Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Ikhlaskan kepergian nya


__ADS_3

Annisa masih tersedu di dalam pelukan Tama. Sadar jika Arta dan Bella tidak ada ia menoleh ke belakang. ''Dek...'' panggilnya dengan suara yang semakin serak dan hampir hilang.


Syakir pun menoleh, ''Dek??''


Deg!


Arta dan Bella terkejut. ''A-ayah ke-kenapa Bang? Kok di-ditutup begitu?'' tanya Arta dengan bibir bergetar.


Annisa mendekati Arta dan Bella. Ia membawa mereka berdua pada ayah Emil yang sudah terbujur kaku.


Tiba disana. Annisa dudukkan Syakir, Arta dan Bella disamping ayah Emil. Mata ketiganya sudah sembab. Air mata itu tidak berhenti untuk keluar.


Tangan Annisa bergetar membuka penutup wajah ayah Emil. ''Bismillahirrahmanirrahim... Ayah.. ini adek sama bang Tama ingin lihat ayah. Kakak buka ya?'' izin Annisa pada jasad ayah Emil.


Tangan itu membuka kain putih yang menutupi tubuh ayah Emil. Bagian wajah.


Deg!


Deg!


''Ya Allah Ayah...''


''Ayah!!!!!!'' pekik ketiganya saat melihat wajah ayah Emil pucat pasi tetapi begitu berseri dengan senyum lembut tersungging di bibir nya.


''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk... Ayaahh... huaaaaaaaa...'' Raung Syakir sembari memeluk tubuh ayah Emil.


Syakir mengecup seluruh wajah ayah Emil. ''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk .. ayah belum tiada! Baru tadi malam ayah ngomong hiks sama kita! Bangun Yah!! Banguuuunnn!!!'' pekik Syakir begitu menyayat hati.


Bunda Zizi membuka matanya. ''Hiks.. Bunda??'' panggil kak Ira dengan terisak.


Bunda Zizi tidak menjawab. Ia menuju ayah Emil yang saat ini sudah terlihat wajahnya. Tubuh paruh baya itu hampir limbung lagi saat melihat sang suami benar adanya sudah tiada.

__ADS_1


Brrruukkk..


''Allahu Akbar!!!'' pekik Kak Ira begitu terkejut saat melihat Bunda Zizi jatuh tersungkur dengan mencium kaki ayah Emil yang sudah kaku.


Bunda Zizi tersedu. Ia semakin menangis tersedu di kaki ayah Emil. Semua yang ada disana menangis semua. Tanpa terkecuali. Annisa masih ingat pesan ayah Emil untuk menjaga ketiga adiknya.


Ia memeluk tubuh ketiga adiknya itu dengan tersedu juga. ''Ikhlaskan Dek.. biar Ayah kita pergi dengan tenang.. hiks..'' Annisa terisak lagi.


Tama memeluk tubuh Annisa dengan sayang. Annisa memeluk ketiga adiknya yang saat ini semakin tersedu.


Lana membatu di tempat. Bibir itu bisu seketika. Ia tidak bisa bicara ketika melihat sang ayah yang sudah terbujur kaku itu.


Rumah besar ayah Emil saat ini sedang dilanda duka. Pemimpin dirumah itu sudah pergi saat ini. Tama yang sadar jika waktu subuh sudah lewat, kini mencoba menyadarkan Ragata, Lana, Syakir, Arta, dan Papi Gilang untuk melaksanakan sholat subuh sebelum mereka mengumumkan hal ini pada seluruh tetangga dan masyarakat disana.


''Ayo! Kita sholat dulu yuk? Nanti gantian. Baru setelahnya kita akan umumkan pada seluruh masyarakat tentang kepergian Ayah Emil. Ayo! Kita wudhu dulu. Jenazah ayah tidak akan kemana-mana. Ada Mak, Bunda, Ira dan Annisa yang menemaninya ya?'' bujuk Tama pada Arta dan Syakir.


Semuanya mengangguk, Mak Alisa bangkit dan menuju ke bawah. Sampai dibawah, ia kembali membentang Ambal yang lumayan besar. Seluruh ruangan itu ia geser sendiri. Walau sesekali ia menangis.


Tetap saja tangan itu terus bergerak menggeser apa yang harus ia geser. Memang sih tidak ada sofa disana jadi memudahkan Mak Alisa tanpa menggeser semua kursi itu.


Deg!


Deg!


