
Keesokan harinya.
Hari ini Tama sedang sibuk-sibuknya dalam mengurus bisnis bengkel miliknya. Sedari pagi hingga siang ini, Tama terus saja bekerja di bawah mobil salah satu pelanggan.
Wajah tampannya di penuhi dengan noda hitam pekat akibat oli yang menetes ditangan dan ia usap ke wajahnya karena berkeringat.
''Anto, ini kenapa bisa separah ini sih? Kok bisa-bisanya tangki bahan bakar nya kayak gini. Seperti yang disengaja aja rusaknya!'' gerutu Tama dibawah mobil mewah milik pelanggan nya.
Anto berjongkok tepat di depan Tama yang sedang berada dibawah mobil. ''Aku nggak tau Bang. Gadis kecil itu datang kemari dengan angkuh dan tanpa sepatah katapun ia berlalu pergi. Aku dibuat bingung olehnya!'' ucap Anto bersungut-sungut.
Tama menghela nafas nya. ''Ini tidak bisa diperbaiki. Tangki oli ini harus diganti. Yang kayak mobil sabotase saja!'' kesal Tama lagi.
Anto menghela nafasnya. Ia menoleh ke depan dimana seorang gadis cantik dengan tubuh proporsional datang menuju ke arahnya. Anto memicingkan matanya.
''Tuh, panjang umur. Itu orangnya datang!'' kata Anto pada Tama.
Tama yang masih sibuk dengan tangki oli bocor itu segera menggeser tubuhnya yang berlapis papan tipis beroda agar mempermudah dirinya keluar masuk ke bawah mobil yang ia perbaiki.
Tap.
Tap.
__ADS_1
Tap.
Tama mengernyitkan dahinya saat melihat kaki jenjang seorang wanita. ''Astaghfirullah? aurat Tama! Innalilahi! Jangan buat mataku buta ya Allah!'' celutuk Tama
Membuat gadis cantik itu melotot dan Anto terkikik geli. ''Ih, Abang! Kok ngomong gitu sih?!'' gerutunya kesal.
Tama terkejut mendengar suara manja itu. ''Kamitha?? Ngapain kamu kesini?'' ketus Tama tidak bersahabat.
Anto melipat bibirnya agar tidak tertawa. ''Ish.. keluar dulu ih! Ada yang mau adek omongin sama Abang!'' katanya nya lagi masih dengan suara manja nya.
Tama menghela nafasnya. Ia keluar dan duduk tepat dihadapan Anto. Malas duduk di depan Kamitha, adik kandung satu Papa beda Mama. Mama Kamitha itu Mama Karin.
''Apa!'' ketus Tama.
Kamitha mengerucut kan bibirnya. Kamitha ingin bicara tapi kalah cepat sama Tama. ''Kamu ada apa datang kesini?? Ini kenapa rok kamu pendek kayak gini? Pingin apa kamu?! Pingin pamer aurat??'' ketus Tama lagi.
Anto semakin tidak tahan untuk tidak tertawa. Entah kenapa, adik Tama yang satu ini begitu centil. Dan Tama tidak menyukai itu.
''Ck! Ini rok mini namanya. Ini lagi trend-trennya loh.. masa iya sih Abang nggak tau? Jangan bilang kalau istri Abang orangnya tertutup? Adek dengar, Abang udah nikahkan? Mana kakak ipar? Pingin kenal! hehehe..'' ucapnya sambil cengengesan.
Tama menatap nya galak. ''Pulang! Dan ganti baju kamu! Besok, baru Abang antar kamu menemuinya! Pulang sana!'' usir Tama lagi begitu ketus.
__ADS_1
Kamitha merengut lagi. ''Ih, Abang nggak asik! Masa' iya udah capek-capek kesini, udah jalan jauh. Mana udah dandan cantik lagi. Masa' iya Abang suruh pulang sih?! Nggak asik ah!'' gerutu Kamitha.
Tama melengos. Ia tidak peduli dengan adik satu Papa dengan nya ini. ''Pulang, atau kamu ganti baju disini. Abang belikan kamu baju tetutup! Anto!''
''Saya Bang!''
''Bawa Kamitha pergi ke butik islami ujung sana! Belikan baju tertutup untuknya! Mulai sekarang, kamu harus berubah Kamitha! Jangan suka mempertontonkan auratmu kepada lawan jenis. Iya, Jika dia suka sama kamu! Kalau dia jahat, bawa kamu kabur dan kamu di lecehkan! Mau kamu?!''
Kamitha tertegun. Selama ini tidak ada yang menyuruhnya untuk menutup aurat. Hanya Tama. Sedari dulu hanya Tama. Makanya ketika ia baru pulang dari Jakarta, ia langsung menuju bengkel Tama.
''Abangggg...'' lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
''Sudah, ikuti Anto! Mulai sekarang kamu harus ikut pertautan Abang kalau kamu ingin tinggal bersama Abang dirumah Abang. Kamu udah lulus kan??''
Kamitha mengangguk. ''Ya...'' sahutnya sambil menunduk.
Tama menghela nafasnya. ''Pergilah. Anto sudah menunggu mu. Minggu besok, baru kita ke tempat kakak iparmu!'' katanya pada Kamitha
Tama meninggal kan Kamitha disana bersama Anto. Sedang dirinya kembali bekerja pada mobil yang lain. Ia semakin malu saat melihat Anto meliriknya dengan senyum sinis nya.
''Aku akan menuruti Abang. Apapun. Karena selama ini, hanya Abang yang baik padaku. Berbeda dengan saudaraku yang lain. Abang segalanya bagiku. Untuk Abang, apapun akan aku lakukan! Aku janji!'' gumamnya dalam hati sambil berlalu mengikuti Anto yang berjalan menuju ke seberang jalan sana.
__ADS_1