
Tama membuka lemari pakaian nya dan mengambil salah satu bajunya.
Deg!
Tama mematung kala melihat isi lemari Annisa yang tersisa hanya separuhnya saja. ''Sayang...'' lirih Tama dengan dada yang kembali sesak.
Tama mengambil salah satu baju Annisa dan mendatangi ranjangnya. Saat ia sudah memakai baju dan ingin merebahkan dirinya di kasur, lagi. Tama terkejut saat melihat sepucuk surat dan juga satu kartu tipis pemberian nya dan juga perhiasan Annisa. Mahar darinya. Terletak di atas nakas bersama dengan kertas putih itu.
''I-ini .. ke-kenapa kembalikan?? A-apakah...'' dengan segera Tama duduk dan mengambil kertas putih yang sedikit basah itu.
Seperti basah karena noda tinta disana agar menghitam. Secepat kilat Tama membuka dan membacanya.
~ Teruntuk Suamiku, Imamku, Kekasihku, Cintaku dan seluruh hidup ku ❤️~
Deg!
Jantung Tama bergetar hebat saat membaca surat bertuliskan tinta hitam goresan pena tangan Annisa.
''Assalamu'alaikum sayangku.. sebelum berbicara panjang lebar, maafkan dulu kesalahan istrimu ini yang pergi tanpa pamit padamu.
Bukan aku tidak ingin bicara padamu, tetapi aku tidak sanggup melihatmu. Melihatmu dengan orang lain begitu melukai hati dan perasaan ku. Kamu kan tau, jika kamulah hidupku. Kamulah nafasku. Kamu segalanya untukku. Jadi.. sebagai ganti diriku. Kertas putih inilah yang menjadi perwakilan nya.
Maafkan kesalahanku selama satu bulan ini menjadi istrimu. Maafkan aku yang masih kenakan dan LABIL ini. Bukan aku tidak ingin menemui mu. Aku ingin. Bahkan sangat ingin.
Tetapi hatiku tidak sanggup mendapati kenyataan bahwa Cintaku berbagi ranjang dan kehangatan dengan orang lain.. dan orang itu pun mantan kamu dulu.
Maaf.. jika aku egois. Tapi inilah aku! Apa yang sudah menjadi milikku, tidak akan pernah ku berikan kepada orang lain! Sekali aku mencintaimu selamanya akan seperti itu.
Cintaku untukmu tulus suamiku. Aku mencintaimu saat umurku sepuluh tahun. Aku menyayangi mu bukan hanya sebagai Abang, tetapi sebagai seorang pria yang akan menuntunku menuju Jannah Nya.
Tetapi hatiku sakit saat melihat kenyataan di depan mataku, kamu berbagi peluh dengan gadis lain yang bukan mahrammu!'''
Tama menggeleng lagi dengan air mata yang terus bercucuran. Ia tersedu. Sakit sekali. Entahlah.
__ADS_1
''Kalau memang kamu sudah Tidak suka dengan pelayanan ku, seharusnya kamu bicara padaku. Agar aku paham apa yang menjadi keinginan mu. Aku masih kecil. Belum mengerti dengan masalah ranjang.. tetapi kamu?
Kamu sudah dewasa sayang.. kamu tau segalanya. Tetapi kenapa kamu tidak bicara padaku? Bahwa pelayanan ku selama ini kurang puas untuk dirimu?'''
Lagi, hati Tama semakin sakit. Ia merosot ke bawah ranjang dengan air mata terus bercucuran. Ia menggeleng lagi.
''Suami ku.. kamu segalanya untukku. Segalanya. Bahkan jika suatu saat kamu meminta nyawaku, maka aku akan memberikan nya untukmu. Tetapi jangan berkhianat seperti ini. Aku tidak suka..
Sakit sayang.. sakiiiiiittt!! Aku sangat sakit mendapati dirimu dengan orang lain sedang bercinta di kamar pribadi kita. Oke! jika dia selalu berbicara padamu. Tak apa. Itu tidak masalah untukku. Tetapi ini?
Kamu berbagi ranjang dengan nya! Kamu berbagi hasrat dengan nya bukan denganku! Apa kurangnya aku bang Tama?! Apa kurangnya aku?!
Tidakkah kamu tau bahwa selama ini aku sudah berusaha untuk layak berada di sisimu? Tidakkah kamu tau, bahwa aku yang kecil ini sudah dewasa sebelum waktunya?