Annisa, Ira dan Bunda Zizi tersentak mendengar ucapan Mak Alisa. Ia pun bergegas berwudhu. Begitu pun dengan Annisa dan Ira.


Mereka sholat bersama. Sedangkan ke empat pria dewasa itu mengangkat jenazah ayah Emil untuk dibawa ke bawah menuju ruang tamu yang sudah luas tanpa penghalang lagi.


Mak Alisa mengangkat sebuah tilam. Kemudian sarungnya ia ambil dari kamar bunda Zizi. Papi Gilang tertegun melihat nya. Belum pernah sekalipun ia melihat sang istri seperti itu.


Dengan sigap Mak Alisa membentangkan tilam itu sekaligus pembalutnya. Baru kemudian Mak Alisa menyuruh keempat pria itu meletakkan Jenazah Ayah Emil disana. Arta pun ikut membantu. Ia berada tepat di kaki ayah Emil.

__ADS_1


Sepagi itu rumah besar ayah Emil sudah di penuhi tetangga yang berdatangan karena terkejut dengan mendengar kabar dari Syakir jika ayah Emil sudah tiada.


Syakir pun segera menghubungi seluruh keluarga ayah Emil. Seluruh keluarga itu begitu shock.


Mereka secepat mungkin bergerak menuju kediaman ayah Emil. Baru sebentar keluarga ayah Emil berdatangan, sudah terdengar seruan di mesjid sana tentang pemberitahuan tentang meninggal nya ayah Emil.


Seluruh warga kampung itu pun ikut melayat. Mak Alisa baru bisa sholat setelah semuanya selesai. Hampir pukul enam pagi baru beliau bisa sholat.


Ia pun menghubungi keluarga Mak Alisa yaitu Kakek Yoga selaku mantan mertua almarhum ayah Emil.


Annisa duduk di kepala sang ayah. Ada bunda Zizi dan Bella. Di sisi kanan ada kak Ira. Dan dikaki ada Syakir dan Arta.


Untuk sekolah Arta dan Syakir sudah dihubungi oleh Papi Gilang. Juga sekolah Bella. Mereka pun terkejut mendengar kabar itu.


Para pelayat terus berdatangan. Mak Butet yang sudah di hubungi pun segera berlalu menuju kediaman sang putri yang sedang berduka saat ini karena kehilangan suaminya.


Seluruh keluarga besar Bunda Zizi pun ikut datang melayat. Tiba disana tidak ada yang berani berbicara macam-macam. Karena masih teringat ucapan Annisa dan Ira enam bulan yang lalu.


Rumah kediaman ayah Emil dipenuhi pelayat. Pukul sembilan pagi jenazah itu dimandikan dengan ke lima anak ayah Emil sebagai pemangku jenazah itu.


Bilal juru jenazah itu pun terkejut kala melihat wajah ayah Emil yang begitu berseri. ''Masyaallah tampannya nak Emil.. wajahnya begitu tenang dan bibir itu tersenyum lembut pada kita semua. Masyaallah .. semoga Allah memberikan tempat yang layak untuknya, amiin.. bismillahirrahmanirrahim...'' ucapnya dengan segera memandikan jenazah ayah Emil.


Kelima anaknya lagi, meneteskan air mata. Apalagi Lana yang saat ini berada di kepala sang ayah. Ia menangis tanpa suara. Sakit sekali.


Mereka berdiaman tanpa berbicara tetapi air mata sebagai pertanda jika hati mereka begitu kehilangan ayah Emil saat ini.


Selesai dengan memandikan, kini jenazah ayah Emil dibawa kembali keruang tamu untuk di kafankan. Lagi, kelima anak itu tersedu kembali. Apalagi Annisa.


Ia yang paling terpukul saat ini. Dialah saksi hidup kepergian ayah Emil tadi malam tepat ketika waktunya orang sholat tahajud.


Tama memeluk erat dirinya. ''Sabar.. ikhlaskan kepergian nya. Ayah sudah tenang disana. Jangan meratapinya. Berdoalah untuk kelapangan kuburnya dan diampuni segala dosanya. Hem?'' ucap Tama pada Annisa yang kini masih tersedu di pelukan nya.

__ADS_1


Dan.. othor mau pose! keriting ini jari! Jan lupa like, komen dan kembang nya buat Othor.


Kalai ada typo nanti othor revisi. Sebentar lagi menuju puncak konflik yang sesungguhnya! 😪😪


__ADS_2