Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Lamaran untuk Tama


__ADS_3

Malam harinya.


Lima orang lelaki berbeda usia memasuki rumah sambil Terkekeh-kekeh kecil. Entah apa yang mereka bicarakan, mereka berlima tertawa sambil mengejek Tama dan juga Rayyan.


Mak Alisa kebingungan melihat kelima pemuda itu. Tama terkekeh sedang Rayyan merengut sebal. Wajahnya begitu kesal saat ini.


''Loh? Abang kenapa? Kok merengut gitu mukanya?'' tanya Mak Alisa sambil mendekati Papi Gilang dan Kakek Yoga untuk disalimi tangan nya.


Papi Gilang terkekeh, ''Abang di goda sama pak penghulu tadi di mesjid. Katanya Abang cocok menjadi calon menantunya. Dan menggantikan beliau menjadi seorang penghulu di kecamatan kita ini,'' kata Papi Gilang sambil terkekeh-kekeh.


''Enggak! Abang nggak mau! Abang mau pulang ke Medan besok, kalau sampai kalian semua memaksa Abang untuk mau menerima lamaran dari Pak penghulu itu! Enak aja! Mau jadiin Abang menantu nya! Emangnya Abang ini tukang nikahin orang apa hingga mau di gantikan posisinya ke Abang?! Nggak! Abang nggak mau!'' bantah Rayyan pada semua orang.


Semua yang ada disana, tertawa bersama. Sangat lucu saat melihat Rayyan di goda seperti itu hingga sampai merajuk kayak gitu. Wajahnya di tekuk. Masam sekali.


Annisa tertawa terbahak. Tama pun hanya terkekeh melihat kelakuan Annisa. Ia pun tadi di kenakan dengan seorang gadis seumuran dengan bau oleh pak penghulu.


Tapi Tama hanya menanggapinya biasa saja. Toh, ia sudah ada Annisa yang menurut nya lebih cantik dan lebih pintar dari gadis yang tadi ia temui di mesjid.


Rayyan menatap Tama, ia tersenyum jahil saat memiliki ide ingin merecoki hubungan Kakak dan Kakak iparnya itu.


''Ehemm, tadi kan ya, Bang Tama juga dilamar tuh sama pak penghulu. Ingin di jadikan sebagai menantu dari keponakan nya!''


Deg!


Tama menatap tajam pada Rayyan. Sedang Annisa berhenti dari tertawanya karena menggoda Rayyan. Matanya menatap pada Tama.


Tama menggeleng. Rayyan semakin terkikik geli. Dua paruh baya yang ada disana menatap Rayyan dengan serius. Papi Gilang terkekeh, karena dia tau Rayyan sedang mengusili kedua saudaranya itu.


Mak Alisa menatap Rayyan penuh tanda tanya. ''Tenang Mami.. akan Abang jelaskan. Awal mulanya Bang Tama yang akan di jodohkan sama keponakan Pak penghulu itu. Karena beliau menyukai bang Tama yang sangat santun terhadap yang lebih tua. Dan pun Abang sangat cerdas dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan padanya tentang sifat dua puluh. Abang menjawabnya dengan lancar dan lugas. Dan itu membuat Pak penghulu itu menyukai Abang. Dan ya, tadi mereka sudah diper temukan bersama dan sempat juga ngobrol bersama.'' Cerita Rayyan pada semua yang ada disana.

__ADS_1


Tama menatap Annisa yang bersifat biasa-biasa saja. Papi Gilang Terkekeh. ''Udah Bang.. terima aja pinangan dari Pak penghulu itu. Kamu lebih cocok dengan nya dibandingkan dengan Kakak Annisa. Iyakan Kak? Adek Annisa kan masih sekolah? Sementara gadis itu sudah cukup umur. Dan di juga tak kalah cantik kok dari adek Annisa? Ya kan sayang? Bang Tama sama gadis itu aja ya? Dia pun kerjanya udah bagus, guru sekolah loh.. Besok, kalau berdua harus dipertemukan kembali dan untuk kamu Tama, Kamu harus melepaskan Annisa. Ceritakan dia! Dia tidak pantas untukmu!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Bagai disambar petir diri Annisa dan Tama. Mereka berdua tersentak mendengar ucapan Papi Gilang yang kali ini benar-benar serius. Mak Alisa menatap horor pada Papi Gilang. Papi Gilang tidak peduli.


Suasana tiba-tiba saja hening. Semuanya menatap Tama yang kini sedang menatap Annisa. Sedang yang ditatap sibuk bermain dengan Si kembar Ziara dan Arga.


''Tama! Segera ceraikan Annisa! Papi mau kamu melepaskannya dan menerima lamaran dari Pak penghulu itu!''


Deg!


Deg!


