Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Keseharian setelah Annisa kembali ke pesantren


__ADS_3

Tama pulang dengan perasaan hampa. Baru saja ia mengantar Annisa ke pesantren nya, kini ia sudah merasa kesepian. Ia menghela nafas berulang kali.


Sesekali juga terkekeh-kekeh, kadang juga termenung sendiri. Ia tidak pulang kerumah. Tapi berhenti di sebuah mesjid untuk melaksanakan sholat ashar dan disambung dengan sholat Maghrib.


Ia duduk termenung seorang diri di pelataran mesjid hingga adzan Maghrib berkumandang. Tama sholat berjamaah bersama setelah adzan itu mengguncang hatinya untuk segera beribadah. Tama cukup lama berdiam diri di dalam mesjid.


Ia bertafakur disana. Hingga adzan isya. Ia menunaikan ibadah sholat isya dengan khusyuk. Setelahnya ia baru pulang ke bengkel. Tapi tidak kerumahnya.


''Baru beberapa jam saja aku di tinggal Annisa, hati ini sudah kesepian. Maafkan hamba ya Allah yang terlalu mendalami rasa cinta hamba untuk sang istri. Cinta hamba karena mu ya Allah. Tidak melebihi cinta hamba kepada Mu..'' lirih Tama sembari berjalan gontai menuju kamar yang ada di bengkel miliknya setelah membuka bengkel itu dengan kunci yang ia bawa.


Sementara Annisa, ia pun merasa demikian. Tubuhnya terasa lelah dan lesu. Ia lebih memilih istirahat dibandingkan bergabung dengan teman-teman yang lain di mushola untuk penyambutan baru.


Sarah melihat Annisa seperti tidak enak badan segera melapor pada Ustdazah Hanim. Semua Ustadzah panik. Annisa segera dilarikan ke rumah sakit yang ada di sebelah pesantren.


Sarah ingin menghubungi Tama untuk mengabarkan kalau Annisa demam. Tapi ustdazah Hanim melarangnya. Karena Annisa sakit sudah sampai di pesantren maka menjadi tanggung jawab pesantren.


Tama sempat merasakan gelisah dan selalu teringat Annisa. Namun, ia tidak bisa berbuat apapun saat ini karena Annisa sudah berada di kawasan pesantren.


''Ya Allah.. lindungi istriku dimana pun ia berada.. kenapa hatiku ini begitu teringat dengan nya?'' gumam Tama dalam hati.

__ADS_1


Ia mencoba memejamkan matanya. Tapi bayangan Annisa yang sedang memanggil namanya pun membuatnya tidak tenang.


Sedangkan Annisa disana sedang dirawat. Annisa terkena demam dan kelelahan. Satu lagi, lelah hati dan pikiran. Begitu kata dokter yang mengurus Annisa saat ini.


Ustdzah Hanim saling pandang dengan Sarah. Tapi tidak bisa bertanya lebih lanjut karena Annisa saat ini sedang terlelap di dalam mimpi. Seolah ia ditemani oleh Tama di dalam mimpinya.


*


*


*


Begitu pun dengan Tama. Malam dimana Annisa demam, Tama sempat mengirim pesan ke ponsel Annisa yang saat ini di pegangi oleh ustdazah Hanim.


Tama menyampaikan kalau Annisa harus jaga diri baik-baik. Ia seperti merasakan firasat tidak enak tentang Annisa. Annisa menangis tersedu kala membaca pesan itu.


Ustdazah Hanim hanya bisa menghela nafasnya. Hubungan adik angkat yang rumit pikirnya. Annisa bertekad setelah sembuh, ia akan menjaga diri baik-baik seperti keinginan Tama.


Dan ya, Annisa saat ini sudah sehat kembali. Ia pun sudah beraktivitas seperti biasanya. Tapi pun demikian, Mitha sering mengantarkan makanan untuknya dan Anto. Hubungan keduanya kini sudah membaik, karena Annisa sudah memaafkan mereka berdua.

__ADS_1


Dibantu oleh Tian, kini Tama sedang mengerjakan mobil milik seorang pelanggan yang sangat ia kenal. Syakir pun sudah mulai bekerja di bengkel Tama seperti keinginannya dulu.


Hari-hari Tama tanpa Annisa begitu sibuk mengurus bengkel. Beruntungnya ada Syakir yang selama ini menemani nya di saat malam. Jadilah Tama sedikit terhibur dengan itu.


Ia sering tertawa bersama saat Syakir menceritakan cerita humor tentang kedua saudaranya itu. Siapa lagi kalau bukan tentang Annisa dan Lana yang selalu membuat rusuh setiap kali datang kerumahnya mereka jikalau Lana pulang dari tugas tentaranya.


Annisa sibuk belajar, sedang Tama sibuk mengurus bengkelnya. Hari-hari yang mereka lewati kini berjalan seperti dulu. Seperti tidak ada Annisa. Begitu pun sebaliknya.


Mereka berdua fokus dengan pekerjaan masing-masing sampai enam bulan ke depan.


Sampai saat itu tiba, Annisa dan Tama harus bersabar. Walau rindu sering menyiksa relung hati, tetapi tetap mereka tahan. Setiap Minggu nya Tama selalu mengirimi pesan untuk Annisa, walau tidak pernah sekalipun mendapatkan balasan dari Annisa.


Karena Tama tau, dimana ponsel Annisa berada saat ini. Ia hanya bisa pasrah. Beruntungnya ada Syakir. Syakir lah yang selalu menemani hari-hari Tama saat di bengkel.


Walau Tama harus selalu bolak balik menyusulnya di sekolah yang berjarak satu jam lamanya, Tama tidak merasa kalau Syakir memberatkan nya. Tetapi malah sebaliknya. Syakir sangat membantu dirinya saat ia jauh dari Annisa. Istri kecilnya.


💕💕💕💕


Otw pecah tanggul surga ye? Othor lompat ke enam bulan kemudian. Ikutin terus! Semakin jauh semakin seru uhuuyy!! 😄😄😄

__ADS_1


__ADS_2