
Setelah Mutia dan adiknya pergi, kini tinggallah sang fotografer dan Tama yang sedang berbincang sambil berjalan menuju pondok mereka.
Terlihat disana jika Anto dan Mitha sudah terlelap di tengah-tengah angin sepoi-sepoi yang meniup ke pondok mereka.
''Silahkan duduk Tian!''
''Iya, terimakasih Bang!'' sahut sang fotografer yang bernama Tian itu.
Annisa pun ikut duduk namun, ia memilih duduk di samping Mitha. ''Mitha! Bangun! Ini bukan dirumah! Kalau kamu tidak mau bangun, akan ku tinggalkan kalian disini!'' ketus Annisa pada Mitha
Mitha dan Anto mengerjab. ''Ehem, iya kami bangun. Kamu kok sirik aja sih sama kami kak??'' gerutu Mitha tidak suka pada Annisa.
Tama terkekeh Tian pun ikut terkekeh. ''Bangun! Kalau kalian datang kemari hanya untuk tidur, lebih baik kalian tidak usah datang kesini! Ngapain tadi ikutin kami sampai kesini?'' ketus Annisa lagi pada Mitha.
Entah kenapa karena hal kuda-kudaan kemarin semakin membuat Annisa kesal kepada Mitha. ''Kamu juga Anto! Pulang sana! Kesal saya lihat kamu!'' ketus Annisa semakin tidak bersahabat pada kedua iparnya itu.
Tama terkekeh, ''Sudahlah sayang.. jangan begitu ah. Ada tamu loh..''
Annisa melengos. Tian Terkekeh. ''Emm.. tadi kami bilang kan yah ingin minta bayaran dari saya yang telah memfoto kamu??''
Annisa menoleh masih dengan wajah tidak bersahabat nya. ''Kenapa?? Kamu ingin membayar saya?? Kamu mampu berapa membayar saya??'' ketus Annisa pada Tian.
Tian tertawa. ''Saya sanggup berapa pun yang kamu mau?'' godanya pada Annisa
Annisa melengos. Tama terkekeh. Begitu pun dengan Tian. ''Ya sudah, ayo kita makan dulu. Sudah siang ini. Sebentar lagi pun adzan dhuhur.''
''Ya,'' jawab Mitha dan Anto tapi tidak dengan Annisa. Ia lebih memilih untuk ke mushola dulu.
Ia sangat kebelet ingin buang air kecil. Karena suara lantunan suara indah menggema di seluruh alam. Annisa lebih memilih sholat terlebih dahulu baru setelahnya kembali lagi ke pondok.
Sedangkan Tama dan Tian, mereka saat ini sedang makan siang bersama tanpa menunggu Annisa. Karena Annisa lebih dulu ke mushola untuk menunaikan ibadah nya.
__ADS_1
Pada saat mereka berempat makan, datanglah seorang gadis yang ternyata teman Tian. Karena ia ikut saat Tama sedang makan, Tama pun mengajaknya makan.
Yang mereka tidak tau, ternyata teman akrab Tian menghabiskan satu rantang khusus yang di tinggal Tama untuk Annisa. Rantang itu khusus Tama pisahkan untuk sang istri.
Ia tidak tau jika rantang itu sudah di buka oleh teman akrab sang foto grafer. Karena Tama dan Tian sedang melaksanakan sholat dhuhur di musholla sana.
Annisa yang sudah kembali dibuat kaget dengan rantang miliknya yang habis tak bersisa. Berikut dengan rantang Mitha di makan oleh seorang gadis yang Annisa tidak tau.
''Heh! Siapa kamu?! kenapa kamu makan rantang bawaan saya!'' Seru Annisa membuat gadis yang sedang enak makan itu terjingkat kaget.
''Oh ya ampun! Kamu itu bikin kaget saya saja! Kamu itu yang siapa? Kenapa datang-datang malah ngagetin orang sih?! Nggak sopan kamu! orang lagi makan enak di ganggu!'' ketusnya tidak bersahabat pada Annisa.
