Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kasih sayang yang tulus


__ADS_3

''Sudah.. jangan menangis lagi. Lihat kedua anak kita? Bella mana?? Astaghfirullah! Bella sayang!'' seru ayah Emil saat mengingat Bella.


Bunda Zizi pun terkejut. ''Astaghfirullah ya Allah! Adek!!!'' pekiknya begitu terkejut karena ucapan ayah Emil.


Bunda Zizi berlari tergopoh-gopoh mencari Bella hingga ke dalam rumah. Sementara diluar tidak terlihat Tama, Syakir dan Arta lagi. Mereka menghilang. Bahkan piring bekas makan mereka pun sudah tidak ada lagi disana.


Bunda Zizi panik bukan main. Ia berlari menuju keluar.


Deg!


Kaki bunda Zizi mematung di tempat saat melihat Tama sedang menggendong anak bungsunya itu dengan sayang. Bunda Zizi tersenyum saat melihat Bella sedang tertawa-tawa bersama Tama dan Syakir. Sedang Arta sibuk dengan mainan yoyo nya.


''Dek??'' panggil ayah Emil sembari menepuk lembut bahu bunda Zizi.


''Eh, iya Bang! Hehehe.. itu adek disana. Sama Tama dan Syakir. Arta pun ada disana.'' Ucapnya sambil tersenyum melihat anaknya sedang tertawa bersama Tama. Sang Abang ipar.


Ayah Emil pun ikut tersenyum. ''Abang tidak salah menikahkan Annisa dengan Tama. Tama itu pemuda yang tulus dalam hal kasih sayang. Tidak neko-neko. Masih teringat dulu, ketika Mbak mu melahirkan, Tama lah yang menungguinya di rumah sakit. Abang sempat menyesal dulu nya. Kenapa Abang begitu terperdaya dengan omongan almarhumah dulunya. Semua ini hanya salah paham. Abang sangat menyesal sayang. Ternyata.. pertemuan Abang Mama nya Tama itu memang sudah di takdir kan untuk kehidupan masa depan Annisa. Annisa beruntung memilki suami seperti Tama. Ya.. walaupun benar sih seperti kata sepupu kamu tadi. Kalau Tama itu sudah tua!''


Plaak..


Ayah Emil tertawa. Suara tawa ayah Emil hingga mengalihkan perhatian ke empat orang yang ada diluar sana yang sedang bermain.

__ADS_1


''Mak!!'' panggil Bella


Tama tersenyum melihat kedua orang tuanya itu. Ia melepaskan tubuh Bella untuk segera mendekati Bunda Zizi. Tama pun mengikutinya dari belakang.


''Kalau bunda sama ayah udah mendingan, Abang mau pamit pulang. Abang mau nyiapin acara pernikahan Mitha yang tinggal dua bulan lagi. Nanti akan Abang kirimkan mobil untuk menyusul ayah dan bunda kesini.'' Imbuh Tama dengan tersenyum manis.


''Oh ya? Kapan itu Acara nya?'' tanya ayah Emil


Tama terkekeh kecil. ''Dua bulan lagi Yah. Acaranya ketika adek libur dari sekolah. Cuti ambil rapot selama dua Minggu. Itu keinginan Mitha. Heran saja dengan adikku itu. Sekali mengenal Annisa ia langsung saja menyukai kakak ipar kecilnya itu.'' Tama terkekeh saat mengenang kelakuan Mitha dulunya pada Annisa.


Bunda Zizi pun ikut tertawa. ''Ya sudah. Jangan lupa kabari kami kalau sudah waktunya. Hati-hati di jalan ya?'' kata bunda Zizi saat Tama mengulurkan tangannya untuk menyalimi kedua tangan paruh baya itu.


''Tentu Bunda. Yah, Abang pamit. Assalamualaikum...''


Sementara Syakir dan Arta sudah nangkring duluan di dalam mobil milik Tama. ''Da da.. Mak..'' ucap Syakir melambaikan tangannya pada bunda Zizi.


Ayah Emil tertawa. Bunda Zizi melototkan matanya. ''Heh! Dasar bocah usil! Keluar kamu! Abang kamu mau pulang itu!'' seru bunda Zizi seraya mendekati pintu mobil Tama dan ingin membukanya.


Tama tertawa. ''Sudah lah Bunda. Nanti Abang turunkan di persimpangan jalan. Lagian Syakir dan Arta Kan harus mengaji sore ini?''


''Iya sih.. tapi ..''

__ADS_1


''Tak apa Bunda. Nanti Abang antarkan ke tempat mengaji mereka berdua. Abang pamit.''


''Ya, hati-hati di jalan! Salam untuk Mitha ya?''


''Ya,'' jawab Tama.


Mobil Alphard milik Tama menghilang dibalik tikungan jalan. Bunda Zizi terkekeh geli melihat tingkah laku kedua anaknya itu. Sungguh perusuh nomor satu kedua adik Annisa itu.


''Sudah??''


''Apanya yang sudah? Anak kamu Bang! Suka banget rusuhin Tama mulai dari pertama kali bertemu hingga saat ini. Ck. Dasar biang rusuh!'' begitu Bunda Zizi dengan cepat kaki jenjangnya masuk ke dalam rumah dimana Bella sudah menunggu mereka disana.


Ia sedang sibuk menonton film si botak tuyul kembar itu. Ayah Emil terkekeh kecil melihat tingkah putri kecilnya itu bersama Bunda Zizi.


Sementara di dalam mobil Tama, Syakir dan Arta membuat ulah hingga Tama terpingkal-pingkal tertawa karena lelucon yang dibuatnya.


Syakir benar-benar mengocok perut Tama hingga Tama terpaksa turun di tempat mengaji Syakir dan meminta izin untuk buang air kecil.


Setelahnya ia segera berlalu pulang dan menuju bengkel miliknya.


Sore harinya Syakir dan Arta pulang mengaji langsung saja menceritakan perihal Tama yang sampai terkencing di celana gegara lelucon Syakir dan Arta. Ayah Emil dan Bunda Zizi pun ikut tertawa terbahak karena lelucon Syakir itu.

__ADS_1


Inilah yang di inginkan ayah Emil. Walau hidup sederhana tapi mereka saling menyayangi dengan tulus. Sama seperti yang Annisa katakan padanya sebulan yang lalu sebulan sebelum ia pulang ke pesantren tempat dimana Annisa menuntut ilmu.


''Ayah sangat menyayangi mu, Nak.. Terimakasih karena masih menerima ayah yang kejam dan hina seperti ayah ini. Kamu benar, kasih sayang yang tulus bisa meluluhkan segala nya. Terimakasih putri ayah...''


__ADS_2