Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Menjadi Janda


__ADS_3

Saat ini Rayyan, Papi Gilang, dan Mak Alisa sedang duduk bersama di sebuah pondok dekat dengan ruangan Annisa. Sedang Annisa sedang di dapur membuatkan kedua orang tuanya itu minuman.


Setelah selesai, Annisa menuju kedua orangtuanya dengan membawa nampan yang berisi minuman dingin. Karena udaranya saat ini begitu panas.


''Di minum Mak, Papi, Dek? Ih, kamu ngapain ngotak atik laptop kakak sih?! Itu ada datanya!'' seru Annisa dengan suara meninggi dan terkesan panik.


Mak Alisa dan Papi Gilang terkejut mendengar suara lengkingan Annisa. Selama ini tidak pernah sekalipun suara itu meninggi. Suara halus itu tiba-tiba saja meninggi karena Rayyan si tukang usil.


Rayyan terkikik geli. ''Hihihi.. cerita Kakak bagus! Tapi kenapa sekilas Abang baca, kalau itu kisah kalian berdua dan keluarga kita? Terutama Mami dan Papi??'' godanya pada Annisa


Yang digoda wajahnya semakin memerah. Rayyan terkejut. ''Kak??''


''Jangan sentuh sesuatu yang bukan menjadi milikmu! Jangan ikut campur dalam urusan tulisan kakak! Kamu cukup belajar saja! Ih, suka banget sih?! Rese'!!'' seru Annisa lagi begitu kesal pada Rayyan.


Rayyan yang tadinya terkejut karena suara Annisa meninggi seperti itu, kini terkekeh-kekeh melihat wajah merengut Annisa.


Mak Alisa menggelengkan kepalanya. Sementara Papi Gilang pun, ikut terkekeh. ''Nak..'' panggil Papi Gilang


Annisa menoleh masih dengan wajah cemberut nya. Ia mendekati Papi Gilang dan duduk di sebelah paruh baya itu dengan laptop masih di tangan nya dan ia peluk erat.


Barang yang sangat penting untuknya. Pemberian seseorang pada saat usianya tujuh belas tahun. Walau dengan cara menabung, tapi tetap terkesan itu pemberian seseorang yang begitu istimewa di dalam hidupnya.


Papi Gilang tersenyum, ''Papi mau ngomong sebentar, bisa?'' katanya pada Rayyan.


Rayyan mengangguk. Papi Gilang menyapa Annisa dengan wajah sendu namun tetap tersenyum.


''Pi??''


''Maafkan Papi, Nak.. Maafkan Papi.. maaf karena Papi, hubungan mu dan Tama terancam berpisah.. maafkan Papi Nak.. Papi salah..'' lirih Papi Gilang pada Annisa.


Annisa tersenyum namun, sendu. ''Tidak apa-apa Pi. Kakak nggak marah kok. Mungkin inilah jalan takdir untuk kami berdua. Kami harus berpisah di usia pernikahan kami masih seumur jagung. Tak apa. Kakak ikhlas. Maaf.. jika dua Minggu yang lalu, kakak pergi tanpa pamit pada kalian berdua.. maaf..'' lirih Annisa dengan menunduk.


Papi Gilang segera memeluk tubuh Annisa. Dua tubuh itu berguncang seiring dengan suara isakan tangis terdengar. Mak Alisa dan Rayyan melipir ke arah lain.


Mereka berdua memberikan jarak pada kedua orang itu. Sebelum pergi, Mak Alisa sempat mengusap lembut kepala Annisa.


''Mak sama Abang kesana ya? Kakak ngomong aja dulu sama Papi. Kalian butuh waktu untuk bicara berdua.'' Imbuhnya yang tidak mendapatkan sahutan dari dua orang yang tersedu itu.


''Hiks.. maaf Pi.. Kakak salah.. kakak salah karena menerima lamaran nya.. kakak sudah memutuskan jika Kakak akan berpisah darinya satu tahun lagi. Maafkan Kakak Pi.. sekarang hiks.. Kakak tidak seperti dulu lagi. Bukan lagi gadis Tapi Janda..''


Deg!

__ADS_1


Deg!


Papi Gilang yang masih erat memeluk tubuh chubby Annisa mengurai pelukannya. Ia menatap Annisa dengan wajah basah air mata.


''Apa maksud mu? Apa kalian sudah resmi berpisah??''


Annisa menunduk. Membuat Papi Gilang merasa ketakutan apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan.


''Kakak! Jawab Papi! Apa kalian sudah bercerai??'' tanya Papi Gilang dengan suara naik satu oktaf.


Mak Alisa yang sedang tertawa bersama Rayyan pun terkejut. Ia menatap heran pada Papi Gilang dan Annisa. ''Kita kesana Bang. Pasti ada yang tidak beres!'' Kata Mak Alisa pada Rayyan dan diangguki oleh Rayyan.


''Ayo, kita kesana!'' sahut Rayyan.


Mereka berjalan setengah berlari untuk tiba di pondok Annisa dan Papi Gilang duduk. ''Pi! pelankan suara mu!'' tegur Mak Alisa yang baru saja tiba.