Annisa mengepalkan tangannya. Geram, ia mengambil air minum dan menyiramkan nya pada gadis gila makan itu.
Byuurr!!
''Eh? kurang ajar!''
Annisa jatuh terhuyung kesamping. Ia memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan gadis itu.
''Sayang!''
Deg!
Deg!
''Eh bang Tama! gadis ini duluan ya yang nyiramin aku! Dia ngakunya kalau makanan ini miliknya! Ya aku tampar lah!'' ucapnya membela diri di hadapan Tama.
Geram, Annisa semakin geram.
Plakk..
__ADS_1
Plakk..
Plaakk...
''Astaghfirullah!!''
''Arrrgggghhttt gadis sialan!!!'' pekiknya begitu melengking di hadapan Annisa.
Ingin membalas Annisa lagi namun, kalah cepat dengan Annisa yang mendorongnya hingga tersungkur ke tanah. Ia menatap nyalang pada gadis itu dan Tama.
''Itu gadis yang kamu berikan makanan bang Tama?? Itu teman kamu?? Teman yang telah menghabiskan semua makanan buatan ku untuk aku makan?? Kenapa?? Kenapa selalu baik sama orang?! Tidakkah kamu tau orang itu bisa menusukmu dari belakang?? Kamu lihat?? Semua isi rantang yang aku bawa untuk aku makan kosong tak bersisa. Belum lagi kerupuk pemberian temanku tadi habis semua kalian makan! Kamu mikir tidak bang Tama saat kamu menampung orang lain di pondok kita??''
Deg!
Deg!
Tama terkejut melihat isi rantang itu habis tidak bersisa. ''Rantang untuk kamu udah Abang lain kan sayang. Berikut dengan kerupuk milik Mutia tadi. Astaghfirullah! Kenapa kamu habiskan?!'' Seru Tama begitu terkejut ketika melihat rantang pindahan nya tadi kini sudah kosong. Berikut dengan kerupuk peninggalan Mitha tadi.
Annisa terkekeh sumbang. ''Kamu juga Mitha. Tidak bisakah kamu duduk disini dan menunggu rantang kita?? Lihat apa yang sudah terjadi?? semua masakan ku ludes tak bersisa! Kalian kenyang! Sedang aku??'' tanya Annisa dengan bibir bergetar.
Gadis yang di dorong Annisa tadi menatapnya sinis. ''Kamu itu siapa sih?! Sok di sini mengakui! Setau aku ya, bang Tama itu belum memiliki Istri? Kami sudah bersahabat dari sejak kami kecil! asal kamu tau itu!'' ketusnya pada Annisa.
Annisa mengepalkan kedua tangannya. ''Kalau Ku tau tujuanmu mempermalukan istrimu sendiri seperti ini, lebih baik itu tidak usah datang kesini tadi. Menyesal aku datang kesini! Selamat menikmati harimu bang Tama. Selamat Mitha. Kamu mendapatkan calon kakak ipar yang baru!''
Annisa berlari dengan cepat menuju keluat dari pantai itu. Tama mengejarnya tapi Annisa tidak peduli. Sakit sudah hatinya melihat semua makanan bawaannya habis tak bersisa dihabiskan oleh teman sang fotografer itu.
''Sayang! tunggu Dek! Tunggu Abang! Anto! pulang!'' pekik Tama sambil berlari mengejar Annisa yang semakin jauh keluar.
Mitha menatap datar pada gadis sok tau itu. ''Mitha-,''
''Cukup sampai disini! Ternyata kelakuan kamu tidak pernah berubah Kania! Menyesal tadi aku mengajak mu makan. Abang dan kakak ipar ku harus bertengkar karena dirimu. Ambil semua makanan itu. Jika sudah muak, buang! Sama seperti kelakuan mu terhadap Abang ku! Ayo bang kita pulang!''
__ADS_1
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...