
Sementara Annisa di Bandung pun demikian. Ia sangat suka makan makanan yang manis-manis.
Sarah dan Mutia menggeleng kan kepala nya saat melihat Annisa yang begitu Siak amkan selama kurang lebih satu bulan ini berada di Bandung.
''Kamu kok Siak banget amkan yang beginian sih Nis? Nggak takut kamu, badan kami yang singset itu jadi melar??'' ucap Sarah pada Annisa dan dihadiahi tepukan ringan di lengannya oleh Mutia
Plakk..
''Diem kamu! Makan aja Nis! Tak apa!'' ujar Mutia pada Annisa.
Annisa tertawa. ''Nggak tau aja. Aku suka banget makan makanan kayak gini. Aku rindu kue buatan Mak. Biasanya Mak rajin banget bikin puding lumut kayak gini. Ini rasanya kok sama kayak punya Mak? Kamu beli dimana ini??'' tanya Annisa pada Mutia
Ia tersenyum, ''Di toko Mami Zahar dan Mami Alisa Bakary!''
Deg!
Deg!
''Apa?!'' pekik Annisa begitu terkejut.
Mutia terkekeh, ''Ya, Mamai Zahra dan Mami Alisa! Kamu mengenal mau Nis??'' goda Mutia pada Annisa.
Annisa tertegun sejenak. ''Pemilik toko itu kenal banget loh sama kamu? Katanya kamu itu yang dulunya pernah nolongin beliau saat beliau hampir di pukul oleh ayahnya tanpa sengaja yang saat itu ingin memukul Papi Kamu! Papi Gilang!''
__ADS_1
Deg!
''Mami Zahra??''
Mutia tersenyum, ''Ya, Mami Zahra. Beliau ingin bertemu dengan mu hari ini. Bersiaplah! Oh, sudah datang rupanya! Selamat datang Mami Zahra dan Papi Rian! Mari masuk!''
Deg!
Deg!
Annisa mematung. Matanya terpaku pada dua sosok yang dulunya ketiak kecil dulu pernah bertengkar hebat dan ingin memukul Papi Gilang.
Salah satunya pria paruh baya yang ada di samping Mak Zahra saat ini. Beliau tersenyum, ''Assalamu'alaikum.. Nak??'' sapa Mami Zahra pada Annisa.
Annisa terkejut. Dengan segera Annisa bangkit dan berdiri di hadapan Kami Zahra. Ia menggamit tangan wanita cantik yang dulu pernah tinggal dirumahnya selama dua tahun lamanya.
Annisa mengatupkan tangannya pada Papi Rian. Membuat pria itu mendengus. ''Jika kedatangan anda kesini hanya untuk menghinaku, lebih baik anda tidak usah datang taun Riandra Agung Brasmana! Saya tidak butuh kehadiran anda disini! Bahkan sudah berlalu sekian tahun. Anda masih tidak menyukai Mak saya!''
''Budr Zahra itu datang sendiri ke rumah kami! NmBujdn kami mengundang ataupun menculiknya seperti tuduhan anda dulunya! Maaf Bude. Jika tujuan Bude kesini hanya untuk membuka luka lama, lebih baik kita tidak udah bertemu! Luka di masa lalu begitu sakit yang aku rasakan karena perbuatan suami baru Bude ini. Saya mau masuk!'' ketus Annisa begitu kesal kepada Papi Rian
Bude Zahra mencekal tangan Annisa. Membuat Annisa menghentikan langkah nya. ''Sombong sekali kamu?! Kami harus ingat, jika ini merupakan kontrakan saya! Jika bukan karena istri saya, maka saya pun tidak ingin menemui gadis bermulut pedas seperti mu!'' ketus Papi Rian tidka kalah pedas dari uacaon Annisa.
Annisa menatap dingin padanya. ''Nak-,''
__ADS_1
''Benarkah?? Ini kontrakan Anda? Setau saya ini kontrakan ouany Papi dan Mami saya! Yang sudah mereka beli dulunya pada seorang yang begitu angkuh tidak memperbolehkan daya tinggal disini!''
Deg!
Papi Rian melengos. Mami Zahra mengenal nafasnya. Jika bukan karena ingin melihat Annisa, pastilah ia tidak ingin mengajak sang suami kesana jika ujungnya harus bertengkar dengan Annisa lagi. Sama seperti saat Annisa kecil dulu.
Annisa si cerdas selalu saja bisa menjawab setiap ucapan Papi Rian. ''Sudahlah kak. Buka kah aku sudah bilang tadi smaa kamu? Jiak tujuan mu datang kesini ingin menghianati putraku Kakak ku, lebih baik tidak usah ikut!'' tegas Mami Zahra pada Papi Rian.
''Alisa itu bukan Kakak mu! Kamu tidak punya kakak, kalau kamu tidak lupa itu!''
''Alisa itu kakakku! Walau bukan kakakku kandung. Tetapi ia sudah ku anggap Kakak ku! Kamu ingat itu Kak Rian!'' tegas Mami Zahra pada Papi Rian.
Papi Rian mendengus. ''Kenapa Pakde tidak bisa maafkan kejadian lalu? Apa salah Mak ku sama Pakde? Apakah Mak ku salah karena menyelamatkan Bude dari suami masa lalunya? Dianna letak salah Mak ku Pakde? Bukankah selama dua tahun Bude tinggal bersama kami, Bude lebih sehat dan berisi dari biasanya??'' ucap Annisa membuat Papi Rian tertegun.
''Jiak membagi menurut Pakde anak ku salah, tolong katakan padaku. Dimana letak kesalahannya? Biar aku bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Pakde! Pakde salah karena telah menyaksikan Mak dan Papi ku. Pakde menuduh tanap mencari bukti dulu. Oalah pakde Aisha mencari bukti sebelum Pakde menyerang Papi Gilang??''
Deg!
Deg!
Lagi dan lagi Papi Rian tertegun. ''Nak.. sudah.. Bude datang kesini karena ingin menjenguk mu. Bude dengar dari Mak kamu kalau kamu kuliah disini dan dekat dengan toko roti Bude. Maafkan Pakde mu ya?'' punya Mami Zahra dengan lembut pada Annisa
Annisa menggeleng, ''Nggak Bude! Pakde harus tau tentang masalah dulu. Pakde salah karena telah menuduh Mak dan Papi Gilang yang sudah menculik Bude. Masa iya di culik Bude bisa sehat dan semok sih?!'' sungut Annisa tiba-tiba menjadi kesal.
__ADS_1