Papi Gilang mengusap wajahnya kasar. ''Jawab Nak. Apakah kamu sudah bercerai dari Tama? Kapan? Dimana? Kenapa kamu tidak memberitahu kan kepada Papi??'' ucap Papi Gilang dengan suara rendahnya.


Mak Alisa terkejut, begitu juga dengan Rayyan. ''Apa?! Berpisah?! Kenapa?!'' kini gantian mak Alisa yang meninggi kan suaranya.


Rayan terkekeh. ''Mami...''


Mak Alisa tak peduli. Matanya tetap menatap tajam pada Annisa. ''Jawab Mak, Annisa! Apakah benar jika kamu sudah bercerai dari Tama??'' tanya Mak Alisa.


Sekuat tenaga ia menahan suaranya agar tidak memekik seperti tadi. Papi Gilang dan Rayyan terkekeh-kekeh.


''Diam kalian berdua!'' ketus nya


Papi Gilang dan Rayyan langsung saja kicep. Mereka menutup rapat mulut mereka agar tidak terkekeh lagi.


''Jawab Annisa!''


Deg!


Jantung Annisa berdegup begitu kencang. Sungguh, jika suara dingin Mak Alisa sudah keluar pertanda saat ini wanita paruh baya yang melahirkan Annisa tujuh belas tahun yang lalu itu serius saat ini.


Suara rendah dan dingin namun penuh penekanan ketika berbicara. Annisa menunduk, tidak berani menatap Mak Alisa. Papi Gilang dan Rayyan terdiam.


Jika sudah seperti ini, pertanda jika Mak Alisa sedang serius dengan perkataan nya. ''Annisa binti Milham Syahputra! Jawab pertanyaan Mak! Kenapa kamu diam?!'' tekan nya lagi membuat Annisa semakin ketakutan.


Tubuh ringkih itu bergetar seiring dengan Isak tangis mengudara. ''Hiks.. hiks.. Abang.. hiks.. belum ceraikan Kakak. Tapi kakak yang memintanya! Hiks..''

__ADS_1


''Apa?!'' pekik dua paruh baya itu.


Rayan sampai terjingkat kaget mendengar suara lengkingan suara kedua orang tuanya. Rayyan melototkan matanya saat melihat Ustadzah Hanim datang menemui mereka.


''Ada apa Bu?? Ada masalah kah dengan Annisa??''


Deg!


Deg!


Dua paruh baya itu terkejut. Mereka saling bertatapan. ''E-enggak Ustadzah. Maklumin aja ya? Kakak kalau sedang di sidang sama Mami ya seperti ini. Tak apa ustdzah. Kakak baik-baik saja kok.'' jelas Rayyan sembari mengusir ustdzah secara halus.


''Baiklah. Kalau ada apa-apa tolong beri tahu ustadzah ya?''


''Tentu.'' Sahut Rayyan dengan sedikit senyum kaku di bibirnya.


Mak Alisa dan Papi Gilang menatap horor pada Rayyan. ''Ck! Diturun in napa itu mata?! Masih untung Abang usir! Jika tidak, mau kalian berdua Ketahun sama ustadzah Hanim tentang status kakak?? Ck!'' decak Rayyan begitu kesal kepada kedua orang tuanya itu.


Mak Alisa menghela nafasnya. ''Kamu tau Nak? Tidak akan masuk surga bahkan mencium bau surga jika seorang istri meminta cerai kepada Suaminya! Kamu ingin masuk neraka, Annisa??''


Deg!


Deg!


Annisa menggeleng cepat namun, menunduk. Tidak berani menatap Mak Alisa yang sedang menatapnya tajam.


''Bu-bukan be-begitu Mak..'' ucap Annisa dengan tergagap


Mak Alisa menghela nafasnya. ''Lalu kenapa kamu meminta pisah darinya Annisa? Kamu tau sendiri kan jika Tama sudah mengikat janji atas nama mu, maka Sampai kapanpun ia tidak akan melepaskan nya! Apa yang menjadi alasan mu, hingga kamu berani meminta cerai dari Tama? Mak sangat kenal dengannya nak. Jauh sebelum kamu lahir, Tama lah yang lebih dulu bersama Mak. Sedikit tidaknya Mak tau seperti apa sikapnya. Boleh Mak tau, apa yang menjadi alasanmu hingga memutuskan ingin berpisah darinya??''


Annisa terdiam walau masih sesegukan. Tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada Mak Alisa. Sedang dirinya saja belum tamat sekolah.


''Mak tunggu sampai kakak tamat sekolah dulu, baru setelahnya kakak katakan alasan nya. Untuk sekarang, biarlah seperti ini. Kakak ikhlas. Kakak harap Mak sama Papi, jangan memaksa kakak untuk bisa menerima nya kembali. Kakak punya alasan yang kuat. Mak tenang saja. Tak kan ada yang tersakiti dari perpisahan kami.''


''Terkecuali.. Kami berdua!''


💕💕💕💕


Kira-kira apa ya alasan kakak memilih berpisah dari bang Tama? Ingin tau?


Ikutin terus kelanjutan nya!

__ADS_1


__ADS_2