Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Penolakan Annisa


__ADS_3

''Dia menolak Abang, Dek.. Dia menolak Abang! Abang harus apa?? Apakah Abang harus mati dulu, baru dia percaya sama Abang??''


Deg!


Deg!


''Astaghfirullah, Abang!'' seru Nara begitu terkejut dengan ucapan Tama.


''Nggak boleh ngomong gitu, Abang!'' tegur Rayyan pada Tama yang sedang terisak.


Rayyan dan Nara duduk mendekati Tama. Kedua bersaudara itu memeluk Tama dengan erat. Membuat Tama semakin tersedu.


''Abang nggak boleh nyerah! baru sekali kan Abang mencoba nya? Tenang ! masih ada hari esok dan esok lagi. Selagi kita masih bernafas, maka kesempatan itu pasti ada. Abang tidak boleh menyerah. Mana bang Tama yang adek kenal selalu optimis? Tidak pernah putus asa sebelum berjuang??''


Hiks.. hiks..


Tama semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh dua bersaudara itu. ''Abang harus yakin. Abang bisa meluluhkan hatinya. Kakak butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Untuk sementara waktu dulu. Tapi bukan berarti Abang tidak datang kesini untuk tidak menemuinya. Walau kakak menolak Abang, tapi adek yakin. Kakak itu sayang banget sama Abang. Adek tau itu. Karena selama dua Minggu ini adek lah yang menemani nya.''


''Jangan menyerah! Jangan putus asa. Usaha terus. Jika Kakak masih juga menolak nya, maka Abang minta sama Allah untuk melembutkan hatinya. Hanya Allah yang bisa Bang. Percaya sama adek. Abang harus kuat. Pulihkan dulu tubuh Abang. Agar Abang bisa menjemput kak Annisa satu tahun lagi. Sebelum Abang menjemput nya, sering-sering lah menjenguk nya kesini agar kakak tidak merasa jika Abang tidak menginginkan nya.''


''Ayo, kita pulang dulu. Adek percaya, kakak pasti akan luluh nanti. Tapi sebelum itu, berikan ia waktu untuk bisa berfikir dengan tenang. Ya?'' Ucap Nara begitu bijak.


Sampai-sampai Rayyan tertegun dibuatnya. Ia menatap adik kecilnya itu dengan tatapan kagum. Masih kecil, tapi sudah berpikiran dewasa. Pantas saja Papi selalu menyebut nya dengan Annisa ke 2. Rayyan terkekeh.


Nara mendelik padanya. ''Oke, oke! Jangan di pelototin begitu ih! Emangnya Abang salah apa sama kamu Dek?''


Nara bertambah melototkan matanya. Rayyan tertawa. Tama pun ikut tertawa. Dikala hatinya sedang resah, ada saja orang-orang yang dikirim Allah untuk menenangkan hatinya.


Senyum manis terus tersungging di bibir tampannya. Sedangkan seseorang dibalik pintu pagar pesantren itu pun ikut tersenyum. Namun, hanya sesaat.


Setelah ia mengingat perkataan gadis yang bernama Husna itu ketika di pantai dua Minggu yang lalu, membuat senyumnya surut seketika.

__ADS_1


Ia berlalu pergi meninggalkan Tama dan kedua adiknya. Wajah itu dingin dan datar. Ia masuk ke kamar, langsung saja beberes.


Beberes hanya untuk mengalihkan pikirannya dari mengingat Tama dan juga ucapan seseorang itu yang begitu menusuk hatinya.


Tama dan kedua adiknya berlalu pergi meninggalkan pesantren Annisa dengan sejuta harapan. Harapan baru agar tetap terus berusaha berjuang untuk meluluhkan hati Annisa.


Semangat baru dan kehidupan baru sedang menantinya saat ini. Mereka pulang dengan hati gembira.


Tama diantarkan pulang kerumah Mama Linda dan Papa Fabian. Karena hanya beliaulah yang bisa mengurus Tama saat ini. Tiba dirumah Mama Linda, ia disambut dengan hangat.


Sementara Rayyan dan Nara diantarkan oleh supir untuk pulang kerumah mereka. Rumah Mak Alisa dan Papi Gilang.


Tiba dirumah Mak Alisa, Nara tanpa menyapa sang Papi langsung saja masuk ke kamar nya. Mak Alisa menghela nafasnya. ''Lihatlah! Karena perbuatan mu, bukan hanya dua orang yang tersakiti, tapi tiga orang yang tersakiti. Salah satunya putrimu! Kamu tau kan seperti apa Nara? Atau kamu melupakan nya?''


Papi Gilang menatap sendu pada Mak Alisa. ''Maaf sayang.. aku tau aku salah. Baiklah. Aku akan bicara dengan putri kita. Aku ke atas dulu.'' Katanya


Kemudian, ia berlalu meninggalkan Mak Alisa dan Rayyan yang termangu memandangi tubuh tegap itu naik keatas dimana kamar Annisa.


Rayyan mengangguk, namun dengan tatapan mata tertuju pada figuran besar di hadapannya yang menunjukkan foto kebersamaan keluarga mereka. Formasi lengkap.


