduk saat ini. Entah kenapa, Tama sangat menginginkan manisan mangga lagi. Sama seperti yang pernah dibuat oleh bunda zizi dulu.


''Ayo Bang!'' ajak Ragata pada Tama. Ragata mengalungkan tangannya Tama ke leher nya dan segera memapah Tama menuju ranjang.


Tiba disana, Tama dibaringkan oleh Ragata. Mata itu tetap terpejam. Mama Linda yang khawatir, segera mendekatinya.


''Nak? Tama? Kamu kenapa? Kok bisa muntah gitu?'' tanya Mama Linda pada Tama. Tangan keriput itu mengelus lembut kepala Tama.


Tama terdiam. Matanya sungguh berat untuk terbuka. Sangat mengantuk. ''Absng ngantuk Ma. Tapi Abang lapar.. ingin makan ayam panggang bumbu rujak!''


''Hah??'' Semua yang mendengar nya melongo.


Tetapi tidak dengan Papi Gilang dan Ragata. Kedua orang itu kompak terkekeh. Bunda zizi pun ikut Terkekeh.

__ADS_1


''Bagaimana baklau kamu akan manisan mangga punya Bunda, mau??'' tawar Bunda Zizi pada Tama.


Sontak saja Mata yang terpejam itu terbuka lebar. ''Bunda bawa kah?? Mana? Abang mau itu! Bawa sini Dek!'' pintanya pada Syakir.


Semua yang melihat nya keheranan. Tetapi tidak dengan Mitha. Entah kenapa ia sangat ingin makan manisan itu. Ia menelan salivanya getir.


Ia mendekati bunda Zizi dan mengulurkan mangkuk manisan itu. ''Abang?'' panggilnya pada Tama.


''Apa? Bawa kesini manisan itu. Babah ingin sekali manisan mangga itu. Kamu mau?'' tanya nya pada Mitha membuat sang adik menatapnya dengan berbinar.


''Msu, mau, adek mau! Ayo kita makan!'' katanya pada Tama.


Ragata dan Papi Gilang tertawa melihat kedua orang itu. Mak Alisa dan Ira mendekati kedua orang itu. Ragata berbisik di telinga Ira, membuat Ira menutup mulutnya.


Raga mengangguk, ''Abi yakin sayang. Ingat dulu kayak apa Abi pingsan dan juga mual-mual kayak bang Tama ini? Dan bangun-bangun sudah ingin makan masakan kamu?'' Ucapnya dengan lirih di telinga Ira.


Ira mengangguk dan tertawa kecil. ''Sudah pasti ini! Abi yakin itu!'' ucap Raga begitu yakin akan perkiraan nya.


Mama Linda menatap ngilu kepada kedua anaknya saat melihat mereka berdua menahan Manisa mangga yang menurut Mama Linda begitu asam saat di gigit. Karena baru saja dibuat oleh Bunda Zizi tadi malam.


Mereka makan dengan lahap, Tama menoleh pada Mitha. ''Bustksn Abang ikan panggang dengan bumbu rujak, Dek! Sekarang!'' titah Tama pada Mitha.


Mitha yang sedang mengunyah manisan mangga itu pun menatap Tama dan mengangguk. ''Tentu, tapi untuk makan malam Abang ya?'' Tama mengangguk.


''Bunda sama Mak ikut Mitha kerumah ya? Kak Ira juga! Aku butuh bantuan kalian! Mama buat disini temani Abang.'' Katanya pada ketiga orang itu.

__ADS_1


''Tentu, Nak. Ayo segera kita pulang. Lebih cepat lebih baik!'' jawab Mak Alisa dengan segera mengambil tas dan berlalu dari ruang rawat Tama.


Di susul kak Ira dan Raga. ''Adek boleh ikut nggak?'' tanya Syakir pada Tama.


''Enggak! Kamu dan kedua adikmu, temani Abang disini! Nanti bang minta tolong sama siapa? Papi akan pulang untuk cari ikan sama Mak?'' jawab Tama dengan tegas membaut Syakir yang ingin berbicara terkatup lagi.


Mama Linda dan Papa Fabian terkekeh, ''Ya sudah. Temani saja Abang kamu disini Nak? Tak apa kan ya?''


Syakir menggeleng dan tersenyum, ''Nggak Mama. Abang disini aja kok. Tapi.. Abang lapar. Belum makan sedari pulang sekolah. Baru aja keluar dari gerbang udah langsung dibawa kemari. Lihat aja nih baju Abang? seragam sekolah kan ya?''


Tama terkekeh, ''Ya sudah. Bawa dompet Abang kemari!'' katanya pada Syakir


Syakir mengambil dompet yang di tujukan Tama. ''Belikan nasi di kantin sana. Abang pun masih lapar. Ayo, belikan sekarang!''


''Tentu!'' sahut Syakir dengan mengambil uang dari Tama dua lembar berwarna merah.


Dengan cepat ia melesat pergi keluar menuju kantin rumah sakit. Syakir membeli banyak makanan. Karena ia sangat lapar. Begitu juga dengan Tama.


Syakir menghabiskan dua lembar uang Tama. Setelah selesai, ia pun kembali ke ruangan Tama bertepatan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


Mata Tama berbinar kala melihat makanan yang Syakir bawa. Entah kenapa ia sangat ingin makan.


Mama Linda dan Papa Fabian tertawa melihat tingkah Syakir dan Tama yang saling berebutan. Bella dan Arta pun ikut tertawa.


Maaf ye telat! 😁

__ADS_1


__ADS_2