Kamu pikir untuk apa aku melakukan semua itu? Semua itu aku lakukan agar aku pantas bersanding denganmu. Seorang Adrian Pratama yang terkenal sukses dengan usaha nya, tidak ingin di permalukan karena memilki istri yang bisa membuatmu malu!'''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Tama tersentak. Ia menggeleng lagi. Tangan kanan memegangi jantung nya yang tiba-tiba berdenyut sakit. Sedang tangan kirinya memegang kertas putih goresan hati Annisa.
Kamu bohong sayang.. kamu bohong.. kamu membohongi diriku! Kamu tega membuatku terluka seperti ini. Tetapi tak apa. Aku ikhlas. Biarlah seperti ini.
Mungkin inilah cara Allah untuk mendidik ku menjadi wanita yang lebih sabar lagi dalam menghadapi dirimu dan wanita itu.
Tak apa. Aku memaafkan mu Suami ku. Aku tidak marah padamu karena aku begitu menyayangi mu. Kasih sayangku menghapus rasa benciku untukmu.
Tetapi aku hanya sedang kecewa. Kecewa karena kamu yang tidak mau jujur padaku tentang pelayanan ku selama hampir sebulan ini. Aku minta maaf, karena aku, kamu merasakan kurang puas saat kita memadu kasih.
Aku akan lebih banyak belajar nanti saat aku kembali. Itu pun jika kamu masih memberikan kesempatan untukku. Namun, jika tidak. Tidak apa-apa. Aku ikhlas. Berarti hubungan kita memang cukup sampai disini saja.
Semua keputusan ada ditanganmu sayangku. Suami tuaku. Aku begitu menyayangimu. Sangat mencintaimu. Hingga rasanya hati ini akan mati bila tidak bersama mu.
Tetapi inilah jalan takdir yang harus aku tempuh. Aku harus pergi, karena undangan dari Bandung di percepat keberangkatan nya besok pagi.
__ADS_1
Maafkan aku suamiku. Aku tau, aku salah karena meminta izin padamu dengan cara goresan pena hitam di kertas putih ini. Tetapi inilah bakti ku padamu. Aku tidak ingin membuatmu tambah membenciku Karena kelakuan bar bar ku disana saat aku mengetahui fakta itu.
Aku rela meredam amarah ini sendiri. Aku rela pergi darimu asalkan kau bahagia. Aku pergi untuk menuntut ilmu. Bukan untuk yang lain.
Aku kembalikan semua yang menjadi hak ku selama ini. Aku tidak bisa membawanya sementara kamu masih dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
Berpikir lah dengan tenang sebelum kamu mengambil keputusan besar di dalam hidupmu. Aku tau, aku salah karena pergi darimu.
Tetapi aku bukan lari dari masalah. Kamu tau itu. Aku pergi karena tugasku sudah menantimu di Bandung sana. Aku pergi untuk kembali.
Dan sebelum aku kembali. Putuskan pilihanmu seperti apa. Jika kamu masih menginginkan wanita LABIL ini, maka datanglah ke Bandung setelah empat tahun lamanya.
Tetapi jika tidak, berarti kamu sudah mengambil keputusan besar di saat itu. Dan aku siap menerima keputusan besar mu. Apapun, akan aku turuti. Asalkan kamu bahagia...
Suamiku.. aku pergi. Jaga diri dan kesehatan. Selalu bangun pagi minum air putih dan jangan lupa sholat tepat waktu.
Karena hanya itu yang bisa aku katakan saat ini. Terimakasih untuk hari-hari mu yang sudah menemaniku. Aku sangat beruntung memilki suami dewasa seperti mu.
Aku mencintai sayangku, suamiku, hidupku dan nafasku. Aku pergi. Jaga diri.
ANA UHIBBUKA FIILLAAHH ADRIAN PRATAMA! 😘💗💗😘
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
Salam sayang istrimu,
Annisa.''
Pecahlah sudah suara Tama. Suara yang sedari tadi hanya terisak kini meraung-raung seperti orang kerasukan.
Mitha yang baru saja masuk pun terkejut bukan main. Ia berlari sedikit kencang menaiki tangga.
Hingga tiba di depan pintu kamar Tama, Mitha mematung.
__ADS_1
''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk.... Annisaaaaaaaaa... aaaaa.... tidaaaaaaakkkk... aaaaaaaaaa... haaaaaaaaaa... haaaaaaaaaa... kemabliiiiiiiii.... haaaaaaaaaa.....''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...