
''Di jaman sekarang ini sudah sangat sedikit orang yang melakukan hal seperti ini. Mereka lebih mengutamakan orang luar dibandingkan dengan saudara sendiri! Abang pun heran, saat melihat keluarga yang begitu congkaknya ingin menolong tapi mengharap balasan. Papa Fabian tidak pernah mengajarkan kami hal seperti itu. Beliau selalu mengajarkan seperti yang kamu katakan Ra. Kamu benar. Tidak sedikit orang di jaman sekarang lebih mengharap pujian daripada pahala. Apakah mungkin karena pahala itu tidak terlihat, makanya mereka sesuka hati berbuat seperti itu??''
Deg!
Deg!
Lagi dan lagi. Rasanya seluruh tulang di dalam tubuh mereka rontok semua saat mendengar ucapan Tama yang memang benar adanya.
Annisa Terkekeh saat melihat seseorang di sudut sana terhenyak dengan wajah pucat pasi. ''Abang benar sekali. Kakak juga. Orang jaman sekarang memang lebih suka memberi tapi mengharap imbalan. Ya itu tadi. Mengharapkan pujian dari orang lain. Ingin menunjukkan dirinya itu sangat baik karena ingin membantu orang lain. Ia lebih suka pujian yang nantinya akan membawa petaka baginya. Adek heran aja sih. Kok bisa amat ya orang yang kayak gini ini. Belum lagi, orang ini selalu saja Allah tambah harta nya. Buat apa coba Allah tambah hartanya? Sedang dirinya begitu?!'' ketus Annisa tidak suka.
Tama mengangguk, ''Memang seperti itu Dek. Allah itu semakin memberikan harta banyak padanya. Untuk apa? Untuk memberikan neraka untuknya. Semakin banyak ia membuat kesalahan semakin banyak pula Allah tambah hartanya. Tetapi berbeda jika ia sudah bertaubat dari hal itu. Maka semua hartanya itu akan musnah dengan sekejap! Allah itu maha adil kepada orang-orang seperti itu. Semakin banyak kesalahan maka semakin banyak Allah berikan untuknya. Untuk apa? Untuk melempar kan dirinya ke dalam neraka jahanam! Neraka yang akan membakarnya hingga berulang kali! Na'uzubillah..''
__ADS_1
''Astaghfirullahal'adhimm..'' ucap mereka bersamaan.
''Biarkan saja mereka seperti itu. Kita tetap pada diri kita. Cukup kita yang tau yang mana yang baik dan mana yang buruk. Kita tidak bisa memaksa orang untuk mengikuti apa yang kita lakukan. Kalau kita tegur kita yang akan mendapatkan masalah nya. Iya kalau orang itu menerima saran dari kita. Kalau nggak? Kan jadi masalah buat kita? Bener nggak sayang?'' tanya Papi Gilang pada Mami Alisa.
Mami Alisa mengangguk setuju. ''Betul itu. Kita memang wajib menegurnya. Tapi dengan cara yang halus yang tidak menyinggung perasaan nya. Kalau sudah kita ingatkan, dia juga tidak terima. Itu mah terserah dia atuh!'' timpal Mak Alisa yang mendapat anggukan dari ketiga anaknya termasuk dari dua menantunya.
Ayah Emil pun ikut mengangguk. ''Benar. Tugas kita memang mengingat kan. Tapi kalau dia marah ketika kita ingatkan, biarkan itu menjadi urusan nya. Kita cukup mendoakan saja demi kebaikan nya. Ayah pun dulu seperti itu. Pernah sekali ayah menegur dan mengingat kan orang itu, tapi dianya malah marah-marah sama ayah. Katanya ayah sok mengatur apapun yang ia lakukan. Ayah di marahi dan dibentak di depan umum. Setelah itu, sudah tidak mau mengingat kan nya lagi. Dan sekarang, ayah dapat kabar kalau orang itu sudah menjadi orang susah. Bahkan lebih susah dari ayah saat ini. Kami pernah bertemu dan dia meminta maaf sama ayah. Katanya ucapan ayah dua tahun yang lalu benar adanya.''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Uwak Nita di sudut sana terdiam. Wajahnya semakin pucat saja saat ini. Annisa sengaja memancing kakaknya untuk mengatakan hal itu. Karena Annisa tau, kalau kak Ira merupakan seorang guru di pesantren dan juga seorang CEO di rumah sakitnya.
Kak Ira lebih banyak pengalaman nya saat mengajar seluruh murid dan juga ia selalu banyak berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Annisa banyak bertanya padanya pada saat ia membutuhkan riset untuk menulisnya.
Dan sekarang, semua itu terungkap disini. Hal yang pernah Annisa tanya. Dan inilah jawaban dari sang Kakak. Bahkan Tama pun ikut menimpali nya.
''Biarkan dia dengan perbuatannya. Dan kita dengan perbuatan kita. Cukup kita saja yang tau. Biarkan Allah saja yang menegurnya. Yang penting, keluarga kita tidak seperti itu. Syakir, Arta, Bella, Algi dan Kinara. Abang sebagai yang tertua di antara kalian semua, hanya ingin menyampaikan. Sekaya apapun kita, kita tidak boleh sombong kepada saudara kita yang miskin. Kalau kita diberikan kelebihan harta, maka bantulah mereka yang kekurangan.''
''Jangan hanya menjadi penonton disaat mereka sedang kesusahan. Bantu mereka. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan membantu mereka? Membantu saudara sendiri yang sedang kesusahan tanpa mengharap imbalan itu sangat besar ganjaran nya. Jika kita ikhlas, maka pahala yang berlimpah lah ganjarannya untuk kita. Ingat itu!''
Kelima adiknya yang disebut tadi mengangguk setuju.
__ADS_1