
Entah apa yang ayah Emil bisikkan pada Tama hingga Tama terkekeh sampai menggeleng kan kepalanya.
''Masyaallah cantiknya aaa.. sedari dulu hingga sekarang tetap saja ya istri Nak Tama ini memang cantik! Tapi ini.. terlihat lebih dewasa ya ketimbang satu tahun yang lalu??''
Tama menoleh pada Annisa.
Deg, deg, deg...
Jantung keduanya berdetak tak karuan. Mereka berdua saling pandang dengan wajah saling terpana akan diri masing-masing. Lama mereka saling menyapa hingga pak penghulu memutuskan tatapan mata sepasang anak manusia yang saling bertatapan penuh kekaguman itu.
Pak penghulu Terkekeh kala melihat sepasang suami istri itu saling bertatapan penuh cinta.
''Sudah ah! Tatapan nya! Pakaikan dulu mahar nya nak Tama! Ayo nak Annisa. Duduk di sebelah Tama.''
Annisa menurut. Ia segera di tuntun oleh Mak Alisa untuk duduk di sebelah Tama yang saat ini masih menatap nya dengan tersenyum lembut pada Annisa.
__ADS_1
''Silahkan nak Tama.''
''Baik,'' jawab Tama
Dengan segera suami Annisa itu berbalik dan menghadap Annisa yang saat ini duduk di sebelah kirinya. Ia mendekati wajah Annisa dan meletakkan satu tangannya di ubun-ubun Annisa. Dan berdoa,
''Allahumma ini as'aluka min khoirihaa wa khoirihaa jabaltahaa 'alaih. Waa'udzubika min syarrima wa jabaltahaa 'alaih.''
Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.
Cup!
Kecupan pertama setelah sekian lama mereka berpisah. Annisa memejamkan matanya saat kecupan lembut Tama di dahinya.
Ia terharu. Setetes bulir bening mengalir di pipinya. Tama melepaskan kecupan itu karena dirasa sudah cukup.
__ADS_1
Tama tersenyum, ia mengusap lembut air mata yang menetes di pipi Annisa yang menangis tanpa suara.
''Pakaikan nak. Ini mahar kamu untuk Annisa dulu, mahar yang sama yang pernah kamu berikan untuknya dan Annisa kembalikan pada mu saat ia pergi dari hotel ini dan pulang ke pesantren tanpa sepengetahuan Mama..'' lirih Mama Linda, membuat Annisa semakin tersedu.
Tama terdiam. Masih teringat olehnya saat ia menemukan sepucuk surat dari Annisa beserta mahar pemberian nya dulu saat mereka menikah. Sebelum ia tau kalau Annisa memilih pergi darinya karena dirinya.
Tama menatap Annisa yang kini juga menatapnya dengan raut wajah sendu dan merasa bersalah. Tama tersenyum, ''Jangan menangis. Sekarang Abang kembalikan mahar ini padamu. Mahar yang memang seharusnya menjadi milikmu. Bukan wanita lain.. kamu Yang Abang inginkan. Maaf.. jika dulu Abang sempat membuatmu kecewa..'' lirih Tama sembari memasangkan cincin, gelang dan terakhir kalung berliontin berlian di leher Annisa yang tertutup hijab. Tama tersenyum padanya.
Annisa mengangguk, ia tersenyum lembut pada Tama. ''Tak apa Bang.. bukankah sudah adek bilang dulu. Kalau memang mahar ini milikku maka akan kembali padaku. Namun, jika tidak. Maka mahar ini bukanlah milikku. Sengaja aku kembalikan pada Abang dulu, karena memang pernikahan kita waktu itu karena terpaksa. Dan sekarang? Kita tidak terpaksa melakukan pernikahan ini. Adek ikhlas menerima pernikahan ini. Insya Allah..'' sahut Annisa begitu syahdu hingga semua yang ada disana terharu mendengar ucapan tulus dari seorang Annisa.
''Terimakasih sayang.. kamu masih mau menerima pria tua ini!'' celutuk Tama membuat Annisa tergelak. ''Bukan tua Abang! Tapi pria dewasa cukup matang! Apa salahnya dengan itu? Kamu tetap lelaki kan Bang??'' kelakar Annisa
Hingga membuat semua yang ada disana tertawa mendengar ucapan Annisa. Semua tamu pun ikut tertawa bersama mendengar ucapan mereka yang sengaja sengaja Papi Gilang lakukan. Agar suara lirih sang pengantin itu bisa terdengar oleh seluruh tamu dan para pejalan kaki diluar sana.
Tidak hanya didalam tapi juga diluar sana. Semua orang tertawa mendengar ucapan Annisa.
__ADS_1