
''Jika ustadzah ingin membandingkan diriku denganmu, maka anda salah besar ustadzah! Saya, Annisa dan Adrian Pratama adalah mahram yang sah di mata agama! Jadi tidak ada yang berhak melarang kami untuk melakukan apapun yang kami sukai! Termasuk seperti yang anda lihat tadi saat kami berdua berada di dapur!''
Deg!
Deg!
Ustadzah Azura terkejut. Tubuhnya menegang seketika. Ia menatap Annisa yang sedang menatap nya dengan datar. Ustadzah Azura beralih menatap Tama.
Tama juga sama, ia menatapnya dengan tatapan datar. Sangat menusuk hati ustadzah Azura. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Kedua tagan itu saling bertautan saking eratnya ia mengepal. Wajah nya memerah seketika saat Tama mengecup pipi Annisa di hadapannya.
''Dengar Azura! Jangan membandingkan dirimu dengan Annisa Ku! Ia lebih baik darimu. Kenapa jika dia tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah? Apa salahnya? Aku menginginkan nya untuk menjadi istriku! Bukan pembantuku! Jangan sekali-kali kamu merendahkan dan menghina Annisa di depanku! Kamu tidak tau apapun tentang kami berdua Azura!''
''Jauh sebelum kita bertemu, Aku sudah lebih dulu bersamanya. Bahkan saat ia dalam kandungan Mak kami aku juga yang menemaninya! Bahkan saat ia lahir pun, aku juga yang mengadzani nya! Aku! Mengenalmu saat kamu baru pindah ke sekolah itu kelas dua SMP. Sedangkan dengan nya? Aku sudah bertemu dan tinggal bersama Mak kami saat aku berusia lima tahun! Sekarang aku tanya, mana yang lebih dulu mengenal. Aku dengan mu? Atau aku dengan Annisa Ku??'' ucap Tama pada ustadzah Azura.
Ustadzah Azura menatap kesal pada Tama dan juga Annisa. ''Pulanglah Azura! Aku tidak ingin mengasari seorang perempuan. Kamu sama seperti Mama ku, Mak kami, dan Annisa. Kalian berdua itu perempuan. Tolong mengerti posisiku! Aku ingin tenang selama tinggal dirumah ku? Tidak bisakah kamu jangan mengganggu kebersamaan ku dengan Annisa, Azura??''
Ustadzah Azura menatap datar pada Tama. Annisa berdiri dan berlalu meninggalkan mereka karena melihat seorang kurir sudah datang membawa pesanannya.
''Terimakasih Pak! Sudah saya transfer ya?'' kata Annisa saat kurir pengantar itu sudahmeletakkan semua barang pesanan Annisa.
''Iya Neng.. Terimakasih karena sudah memberikan lebih dari yang seharusnya. Membuat toko bapak menjadi ramai Neng! Terimakasih! Katakan pada Den Tama, bapak menunggunya di showroom.'' Kata Bapak-bapak kurir pengantar pesanan Annisa tadi.
Annisa tersenyum, ''Bapak duluan saja ya? Kami sedang ada tamu. Setengah jam lagi, Abang akan datang kesana. Sekali lagi, terimakasih Pak?''
''Sama-sama Neng.. bapak permisi..''
__ADS_1
''Ya..'' sahut Annisa.
Setelah melihat Bapak-bapak kurir iu berlalu, Annisa pun ikut berlalu dengan membawa semua belanjaan nya itu dengan sedikit tertatih. Karena nyeri di lututnya masih terasa. Tama yang melihat Annisa kepayahan, segera bangkit dan menyusulnya ke depan.
Ia mengangkat semua belanjaan itu dan memberikan nya pada Annisa di dapur. Annisa tersenyum. ''Terimakasih Bang!''
''Sama-sama sayang! Ada pesan untuk Abang?'' tanya Tama pada Annisa.
Annisa tertawa. ''Tanpa adek bilang pun, Abang tau kok. Pergilah! Kasihan Pak Rusli menunggu terlalu lama. Kayaknya beliau ingin beli mobil pick up deh?'' tebak Annisa dengan wajah seperti sedang berpikir.
Tama tersenyum, ''Benar sekali sayangku! Tebakan kamu memang selalu benar! Cup, Abang pergi dulu ya? Jaga diri baik-baik, hem?'' Kata Tama pada Annisa setelah mengecup keningnya
Annisa terkekeh, ''Tentu. Abang kan tau siapa Annisa. Annisa tidak takut pada siapapun kecuali Allah SWT. Tuhan penguasa seluruh alam.''
