
Tujuh bulan berlalu setelah pertemuan mereka berdua dengan Danuarta pada saat mereka piknik di taman kota Medan, kini Jia anak Danuarta kini sudah segat seperti sediakala.
Tak ada lagi rasa sakit yang sering menderanya. Dan juga saat ini Danuarta sudah bekerja di showroom Tama menjadi asisten kedua setelah Anto.
Jika Anto tangan kanan Tama, maka Danu tangan kiri Tama. Mereka bertiga posisisnya sama di showroom itu.
Sahbat yang dulunya juga seorang pengusaha, kini sudah tidak memiliki harta. Mereka terpisah saat Danuarta pindah ke Jakarta karena kedua orang tuanya jatuhh bangkrut.
Dan juga Danu di jodohkan dengan seorang gadis shalihah yang merupakan anak dari sahabat Papanya. Semenjak saat itu Danuarta tidak pernah lagi pulang ke Medan.
Terakhir ia kembali lagi, karena ingin meminta pekerjaan pada Tama. Ingin mencari Tama di kediamannya, sudah ia datangi. Tetapi Tama sudah menikah dan memiliki rumah sendiri.
Pada saat ia ingin menyusulnya kesana, hal buruk pun menerpa dirinya. Sang istri tercinta kecelkaan demi menyelamatkan sang anak yang saat itu sedang berlari mengejar balon yang melayang di udara.
Istri Danu koma hingga satu tahun lamanya. Dan saat ia menemui Tama pun istri nya masihlah koma. Dan saat ini, berkat pertolongan Annisa dan si bocah biang rusuh itu akhirnya bisa sadar setelah satu tahun di nyatakan koma.
__ADS_1
Betapa bahagianya Danu pada saat itu. Ia berhutang budi pada Annisa. Annisa sangat terkejut saat menyadari jika karena dirinya istri Danu sadar kembali.
Dan ya, saat ini kedua istri itu bersahabat. Sama seperti suami mereka yang juga sudah lebih dulu bersahabat.
Dan ternyata hal yang lebih mengejutkan lagi, istri Danu yang bernama Karmila Rusiana merupakan salah satu anak dari dosen Annisa saat kuliah di Bandung dulu.
Dosen pembimbing Annisa saat skripsi terakhirnya. Pak Ruslan Haditomo. Beliau merupakan Dekan sekaligus dosen pembimbing untuk Annisa saat itu dalam menyusun skripsinya.
Betapa beruntungnya Annisa. Ia mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara setelah lima tahun berlalu.
Tama sampai menagis melihatnya. "Kita operasi aja ya? Biar kamu lebih lega dan tidak merasakan sakit seperti ini?" lirih Tama masih dengan memegang kedua tangan Annisa dengan erat.
Annisa menggeleng, baginya operasi atau normal itu sama saja sakitnya. "Ssstt... Huufftt... Tak apa Bang. Sakit ku tidak sebanding dengan kelahiran buah hati kita nantinya. Bersabarlahhh. Hufffttt.." jawab Annisa masih merasakan sakit di perutnya.
"Operasi ya?" bujuk Tama lagi. Matanya terus mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Annisa terkekeh di sela-sela sakitnya. Raga yang berada disana pun ikut terkekeh, "Tenanglah Abang. Adek nggak akan apa-apa kok. Ada bidan yang akan membantunya. Sudah buka berapa Lan?" tanya Raga pada Bidan yang bernama Wulan
"Tinggal dua bukaan lagi. Dok. Sebentar lagi baby trhree nya akan keluar semua!" seloroh nya Bidan Wulan
Membuat kak Ira dan Raga tertawa. Tetapi tidak dengan Tama. Wajah itu terus basah dengan air mata. Masih teringat olehhnya dulu lima tahun yang lalu, entah kenapa ia merasakan dadanya yang begitu sesak. Tama menagis hingga dua hari dua malam.
Mama Linda sampai kebingungan dibuatnya. Fokusnya sampai terpecah yang saat itu juga menemani Mitha yang akan melahirkan anak pertamanya. Ardi. Putra sulung Mitha dengan Anto.
Yang ternyata hanya berbeda dua minggu saja jarak kelahiran mereka berdua. Dan saat ini, Tama mengalamai hal yang sama. Ia baru menyadari jika tangisan nya dulu merupakan tangisannya untuk Annisa yang saat itu akan melahirkan buah hati mereka berdua.
Kedua orang tua mereka pun sudah mendapatkan kabar kalau Annisa akan segera melahirkan. Hal yang mereka tidak duga jika Annisa ternyata hamil tiga. Bukan lagi dua seperti anak pertama mereka.
Betapa senangnya kedua paruh baya itu dalam sesaat bisa mendapatkan cucu lima orang dalam kurun waktu lima tahun.
Nikmat mana lagi yang kalin dustakan?
__ADS_1
🤣🤣🤣