
''Sudah sayang.. jaga emosi kamu. Tidak baik terus berbicara seperti ini. Saat ini kita sedang ada acara. Sebaiknya ayah istirahat. Bunda??'' panggil Tama pada Bunda Zizi yang saat ini sedang berdiri terpaku di tempatnya karena mendengar ucapan Annisa baru saja.
''Biarkan Abang! Biarkan mereka tau seperti apa ayahku selama ini. Mereka semua selalu menghina dan merendahkan ayah ku. Apa salah ayah Emil, Bang? Kenapa mereka tega selalu merendahkan ayahku yang sudah tua ini? Hiks .. apa salahnya jika kami ini orang miskin?? Apa kah kami miskin begitu mengusik hidup kalian?? Kenapa kalian selalu merendahkan nya?! Tidakkah kalian tau, kalau hati ini sangat sakit Kala melihat orang tua ini selalu kalian rendahkan?! Kalian selalu menghina nya! Selalu di rendahkan! Tapi kalian juga menikmati hasil keringatnya selama ini bukan?? Kenapa?? Hiks.. kenapa kalian tega?! Kenapa kalian tega terhadap ayahku??''
Mak Alisa tersedu. Ia berusaha bangkit dan mendekati putri bungsunya bersama ayah Emil. ''Apa salah nya huh?! Apa salah ayahku? Apakah selama ia hidup bersama bunda Zizi pernah meminta uang pada kalian??? Pernahkan bunda Zizi meminta makan sama kalian?? Apakah selama ayahku miskin, pria tua ini ada meminta harta kalian? Huh?? Hiks.. hiks..'' Isak Annisa begitu lirih ditelinga semua orang.
''Hiks.. kalian kejam! Kalian selalu merendahkan ayahku! Apa salahnya pada kalian semua?! Kalau kalian tau dulu ayahku ini orang susah, kenapa kalian mau menikah kan Bunda Zizi dengan nya?? Kenapa baru sekarang kalian mengungkit nya? Disaat dirinya tidak bisa memberikan uang lagi untuk kalian, kalian semua menghinanya! Kalian selalu merendahkan nya!'' Seru Annisa dengan suara lantang nya.
''Sssssttt... sabar sayang...'' bisik Tama di telinga Annisa. Annisa semakin tersedu. Sakit sekali hatinya saat menyadari Jika ayahnya selalu direndahkan oleh keluarga Bunda zizi.
Jika dulu bisa ia tangani dengan mudah karena campur tangan bunda Zizi. Tapi kali ini, Bunda Zizi terdiam membeku di ujung dinding sana. Ia menatap nanar pada putri tirinya itu.
''Maafkan kesalahan kami dulu yang pernah membuat keluarga kamu terluka Zi. Aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan keluarga kalian. Tapi apa yang Annisa katakan benar adanya. Aku tau semuanya. Bagaimana Keluarga kalian menghina ayah dari anakku sampai kalian merenggut semua harta yang seharusnya menjadi milik kalian? Apakah kalian sudah mengganti kan nya?? Apakah uang yang kalian ambil selama ini sudah di kembalika oleh keluarga kalian yang penipu itu??''
__ADS_1
Deg!
Deg!
Uwak Nita terkesiap mendengar ucapan Mak Alisa. Ia pikir, Mak Alisa tidak tau menau dengan hal itu. Nyata nya ia salah. ''Aku tau semuanya. Aku tau tentang kalian yang selalu menghina dan merendahkan ayah dari anakku! Setiap ada pertemuan keluarga kalian selalu mengucilkan nya! Termasuk kamu Andi!''
Deg!
Deg!
Deg!
Lagi, Uwak Andi semakin terkejut mendengar ucapan Mak Alisa. ''Aku tidak menyangka, kamu bisa berubah secepat ini setelah kamu kaya raya Andi! Seharusnya dulu, aku tidak menikahkan mu dengan sahabat hingga sahabat ku pun sama bersifat sepertimu!''
__ADS_1
''Lis...'' lirih Uwak Ema dengan mata berkaca-kaca.
''Jika harta yang menjadi tumpuan kalian, sebaiknya kamu lepaskan bang Emil Zi! Lebih baik ia hidup bersama putrinya daripada hidup dengan mu tetapi selalu terluka karena kelakuan keluarga mu!''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr..
''Mbak... nggak gitu...'' lirih bunda Zizi sembari mendekati Mak Alisa yang kini duduk dihadapan ayah Emil yang sedang tersedu karena ucapannya.
''Lalu bagaimana Zi?? Haruskah suami tua kamu ini selalu di hina dan direndahkan seperti ini oleh keluarga kaya mu??''
''Mbak...''
''Cukup Zi. Lebih baik kamu lepaskan bang Emil. Hiduplah dengan kehidupan mu masing-masing. Kamu hidup dengan keluarga mu. Dan bang Emil akan hidup dengan putrinya. Annisa akan mengurus bang Emil nantinya!''
__ADS_1
''Mbak...'' lirih bunda Zizi dengan air mata terus bercucuran.
''Cukup Zi. Aku tidak rela melihat ayah dari putriku selalu Kalian hina dan rendahkan seperti ini. Aku memang orang lain untuknya sekarang. Tapi aku melakukan ini demi putriku! Demi kemanusiaan! Lebih baik kamu lepaskan! Dari pada kamu dan keluarga semakin menambah dosa untuknya! yang selalu sakit hati karena perlakuan kalian semua!''