
''Jawab Wak! Di mana letak kesalahannya?? Bisa kah Uwak jabarkan satu persatu??? Saya perlu alasan yang kuat agar saya bisa menegur kedua orang tua saya yang telah menyinggung Uwak hingga Uwak selalu menghina mereka??'' tanya Annisa lagi pada Uwak Nita.
Beliau diam. Matanya menatap takut pada adik Mak nya. Nenek Butet. Begitu juga dengan Uwak Andi. Mata itu setajam elang kini menatapnya. Annisa tau itu.
''Jangan ikut Campur nenek Butet dan Om Andi. Biar ini menjadi urusanku! Jangan menekannya!''
Nenek Butet menghela nafasnya. Om Andi melengos. Annisa terkekeh. Ia kembali menatap datar pada Uwak Nita. ''Jelaskan Wak! Apa dan dimana letak kesalahan kedua orang tau ku hingga Uwak begitu menghina mereka! Saya butuh satu ucapan Uwak yang bisa membuat saya percaya kalau Mak dan ayah saya bersalah kepada Uwak!'' ucap Annisa lagi pada Uwak Nita.
Wanita belum terlalu paruh baya itu tetap memilih diam. Ia tidak ingin berbicara sepatah kata pun. ''Uwak ini kenapa sih? Tadi giliran Uwak nyerocos saya yang diam. Sekarang giliran saya yang berbicara, Uwak pula yang diam. Kalau di tanya di jawab lah Wak! Jangan diam saja! Saya jadi bingung, ini yang salah kedua orang tua saya atau Uwak sih?!'' kesal Annisa pada Uwak Nita.
__ADS_1
Ayah Emil menghela nafasnya. Ia ingin mencoba meluruskan masalah ini hingga Annisa pun ikut di dalamnya. ''Maafkan saya Kak Nita. Saya tidak bermaksud ingin mendebat kakak dulunya. Tapi apakah salah, jika saya menikahi Zizi?? Saya menyukainya tulus. Bukan karena iming-iming karena ia kaya dan sukses. Itu tidak terpikir kan oleh saya Kak. Saya tulus menyayangi Zizi, Kak. Saya tulus menjadikan Zizi istri saya. Sekarang saya bertanya, apakah kakak ada melihat saya melukai hati Zizi selama ini?? Apakah saya ada menyakiti batin dan lahir Zizi selama ini??''
''Saya tidak pernah menyakiti Zizi sekalipun! Ada. Dan itu hanya salah paham kami berdua. Selebihnya saya tidak pernah membuat istri saya terluka seperti masa lalu saya dulu. Apakah selama ini kakak ada melihat saya memukul Zizi hingga ia mengadu kepada bapak dan Mak?? Nggak kan?? Saya tulus menginginkan Zizi. Kenapa saya selalu dipandang buruk karena masa lalu saya? Padahal saya sudah berubah dan tidak melakukan hal itu lagi??'' lirih ayah Emil dengan leher tercekat.
Annisa menghirup udara sebanyak mungkin. Ia mendekati ayah Emil dan memeluk pria paruh baya yang sudah menghadirkan nya kedunia itu.
Begitu pun dengan Syakir. Ia memeluk ayah Emil dengan erat. Sedang ayah Emil, kini wajah tua itu menunduk dengan bahu bergetar karena menangis. Annisa mengepalkan tangannya.
Beliau menunduk. ''Sudah cukup selama ini Uwak menghina ayah ku lagi! Jangan selalu menghina nya Wak! Uwak tidak tau apapun tentang ayahku?? Siapa Uwak yang berani menghakimi ayah ku?? Sementara Uwak sendiri begitu berlumur dengan dosa?? Uwak jangan selalu melihat kotoran di wajah orang. Lihat dulu kotoran yang ada di diri Uwak sendiri! Jangan selalu menghina ayahku! Uwak tidak tau apapun tentang nya!''
__ADS_1
''Masa lalunya memang kelam! Tetapi bukan berarti masa lalu itu terulang lagi bukan?? Ayahku berhak mendapatkan pengakuan karena beliau sudah berubah selama ini. Siapa Uwak yang berani menghukumnya? Sedang Allah saja memaafkan nya? Dan juga jangan sekali-kali Uwak menghina Mak ku! Uwak tidak tau apapun tentang masa lalu mereka! Uwak hanya berbicara karena mendengar saja! pingin bukti?? Tanya saja kepada suami saya! Bang Tama! Ia tau semuanya! Jangan menuduh tanpa bukti Wak! Anda bisa dihukum karena hal ini!''
''Anda akan di hukum atas pencemaran nama baik mereka berdua! Anda mau itu terjadi Wak?? Anda ingin membuat malu keluarga anda sendiri?? Tidakkah anda sadar kalau perbuatan Uwak itu begitu mencoreng keluarga Uwak sendiri??? Uwak itu sudah membuat malu untuk keluarga Uwak sendiri dihadapan kami! Heran aku sama uwak! Kenapa sih suka sekali mengungkit kesalahan orang lain sementara kesalahan sendiri lebih banyak??''
Uwak Nita tidak bisa berbicara lagi. Lidahnya Kelu walau hanya untuk berkata satu patah kata saja. Papi Gilang menarik sedikit ujung bibirnya.
Mak Alisa menyikut perutnya. Lelaki itu pura- tidak tau. Tama terkekeh kecil melihat kedua orang tuanya itu. Masih saja bisa saling sikut padahal keadaan dalam keadaan genting.
Ck. Dasar Papi Gilang. Selalu saja seperti itu. Tama terkekeh geli lagi. Annisa menghela nafasnya melihat Tama terkekeh sendiri. Ia menatap tajam pada Tama. Tama semakin terkikik geli. Ia tidak tahan melihat Mak Alisa dan Papi Gilang yang saling sikut saat ini sedang berada di hadapannya.
__ADS_1
Annisa menggeleng kan kepala nya. Ia pun ikut terkekeh geli melihat tingkah absurd Mak Alisa dan Papi Gilang.