''Ya, ya, ya.. Abang mah percaya sama kamu sayang! Ya sudah, Abang berangkat dulu ya? temani tamu kita. Abang mau mandi sebentar! Nggak mungkin dong, Abang pergi dengan baju bau keringat begini??'' Tama terkekeh saat menciumi bau tubuhnya terutama bagian ketiak.
Annisa berbalik setelah meletakkan semua barang itu ketempatnya. Ia berbalik menatap Tama. Tangan kecilnya ia lingkarkan di pinggang Tama.
Jika Tama dengan tinggi 175 cm berbeda dengan Annisa hanya memiliki tinggi 156 cm saja. Tinggi yang sangat mencolok terlihat pada mereka berdua.
"Abang tau? Bau tubuh Abang itu sangat Adek sukai sedari kecil. Entah kenapa.. bau tubuh Abang sangat adek sukai. Sehari tak mencium bau tubuh Abang, seperti ada yang kurang gitu. Bau tubuhmu yang seperti inilah yang sangat adek sukai. Sungguh! Entah ada apa dengan diriku hingga menyukai bau tubuhmu yang bercampur keringat seperti sekarang ini," celutuk Annisa hingga membuat Tama tertawa lepas.
"Seperti ada magnet nya ya?" goda Tama pada Annisa
Gadis kecilnya itu tertawa. Mereka tertawa bersama. Kedua pasangan beda usia seakan lupa, jika mereka sedang ada tamu di depan sana.
Sedangkan seseorang di balik dinding mengepalkan tangannya dengan erat. "Aku tidak akan membiarkan gadis kecil itu memiliki Adrian! Adrian milikku! Bukan miliknya! Tidak masalah jika sekarang aku kalah. Aku akan berusaha lagi untuk merebut Adrian dari gadis kecil sialaan itu! Tunggu saja! Akan kupastikan jika Tama akan menjadi milikku! Lihat saja nanti!" gumamnya begitu geram saat melihat pasangan beda usia itu.
__ADS_1
"Abang tidak usah pergi ya?"
"Loh, kenapa?"
"Abang ingin di rumah saja bersama mu. Abang ingin selalu dekat denganmu, sayangku. Rasanya malas sekali untuk pergi ke showroom. Abang dirumah aja ya?" pinta Tama pada Annisa membuat gadisnya itu terkekeh.
"Kalau Abang tidak pergi, bisa rugi dong showroom kita kehilangan pelanggan baru seperti Pak Rusli tadi. Pergilah! Adek akan menunggu Abang durumah. Hem?" ucap Annisa pada Tama yang masih betah memeluk dirinya.
"Hemm.. Malas Abang.. Abang mau menemani kamu aja disini. Waktu kamu cuma seminggu tinggal disini. Hanya itu waktu untuk abang! Biarkan Abang dirumah ya?" pinta Tama lagi masih dengan memeluk tubuh kecil Annisa.
Annisa pun tak kalah erat memeluk tubuh tegap yang selalu membuatnya candu akan bau tubuhnya itu.
"Abang pergilah.. Kasihan Pak Rusli. Beliau pelanggan tetap kita loh.." bujuk Annis lagi.
Tama mengalah, dengan sangat terpaksa ia melepaskan pelukan nyaman nya dari tubuh Annisa.
"Baiklah. Semua ini Abang lakukan untukmu, Karena kamu yang memintanya ratuku!" ucap sambil mengecup seluruh wajah Annisa.
Annisa terkikik geli. "Udah ih! Mandi sana! Kita masih ada tamu loh.. Diluar? Abang lupa?"
Tama menghela nafas lagi. "Hah! Pengganggu saja! Bisa nggak sih, dalam sehari aja mereka itu kagak nongol di hadapan Abang?!" gerutu Tama begitu kesal.
Annisa tertawa lagi. "Udah ih! Buruan! Adek janjinya tadi cuma setengah jam aja. Lah ini? Udah lebih dari setengah jam Abang!"
"Iya, iya bawel! Abang mandi dulu! Temani tamu kita itu!" ketus Tama dengan segera berlalu meninggalkan Annisa yang terkekeh karena tingkah Tama seperti Orang yang sedang kasmaran saja.
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Satu aja ye hari ini??
Besok, othor usahakan seperti biasa. Tetap setia nungguin cerita recehan othor ini ye?😘😘😘😁