
Annisa terlelap seusai melahirkan ketiga buah hatinya yang saat ini seluruh keluarga untuk saling berebut ingin memegang bayi cantik-cantik dan tampan Tama, yang sangat mirip dengan sang papi.
"Lihatlah sayang. Si tampan begitu mirip dengan Annisa sedang si cantik mirip dengan Tama. Perpaduan yang pas sekali!" celutuk Papi Gilang pada semua orang yang saat ini berada di dalam ruangan Annisa.
Sejak Si kembar dilahirkan, Tama belum lagi menyentuh bahkan mengadzani nya. Tadi, saking paniknya melihat mata Anisa terpejam Tama histeris dan meraung mengguncang tubuh Annisa.
Ia kira istri kecilnya pergi meninggalkan dirinya. Ternyata Annisa hanya kelelahan ia pun pingsan. Hingga saat ini belum lagi sadarkan diri. Tama dengan setia menunggu Annisa sadar.
Sudah pukul delapan malam dan ia pun sudah melaksanakan sholat isya tetapi Annisa belum juga sadarkan diri.
"Bang, makan malam dulu. Jangan tungguin adek. Ayo, seluruh keluarga sedang menunggu Abang loh.." ajak Ira lagi sudah yang kesekian kalinya.
Tama mengehela nafasnya. "Kalian duluan saja. Abang nunggu Adek aja bangun baru kami makan bersama nantinya," jawabnya masih dengan memegang kedua tangan hangat Annisa yang saat ini masih terpejam.
"Baiklah, Kami duluan ya Bang?"
"Ya," sahut Tama.
Ia masih setia menunggu Annisa sadar. Mata itu mengembun lagi melihat wajah pucat Annisa yang begitu kelelahan karena melahirkan kedua anaknya.
__ADS_1
Ia membawa tangan Annisa ke mulutnya dan ia kecup berulang kali tangan halus dan hangat milik Annisa. Buliran bening itu mengalir tanpa di pinta dan membuat sang empu pemilik tangan mengerjabkan matanya karena buliran bening itu jatuh menetes mengenai punggung tangannya.
Matanya begitu buram saat ini, Tama tidak menyadari jika Annisa sudah sadar dan sedang tersenyum lirih melihat sang pujaan hati menangis dalam diam.
Tubuh itu berguncang tetapi tidak terdengar suara isak tangis dari mulutnya. Tetapi Annisa tau jika sang suami saat ini sedang mencemaskan dirinya.
"Abang.." panggil Annisa dengan suara lirihnya.
Tama terkejut merasakan pergerakan di tangan Annisa. Ia membuka matanya dan melihat Annisa yang kini sedang menatapnya dengan tersenyum manis padanya.
Tama tersenyum lebar. "Sudah bangun? Mana yang sakit? Kamu mau makan? Abang ambilkan ya?" katanya begitu lembut pada Annisa dengn mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Seluruh keluarga menoleh dengan tiba-tiba pada Tama dan Annisa yang saat ini sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk Annisa yang sudah Mak Alisa persiapkan untuknya.
Saking laparnya Annisa hingga meminta tambah sebanyak dua kali. Tama pun demikian. Ia pun ikut makan bersamanya. Sedari pagi mereka belum makan sedikitpun.
Pada saat mereka sarapan Pagi tiba-tiba saja Annisa merasakan perutnya begitu kencang dan sangat sakit. Perut itu mulas seketika. Tama yang panik segera melarikan Annisa setelah Memanggil Mitha untuk menjaga kedua anak kembarnya.
Dan sekarang, mereka berdua begitu kelaparan. Seluruh keluarga terkekeh melihatnya. "Lihatlah mereka. Bahkan makan pun mereka bersama. Sungguh, ikatan Takdir itu tidak ada yang tau seperti apa. Seperti kita dulunya. Kita sempat berpisah dan akhirnya bersatu setelah kita melewati lima tahun lamanya. Sama seperti Kakak dan Tama saat ini yang sempat berpisah akhirnya mereka bersatu kembali. Dan dalam waktu yang singkat mereka pun memiliki anak lagi. Sungguh, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?" ucap Papi Gilang pada seluruh keluarga mereka.
__ADS_1
Semuanya pun mengangguk bersamaan mengiyakan ucapan Papi Gilang. Setelah selesai dengan melihat cucu serta keponakan bagi Mitha, Ira dan Kinara.
Saat ini semunya sedang berbaring di lantai yang sudah di sulap menjadi kamar oleh Ira dan Annisa.
Seluruh keluarga memilih menginap dirumah sakit. Karena mereka semua ingin pulang bersama baby triplets keesokan paginya.
Semuanya sudah terpejam dan larut ke dalam mimpi. Tinggallah Annisa dan Tama yang saat ini sedang memegangi ketiga anaknya bersamaan seperti permintaan Annisa.
Satu pada Annisa dan dua lagi pada Tama. "Lihatlah putra kita. Dia sangat tampan! Mirip dengan mu bang," ucap Annisa pada Tama yang kini sedang tersenyum melihat ketiga anaknya.
"Ya, kamu benar sayang. Terimakasih karena kamu sudah membersihkan kebahagiaan yang tiada tara untuk Abang. Kebahgiaan yang tidak mungkin bisa di dapatkan oleh orang lain. Abang beruntung bisa menikahi mu sayang.. Sangat beruntung." ucap Tama pada Annisa yang kini terharu karena ucapannya.
"Adek juga bahagia bisa memiliki suami seperti Abang. Sangat beruntung!"
Tama tersenyum, "Abang yang lebih beruntung sayang. Abang bahagia bisa menikahi gadis sebaik dan secantik kamu. Abang hanya bahagia saat bersamamu. Tanpa mu. Adrian Pratama tidak akan pernah bahagia. Kamu sumber kebahgiaan Abang, sayang.. Hidup dan mati Abang ada bersama mu. Nafasmu adalah hidupku. Cintamu merupakan aliran darah yang mengalir di tubuhku. Jika nafas dan darah itu berhenti untuk mengalir, maka Abang pun ikut berhenti dana kan mati dalam cinta. Abang sangat menyayangimu sayang.. Sangat menyayangimu.."
"Tentu, adek pun demikian. Mari kita berdua berusaha untuk mengurus ke lima anak kita untuk menuju surga Nya Allah."
Tama tersenyum, ia mendekati Annisa dan mengecup dahinya dengan lembut dan penuh kasih sayang yang tidak luput dari perhatian sang adik, Kinara.
__ADS_1
Ia tersenyum manis melihat kebahagiaan sang kakak kini sudah kembali lagi tidak seperti dulunya yang begitu terluka akibat orang ke tiga di dalam rumah tangga mereka berdua.
"Semoga kalian selalu berbahagia.." doa nya dengan tulus untuk kebahagiaan Annisa dan Tama.