Jantung Annisa berdegup kencang. Ia tidak sekali pun menoleh pada Tama. Ingin sekali ia menyela perkataan Papi Gilang, namun ia tidak punya keberanian.


''Lakukan Tama!''


Deg!


Annisa pura-pura tidak mendengarkan. Padahal hatinya saat ini begitu sesak. Ingin sekali ia menangis. Papi yang begitu ia banggakan malah tega ingin memisahkan dirinya dari cintanya. Padahal Papi Gilang tau seperti apa cintanya untuk Tama selama ini.


Wajah Mak Alisa berubah menjadi datar. Ia menatap Papi Gilang dengan mata tak berkedip. Papi Gilang tau, tapi ia tetap pada keputusan nya.


''Selesaikan malam ini juga Tama! Karena selepas kita pulang dari sini, Papi akan menikahkan mu dengan gadis itu. Menurut Papi gadis itu tak kalah cantik dari adek Annisa. Kepintarannya pun tidak diragukan lagi. Papi hanya ingin yang terbaik untuk putri Papi. Sekarang Papi ingin tanya sama kamu Kak. Apa keputusan mu?'' tanya Papi Gilang pada Annisa yang kini tengah menatap nya dengan wajah biasa-biasa saja.


Annisa tersenyum, ia menatap lembut pada Papi Gilang. Cinta pertama nya. ''Kakak akan terima apapun yang menurut Papi itu baik. Buat apa kakak menentang, jika yang kalian katakan itu memang benar? Ya. Kakak memang masih kecil. Tidak pantas bersanding dengan Abang. Abang lebih baik mencari wanita lain. Dan ya, seperti kata Papi tadi, Abang boleh menjatuhkan talak padaku saat ini juga! Biar semuanya tuntas! Iya kan Pi??'' tanya Annisa pada Papi Gilang.


Papi Gilang menatapnya entah seperti apa. Annisa bukan cenayang yang tau apa isi hati Papi Gilang dan apa yang sedang ia rencanakan. Cuma dia yang tau. Tapi yang jelas, Papi Gilang pasti sudah memikirkan masak-masak tentang hal ini.

__ADS_1


Papi Gilang tidak menyahuti ucapan Annisa. Tapi ia beralih pada Tama. Yang wajahnya kini datar tanpa ekspresi. Seutas senyum tipis terbit di bibir tipis Papi Gilang. Mak Alisa memicingkan matanya saat melihat ada yang aneh dari wajah Papi Gilang.


Ia melototkan matanya saat menyadari jika Papi Gilang sedang mencoba menghasut dan menggoyahkan pernikahan beda usia itu. Mak Alisa sampai geleng-geleng kepala melihat kelakuan Papi Gilang yang membuat mereka semua sport jantung.


''Jawab Tama, apa yang menjadi keinginan mu.'' Kata Papi Gilang lagi.


Tama tetap menatap pada Annisa. Entah apa yang ada di hati nya saat ini, Papi Gilang tidak tau. Tapi sorot matanya mengatakan sesuatu bahwa..


''Abang akan melepaskan Annisa, jika Annisa sendiri yang memintanya sama Abang tanpa tekanan ataupun hasutan dari siapapun! Maka... Abang akan melepaskan nya!''


Deg!


Deg!


Lagi, jantung semua orang yang ada disana berdetak tak karuan. Rayyan dan Papi Gilang sangat suka memancing di air yang jernih. Terlihat dan tembus pandang. Tapi didalam, ketajaman air siapa yang tau?


Inilah yang terjadi pada Annisa dan Tama saat ini. Kakek Yoga menghela nafasnya. Ia sangat mengenal sifat menantu nya ini. Ia tidak mungkin mengatakan suatu hal yang bisa melukai keduanya. Pasti ada sesuatu, tapi hanya dia yang tau apa dan bagaimana tujuan nya yang sebenarnya.


''Sudah, ayo kita makan. Habis makan baru kita bahas lagi. Kakek lapar mau makan! Udah siap kan Ma?'' tanya nya pada Nenek Alina.


''Udah siap semuanya. Ayo kita makan dulu.'' sahut nenek Alina.


Semuanya bergerak tanpa dipandu. Annisa dan Tama berjalan belakangan. Tak ada yang keluar sepatah katapun dari bibir keduanya. Bahkan saat mereka makan pun, Annisa dan Tama lebih banyak diam.


Sementara yang lain asik bergurau bersama. Mak Alisa mendelik pada Papi Gilang. Papi Gilang melengos. Pura-pura tidak tau saja. Namun, bibir tipis itu tertarik lagi saat melihat Annisa tetap melayani Tama walau tanpa sepatah kata pun.


💕💕💕


Hehehe.. maaf malam othor batu update!

__ADS_1


Maka Mak euuyy!


__ADS_2