''Mami sangat yakin, jika saat ini kakakmu tidak menginginkan Abangmu, pasti ia sudah memikirkan ini masak-masak. Kamu tau seperti apa Annisa. Ya sudah, istirahat lah. Mami juga mau ke toko sebentar. Menunggu kalian pulang aja tadi.''


''Ya, Abang istirahat dulu ya Mi. Pegel semua ini badan Abang. Mana udah cunkring, tepos lagi! tapi masih tetap bisa dibawa jalan!'' gerutunya pura-pura kesal.


Mak Alisa tertawa. Rayyan pun ikut terkekeh. Sementara di kamar Nara, saat ini Papi Gilang sedang mencoba untuk membujuk putri bungsunya yang sangat mirip dengan Annisa itu.


Tidak hanya parasnya. Tapi kelakuan nya pun sama persis. Kadang, Papi Gilang sampai salah memanggil nama Nara.


Papi Gilang menghela nafasnya. ''Sayang, sini dulu. Papi mau ngomong bentar.'' Katanya pada Nara.


Papi Gilang menarik lembut tangan Nara untuk dibawa duduk di ranjangnya. Ranjang yang sama yang pernah Annisa tempati sebelum ia pindah ke pesantren. Dan, ketika ia pulang pun tetap menempati kamar itu.

__ADS_1


Nara menuruti perintah Papi Gilang. Tapi tak ada senyum di wajahnya. Datar sekali. Papi Gilang tercubit hatinya melihat sang putri bungsu tidak ingin melihatnya sama sekali.


''Nak .. Papi minta maaf karena sudah menyebabkan kekacauan. Terutama untuk kakakmu. Tapi Papi tidak beneran ingin memutuskan hubungan mereka. Papi ingin menguji seberapa kuat cinta mereka berdua, itu saja. Maaf.. jika Papi menyinggung kalian berdua kemarin. Papi akan datang menemui kakakmu untuk minta maaf. Maafkan Papi ya, Nak??''


Nara tak menyahuti ucapan Papi Gilang. Masih terngiang di telinganya, bagaimana Papi nya itu terus memaksa gadis itu untuk meluluhkan hati Tama. Sementara Annisa masih menjadi istri sahnya.


Nara menoleh pada Papi Gilang. ''Papi nggak punya salah sama adek. Siapa adek buat Papi, hingga Papi minta maaf?? Seharusnya Kamilah yang minta maaf kepada kalian berdua. Karena harapan kalian tidak sesuai dengan kenyataan. Papi menginginkan kakak untuk bisa memenuhi permintaan Papi dengan cara memisahkan mereka berdua.''


''Tidakkah Papi pikir, jika Papi itu tidak punya hak sama sekali terhadap hidup kakak Annisa? Siapa Papi untuknya? Papi Hanya Papi sambung untuknya. Berbeda dengan adek. Adek baru putri kandung Papi. Papi berhak untuk mengatur adek dalam setiap hal. Tapi tidak dengan Kakak. Taukah Papi? Karena perbuatan Papi ini kepada nya, membuat nilai plus yang tersemat Dimata dan dihatinya untuk Papi, kini menjadi Nol!''


Deg!


Papi Gilang menatap Sendu pada Nara. ''Dengan seenaknya Papi menyuruh bang Tama untuk melepaskan kakak. Sekarang kalau dibalik, adek ingin Papi untuk melepaskan Mami, apa Papi sanggup??''


''Sayangku...''


Nara Terkekeh sumbang. ''Papi tidak akan mampu! Satu hari saja berpisah dari Mami, Papi sudah uring-uringan! Hah. Maaf Pi. Kali ini, adek tidak bisa mendukung Papi. Adek mendukung Bang Tama. Apa Papi tau? Jika Bang Tama begitu terluka karena penolakan Kakak terhadap nya?''


Papi Gilang menggeleng dengan mata berkaca-kaca. ''Abang memilih mati dulu, baru bisa kembali dengan Kakak. Apakah itu yang papi inginkan?!''


''Nak.. Papi tau Papi salah.. tolong maafkan Papi.''


''Papi nggak ada salah sama adek. Jika Papi merasa bersalah terhadap kakak, itu urusan Papi. Bukan urusan adek. Adek mau mandi dulu.'' Imbuhnya pada Papi Gilang, membuat Papi Gilang bangkit dan berjalan menuju kamarnya.


Pria cukup matang itu menangis. Ternyata kesalahan nya begitu fatal terhadap kedua putrinya. Namun, ia bangga. Kalau ternyata, Nara memiliki sifat tegas yang sama seperti Annisa.


Sekali mengatakan tidak, maka akan tidak. Begitu pun sebaliknya.


💕💕💕💕


Ck! Dasar Papi! Tapi bener juga sih, kata Mak Alisa tadi. Kalau ujian rumah tangga itu bukan hanya dari orang luar. Bisa jadi dari kerabat sendiri.

__ADS_1


Hemm.. semoga pasangan beda usia itu kuat ye?


__ADS_2