Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Cucu Kita!


__ADS_3

Butuh waktu dua jam lebih dua puluh lima menit untuk tiba di kediaman Keluarga Adrian Pratama. Dan saat ini mereka berenam sudah tiba di rumah Tama yang selama ini Annisa tinggalkan demi menuntut ilmu di tempat lain.


Walau hanya melangkahi provinsi, tetap saja ia pergi meninggalkan rumahnya. Bahkan ketika lebaran tiba pun, Annisa tidak pernah pulang.


Ia hanya menyapa keluarga besarnya dan Tama melaui sambungan video call saja. Nggak etis sih. Tetapi itulah Annisa. Sekali ia berjanji, maka akan ia tepati sampai ia mati.


Papi Gilang rasanya lelah untuk membujuk putri kecil yang dulu bergitu ia sayangi itu untuk pulang. Begitupun dengan Mak Alisa.


Di umurnya yang tidak lagi muda, ia malah mendapatkan kabar bahwa rumah tangga anak bungsuny denagn almarhum ayah Emil harus mengalami hal yang begitu sulit hingga ia lebih memilih pergi dibandingkan melukai hati sang suami karena perktaannya.


Ya. Annisa lebih memilih pergi daripada menimbulkan huru hara di dalam pernikahan nya dan Tama.


Annisa memilih pergi karena tidak ingin lidahnya melukai sang suami yang begitu ia cintai sedari ia berumur sepuluh tahun.


Saking cintanya Annisa pada Tama, ia rela pergi meninggalkan Tama. Demi menghindari keretakan di dalam rumah tangga mereka. Inilah yang Annisa lakukan demi melindungi rumah tangganya.


Jauh di dalam lubuk hatinya Tama tidak akan menghinatinya dengan ustadzah Azura. Annisa sangat mengenal Tama seperti apa. Luar dan dalam diri Tama sangat Annisa kenal dan tau. Bahkan apa yang Tama sendiri pun tidak tau Annisa bisa tau.


Itulah Annisa. Ia lebih memilih pergi dan kebetulan sekali jika sekolahnya pun harus berangkat hari itu juga. Maka dengan terpaksa ia pergi meninggalkan Tama tanpa penyelesaian.


Dan sekarang, inilah waktunya bagi Annisa untuk menyelesaikan masalahnya dengan Ustadzah Azura.


Annisa tersenyum kala melihat disana ramai dengan keluarga besarnya dan juga keluarga besar Tama.

__ADS_1


Tama memegang erat tangan Annisa dan tersenyum lembut padanya. Mata Annisa berkaca-kaca.


"Ayo, mereka sangat ingin bertemu dengan mu. Dan juga.. Hah. Kedua anak kita. Mereka pasti sangat shock mengetahui ini. Kecuali Papi dan Ragata. Abang harus berterima kasih kepada mereka tentang hal ini. Ayo, jangan menangis. Ada waktunya kita berbagi nanti di kamar kita." Ucapnya pada Annisa yang kini kembali menangis.


Di dalam mobil hanya tinggal mereka berempat. Sedang Mitha dan Anto sudah masuk lebih dulu ke dalam rumah Tama karena anaknya masih tidur.


Annisa mengangguk patuh. Tama lebih dulu keluar. Ia tersenyum kala melihat Mak Alisa dan Mama Linda mendekatinya.


"Mana menantu Mama, Bang? Kamu tidak jadi membawanya pulang?" tanya Mama Linda pada Tama.


Annisa terkekeh, ia pun beranjak turun. Tama pun mendekatinya dan mengambil Tania dari Annisa membuat dua paruh baya itu melotot dan juga sangat terkejut.


Deg!


Deg!


Tama dan Annisa mendekati kedua paruh baya itu dan tersenyum lembut kepada mereka berdua. Senyum yang begitu cantik sampai-sampai Papa Fabian dan Papi Gilang yang sedang berdiri tidak jauh dari kedua istri mereka saat ini tertegun.


Senyum manis yang begitu lepas tanpa beban seperti yang mereka lihat melalui sambungan video call. Mereka pun mendekati Tama dan Annisa.


Mak Alisa sudah meneteskan air matanya kala melihat kemiripan yang ada pada Tania begitu mirip ketika Annisa kecil dulu tetapi ada Tama disana. Ia langsung bisa menebak, jika itu merupakan cucunya dari Annisa dan Tama.


Begitu pun dengan Mama Linda. Ia segera mengambil Danis dari gendongan Annisa untuk di gendongnya.

__ADS_1


"I-ini.."


Tama tersenyum, "Mereka berdua anak Abang dan Annisa Ma.. Mak." Jelas Tama membuat Mama Linda dan Mak Alisa menangis terharu.


"Ya Allah cucu ku.. Hiks.. Papa! Cucu kita! Hiks.. Anak Tama Pa!" serunya sembari berbalik dan membawa Danis yang sudah bangun karena suara riuh sang Nenek hingga mengusik tidurnya menuju Papa Fabian yang kini semakin terkejut dengan fakta ini.


Annisa tertawa. Begitu pun dengan Tama. Tania pun bangun juga pada akhirnya. Mak Alisa langsung saja mengambilnya.


"Sama Oma ya sayang ya? Oma ini Mamanya Mami Annisa. Mami kamu. Dan yang sedang menggendong Abang kamu itu, Oma Linda. Mama nya Papi Tama. Paham?" tanyanya pada Tania.


Gadis kecil itu mengerjab lucu, bulu mata yang lentik semakin membuat nya begitu menggemaskan. Gemas, Mak Alisa mengecupi seluruh wajahnya membuat bocah kecil itu tertawa. Hingga Annisa dan Tama pun ikut tertawa.


Papi Gilang mendekati Annisa dan merentangakn tangannya. Annisa segera berlari dan memeluk tubuh sang Papi yang pernah menolongnya ketika kecil dulu saat rumah mereka kebakaran. Jika bukan karena Papi Gilang, mungkin saat ini Annisa tidak lagi bersama mereka dan bisa menikah dengan Tama.


"Hiks.. Assalamu'alaikum Papi.." lirih Annisa di dalam pelukan hangat sang Papi.


Papi Gilang tertawa hingga kepala paruh baya yang masih saja tampan di usia matangnya saat ini. "Hahaha.. Wa'alaiku salam sayang.. Ternyata. Putri Papi ini masih saja sama kayak dulu ya? Masih cengeng walau sudah punya buntut dua?" godanya pada Annisa yang kini masih betah berada di pelukannya.


Tama terkekeh, Annisa menepuk ringan punggung Sang Papi. Papi Gilang tertawa lagi. "Atau jangan-jangan.. Saat ini kamu sedang isi lagi? Benar begitu bang?" tanya Papi Gilang pada Tama.


Tama melototkan matanya. "Mana ada Papi! Abang belum sama sekali menyentuh Annisa loh ya!" sahut Tama sedikit sewot


Papi Gilang tertawa lagi. "Ya.. Mana Papi tau? Bisa saja kan kalian berdua seperti itu? Secara 'kan kalian berdua itu udah lama nggak ketemu??" godanya lagi pada Tama dan Annisa.

__ADS_1


Membuat Annisa menepuk kuat punggung Papi Gilang hingga sang Papi tergelak semakin kuat. Tama mendengus.


Inilah yang terjadi jika seluruh keluarga sudah berkumpul. Terutama sang Papi yang selalu ada saja bahasan yang ia ucapkan untuk semua nanak-anaknya.


__ADS_2