
''Ya sudah, Abang ke dalam dulu ya Mak. Banyak lagi pesanan adek. Ck. Abang tidak habis pikir, adek badannya kan kecil? Tapi kenapa pemakaian nya seperti orang bertubuh gemuk saja sih?!'' gerutu Tama membuat Bunda Zizi tertawa.
''Kamu ini. Kalau orangnya dengar, kamu bisa ngamuk loh..''
''Hehehe.. nggak lah Bunda! Abang masuk dulu ya? Abang antar aja ya?''
''Nggak usah Nak. Bunda udah pesan ojek. Lain kali aja. Bunda pamit, assalamualaikum..''
''Waalaikum salam, Bunda. Hati-hati di jalan!''
''Ya,'' sahut bunda Zizi. Wanita paruh baya itu terus berjalan menuju lobi, dimana kang ojek sudah menunggu mereka.
Tama masuk kedalam saat melihat Bunda Zizi sudah menghilang dari pandangannya nya. Ia berjalan sambil membawa tilam tahu. Sambil terus berjalan, Tama di tatap aneh oleh semua orang yang ia lewati. Tapi Tama tidak peduli.
Ia tetap saja melangkahkan kakinya menuju ruang inap ayah Emil. Tiba disana, Tama langsung membuka pintu dari luar. Annisa dan Syakir langsung menoleh.
''Assalamu'alaikum..'' sapa Tama dengan terus berjalan memasuki ruangan inap ayah Emil.
''Waalaikum salam, Abang. Loh? Kok cuma segini? Mana selimut adek, Bang?'' tanya Annisa yang tiba-tiba mendadak kesal pada Tama.
Tama terkekeh, ''Ayo, kalian berdua harus bantu Abang. Kalau sendiri bisa encok pinggang Abang nanti!'' kelakar Tama pada dua bersaudara itu.
Ayah Emil yang sedang terpejam terkekeh mendengar kelakar Tama. Annisa memutar bola mata malas. ''Ck. Ayo! Kenapa nggak nelpon Adek? Kan nggak harus bolak balik?? Ck. Dasar pria tua!'' ketus Annisa sembari berlalu meninggalkan Tama dan Syakir.
Syakir terkekeh, ia mengikuti Annisa yang sudah lebih dulu keluar. Tama hanya tertawa saja. ''Mana mungkin pinggang Abang encok Dek! Masa iya belum pecah tanggul surga udah encok aja? Emang suami kamu ini setua itu apa? sehingga mengangkat barang saja pun harus encok?? Ck. ck. Kasihan sekali hidup mu Adrian Pratama! Hadeuuhh.. belum buka tanggul surga tapi udah encok dulu. Ck!'' decak Tama walau setelahnya ia terkekeh karena ucapan nya.
__ADS_1
Tama keluar perlahan dari kamar ruang inap ayah Emil. Sementara menantu tuanya itu keluar, ayah Emil sudah tidak tahan untuk tidak tertawa. Ia tertawa hingga mengeluarkan air mata.
Seumur-umur baru kali ini ia tertawa begitu lepas. Suara tawa itu membuat Tama berhenti dan ikut tersenyum. ''Abang tau, kalau ayah tadi nggak tidur. Cuma memejamkan mata saja. ihihi...'' Tama terkikik geli sendiri saat ia berjalan menuju lobi.
Tiba di tempat parkir, Annisa sudah menunggunya dengan berkacak pinggang dan menatap kesal pada Tama. Tetapi tetap berjalan santai ke arahnya dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya itu.
Untuk sesaat Annisa terpana, manis dan tampan sekali. Eh, tidak. Annisa menggeleng kan kepalanya pertanda ia sedang kesal saat ini.
''Abang-,''
Cup!
Annisa melotot dengan mulut menganga. ''Jangan marah-marah.. nanti cepat tua loh..'' ledek Tama pada Annisa.
''Diem ih! Awas kamu Dek! Nggak kakak ajarin baru tau rasa kamu!'' ancam Annisa begitu sewot pada Syakir.
Bukannya takut, Syakir malah semakin tertawa. Tama terkekeh-kekeh melihat tingkah Annisa yang begitu kesal kepada nya saat ini.
''Sayangku!''
''Hem!'' sahut Annisa masih dengan nada terkesan ketus dan kesal kepada Tama.
''Jangan marah ah! Abang sayang sama kamu, Dek!''
''Hem!'' Tama semakin gemas dengan sikap Annisa.
__ADS_1
Wajah yang jutek terhadapnya itu begitu menggemaskan. Ingin sekali Tama mengecup putik merah jambu yang melambai padanya ingin di kecup itu.
Jika tidak mengingat itu rumah sakit, pastilah Tama sudah menarik Annisa ke dalam mobilnya. ''Sayang, jangan biarkan bibir manis mu ini manyun seperti itu. Mau kamu Abang kecup disini?? Kalau iya, Abang bersedia! Nggak peduli jika ini kawasan rumah sakit!'' gertak Tama pada Annisa.
Annisa melipat bibir nya ke dalam. Tama terkekeh lagi. Dengan segera Tama menutup pintu belakang mobil itu dan berlalu mengikuti Annisa yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah sakit.
Tama tidak pulang lagi. Ia sudah memberitahu Mitha dan Anto tadi sebelum ia balik kerumah sakit. Masalah bengkelnya, ia serahkan pada Mitha dan Anto.
Tama percaya pada kedua adiknya itu bahkan sedari dulu.
Adzan Maghrib berkumandang, memanggil seluruh ummat untuk beribadah kepada nya. Tama dan Syakir sholat di musholla, sedang Annisa lebih memilih sholat di dalam ruangan yang sudah ia sulap seperti kamar itu.
Selesai sholat, Tama dan Syakir masuk kembali keruang inap itu setelah tadi membeli makanan di kantin rumah sakit. Untuk makan malam mereka bertiga.
💕💕💕💕
Sbilsn nunggu cerita ini update, mampir kesini dulu yuk.
Karyanya Author Ria Aisyah.
Cus kepoin!
Like, komentar, kembang juga buat Othor! Rajin menabur agar othor rajin update!
__ADS_1