
''Ck! Dasar pria tua!! Nggak tau apa! Aku juga butuh waktu untuk memikirkan hal ini! dasar pria tua egois!!'' umpat Annisa dibelakang Tama.
Ia semakin bersungut-sungut tidak jelas hingga membuat Mitha tertawa terbahak melihat kelakuan pasangan beda usia itu.
Sementara Tama pergi menghilang dari pandangan kedua gadis itu. ''Dasar pria tua egois! Awas aja kalau nanti balikan lagi sama aku!Batak kan maunya akunya! Enak aja dia menolak, sedang aku menerima nya?? Apa sih yang di inginkan oleh pria tua egois itu?! Hisshhh. kesel! kesel! Pria tua nggak punya perasaan! Maunya menang sendiri! Abangggg...'' rengek Annisa di akhir kalimat nya.
Mitha terbengong melihat kakak ipar kecilnya.Tadi aja bersungut-sungut tidak jelas. Ia bahkan mengumpat suaminya sendiri. Mitha menggelengkan kepalanya. Namun, tak ayah juga bibir tipis itu terkekeh.
''Abaaaaaaaannnggggg... hiks.. keseeeeeeeellll....'' rengek Annisa begitu mendrama. Ia menghentak-hentakkan kakinya di lantai karena kesal.
Sementara Mitha tertawa terbahak. ''Sudahlah kakak ipar. Kamu harus tenang dulu. Jangan terlalu cepat kesal seperti itu. Abang itu punya alasan kenapa dia menolak keinginan ustadzah Hanim. Tidakkah kamu berpikir kakak ipar. Kalau Abang tua ku itu begitu menyayangi mu? Hingga untuk melepaskan mu pergi jauh saja ia tidak mengizinkan! Ingat kakak ipar. Surga mu sekarang ada pada suamimu. Bukan kepada kedua orang tuamu!''
Deg!
Deg!
Annisa terkejut mendengar ucapan Mitha padanya. Perkataan Mitha baru saja menyadarkan dirinya. Ucapan yang memukul telak dirinya. Annisa jatuh terduduk dengan luruh ke lantai.
Mitha mendekati nya. ''Bangun kakak ipar. Aku hanya mencoba mengingat kan mu. Bukan untuk menggurui mu. Walaupun umurku masih muda, tapi aku tetap menghargai mu sebagai kakak iparku. Percayalah, Abang pasti punya alasan kenapa ia menolak keputusan ustadzah Hanim.''
''Selama ini ia sudah banyak menderita kakak ipar. Pahamilah sedikit tentang dirinya. Sedari kecil jjauh dari Papa Kandungnya hingga Mama Linda ingin merebut ayahmu. Belum lagi ia selalu di bully. Dan saat ia dewasa pun hidupnya tidak tenang. Ia selalu di hanyui oleh pembunuh yang sengaja meneror hidupnya!''
Deg!
''A-apa?! Di-dibunuh??'' seru Annisa dengan suara meninggi dan tergagap.
Annisa jatuh terduduk lagi saat anggukan Mitha mengiyakan ucapan nya tadi. ''Iya Kakak ipar! Pria tua egois itu begitu terluka, tersiksa dan begitu malang nasibnya. Aku sebagai adik sempat membela nya tapi pembunuh itu mengancam ku akan membunuh Mama Linda jika aku mendekati Abang!''
''Astaghfirullah! Ya Allah..''
Mitha menghela nafasnya sembari mengangkat tubuh Annisa yang semakin lemas setelah mendengar ucapan Mitha.
''Aku berhasil menyelamatkan hidupnya. Tapi pembunuh itu mengambinghitamkan diriku sebagai otak pembunuhan pada Abang. Aku terpaksa di jauhkan darinya dengan syarat, aku harus ikut ke Jakarta dan kuliah disana. Aku sudah mengenal Abang saat umurku tujuh tahun Kakak ipar! Jadi.. aku sangat tau seperti apa dirinya. Kamu beruntung mendapatkan pria tua seperti nya! Sangat beruntung!''
__ADS_1
Annisa menoleh pada Mitha dan menatapnya dengan sendu. ''Maaf Mitha.. aku tak tau..'' lirihnya dengan menunduk.
Mitha tersenyum, ''Tak apa kakak ipar. Makanya sekarang aku sengaja memberitahukan nya kepada mu. Agar kamu bisa berfikir berulang kali saat ingin menolak perintah nya! Pria tua egois mu itu memang lah egois jika menyangkut dirimu. Temui dia. Abang ada dibalik warung satpam itu. Aku tunggu disini!'' katanya pada Annisa.
Annisa semakin menunduk, lagi dan lagi air mata itu jatuh berderai membasahi pipi halusnya. Mitha terkekeh.
''Sudah.. jangan menangis. Temui pria tua egois mu itu! Ayo!'' bujuk Mitha lagi dan Annisa mengangguk.
Ia bangkit dan berjalan gontai dengan kaki terseok menuju Tama yang sedang duduk termenung seorang diri disana. Pak Hamdi sedang tidak berada disana. Beliau sedang keluar karena Tama yang menyuruhnya untuk membeli air dingin untuk mengurangi rasa panas dihati dan pikirannya saat ini.
Ia duduk termenung dengan tatapan lurus ke depan. Dimana banyak bunga bermekaran disana. Salahsatunya bunga kesukaan Annisa. Yaitu bunga mawar. Bahkan bunga mawar yang begitu banyak di pesantren itu semuanya ulah Annisa.
Berbagai macam warna ada disana. Tama merenung. Merenungi nasib Pernikahan nya dengan Annisa, istri kecilnya yang masih labil dalam berpikir.
Annisa mendekatinya dengan perlahan. Tercubit hati Annisa melihat sang pujaan hati merenung dengan tatapan kosong nya. Ada air mata disana mengalir tanpa ia duga.
Sakit.
Tama tetap tidak menghiraukan. Entah kemana mata itu menatap. Annisa semakin sedih melihat nya.
Tak tahan, ia menyentuh pipi Tama dan mengusap perlahan wajah tampan sang pujaan hati dengan pelan. Tama tersentak saat merasakan pipinya ada yang menyentuh.
Deg!
''Abang...'' lirih Annisa dengan menatap sendu Tama yang juga kini sedang menatapnya dengan tersenyum begitu terpaksa.
Bibir menyungging kan senyum, tapi hati terluka. Mulut tertawa hati menangis. Inilah yang saat ini Tama rasakan.
Annisa semakin tersedu. ''Hiks.. hiks.. maaf.. maafkan adek, Bang.. maaf...'' lirih Annisa sembari duduk berjongkok tepat dihadapan Tama.
Kepalanya ia benamkan dalam pangkuan hangat Tama. Tama pun ikut menangis. Sekuat tenaga menahan agar suara Isak tangisnya itu terdengar oleh yang lain.
''Bangun sayang. Abang memaafkan mu. Abang mengizinkan mu untuk kuliah di Bandung. Tapi Abang mohon.. biarkan selama satu bulan sebelum kepergian mu ke Bandung, Abang ingin menghabiskan waktu bersama mu. Bisa?'' ucap Tama sambil merengkuh Annisa dan ia bawa ke dalam pelukan hangatnya.
__ADS_1
Annisa semakin tersedu. Ia menggeleng kan kepalanya. ''Udah.. jangan nangis.. Abang kesini untuk memenuhi permintaan mu. Dan ya. Abang mengizinkan mu agar kuliah di Bandung. Tak apa. Abang bisa kok. Abang bisa dan sanggup! Bertahun-tahun saja bisa? Masa' cuma empat tahun lebih saja Abang tidak sanggup??''
Annisa menggeleng lagi. Ia semakin terluka mendengar ucapan Tama yang begitu mengoyak relung kalbunya. Bukan Annisa tidak tau, jikalau Tama juga terluka karena ini. Annisa ingin menolak, tapi impiannya sejak dulu memang ingin kuliah di Bandung.
Kota sejuk nan asri itu membawa kesan tersendiri untuknya. ''Sudah...'' ucap Tama lagi.
Tapi Annisa tidak mau berhenti. Ia semakin tersedu di dalam pelukan Tama. Baju Tama bagian dada sudah basah karena air mata Annisa. Tapi Tama tetap diam. Ia masih mengusap lembut surai hitam Annisa yang tertutup hijab.
Butuh waktu setengah jam untuk meredakan tangis Annisa dengan cara Tama memilih diam dan tidak ingin membahas nya lagi.
Dirasa sudah tidak ada lagi yang harus ia tangisi, Annisa mendongak menatap Tama yang kini juga tengah menatapnya.
Ia tersenyum, tapi senyum itu tersirat sendu dalamnya. Lagi, mata Annisa berkaca-kaca. ''Sssssttt.. udah jangan nangis ah. Abang kesini ingin makan sama kamu! Ayo! Takutnya Adek manja Abang itu merajuk sekarang!'' selorohnya pada Annisa.
Annisa terkekeh kecil di sela-sela tangisnya. ''Ya.. hiks.. kita kesana!'' sahutnya walau masih sesegukan.
Tama tersenyum. Mereka berdua segera mendekati Mitha yang sudah ketiduran Karena terlalu lama menunggu. Annisa dan Tama Terkekeh kecil melihat tingkah Mitha.
💕💕💕💕
Hehehe.. dasar Mitha. Orang lagi sibuk menangis, dianya malah sibuk tidur. Hadeeeuuhh... ck. ck. ck. Dasar Mitha!
Oke deh, othor mau promo lagi nih. Rekomendasi cerita yang sangat bagus untuk kamu baca sambilan nunggu cerita Abang Tama update ye?
Karya nya Kak Trias Wardani.
Cus kepoin!
Like dan komen selalu othor tunggu!
Jangan lupa sajennya untuk othor! Kembang aja ya? Biar othor mandi kembang malam ini agar dapat wangsit lagi tentang cerita Adek Annisa! 😅😅
__ADS_1