Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Jalan-jalan ke pantai batu putih


__ADS_3

Setelah makan pembicaraan itu masih saja berlanjut. Tama tidka ingin berkata sepatah katapun. Karena ia melihat Annisa yang sudah tidak nyaman dengan perkataan Papi Gilang dan Kakek Yoga.


Semua perkataan yang Papi gialng katakan berdua dengan Kakek Yoga seperti memaksa Tama untuk berpisah dari Annisa. Tama menatap datar pada Annisa. Annisa tak peduli.


Saat ini ia ingin sekali pergi ke kamar dan mengurung diri. Sedari mereka pulang dari mesjid hanya pembahasan itu saja yang dibahas.


Jengah, Annisa berlalu ke kamar dengan membawa kedua keponakan nya untuk tidur. Karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh malam.


Sementara Kelima orang itu masih duduk disana. Rayyan sedang menonton tivi berdua dengan Tama. Sedang Algi sudah istirahat duluan di kamar atas.


Papi Gilang melihat Tama yang sibuk dengan ponselnya. Ia tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan. Karena hatinya kini begitu gelisah memikirkan Annisa yang berlalu dengan wajah sendu.


Berulang kali Tama mengirim pesan padanya. Tapi tetap tak ada balasan. Malah hanya centang satu. Yang berarti Annisa tidak aktif saat ini.


Sementara Annisa, gadis kecil itu sedang menidurkan kedua ponakannya di temani Nara. Nara menatap sendu pada Annisa.


''Kak...''


''Bobok aja dek.. kakak tak apa. Kakak ingin nulis sebentar. Kamu aja ya yang nemani Arga dan Ziara. Kakak ambil laptop dulu di bawah. Kayaknya kebawa sama Algi deh.'' Katanya pada Nara.


Dengan segera ia berlalu tanpa mendengar kan lagi apa yang akan di ucapkan Nara. Nara melipat bibirnya karena melihat Annisa berlalu keluar dengan terburu-buru.


Annisa masuk ke kamar Algi bertepatan dengan Tama yang juga ingin masuk ke kamar itu ingin mengambil tasnya. Malam ini ia ingin tidur di kamar tamu saja. Pikirnya.


Deg!


Mereka berdua terkejut. Namun, Annisa segera masuk kekamar Algi tanpa melihat Tama yang berdiri mematung ingin mengatakan sesuatu. Tiba di dalam kamar, Annisa mencari tasnya.


''Dek! Laptop kakak mana??'' tanya nya pada Algi.


Algi yang sedang tengkurap sambil melihat laptop pun bangun. ''Ini. Tadi adek pakai sebentar ingin lihat youtoob.'' jawabnya sambil nyengir kuda.


Annisa berdecak sebal. ''Sini! Kamu aku mau minta dibelikan sama Papi! Jangan punya kakak! Ini barang berharga Kakak tau!'' sungutnya tak terima karena Algi yang memakai laptop pemberian Tama satu tahun yang lalu hadiah ulang tahunnya.


Tama yang sedari tadi diam, kini terkekeh melihat tingkah Annisa yang tiba-tiba berubah menjadi pelit sama barang pemberian nya.


''Hehehe.. Papi nggak mau beliin adek jika laptop itu tidak bisa menghasilkan uang begitu katanya kak.''


''Terserah! Balikin punya kakak! Kakak mau emm.. ada deh! Kemari kan!'' titahnya galak pada Algi.


Dengan segera Algi memberikn laptop itu pada Annisa. Annisa mengambilnya dengan wajah kesal.


Cup!


Algi mengecup pipi Annisa karena gemas pada Kakaknya ini. ''Adek!!'' seru Annisa karena kesal di kecup seperti itu di depan Tama.


Tama tertawa. Algi cengengesan. ''Ck! Dasar adek nggak ada akhlak! Awas kamu! Bulan depan kakak potong uang jajan kamu!''

__ADS_1


''Weits! Jangan ih! Adek mau nabung Kak! Please.. jangan di potong ya? ya? ya?'' pinta dengan wajah dibuat-buat memelas.


Annisa melengos. Tama terkekeh saja. Ia mengambil tasnya dan berlalu dari kamar itu tanpa melihat Annisa lagi. Annisa menghela nafasnya. Wajahnya kembali sendu. Algi menatap heran pada kakak nya itu.


''Kak...''


''Kakak ke kamar dulu. Istirahat lah! Besok kita akan jalan-jalan ke pantai batu putih.'' Katanya pada Algi.


Algi mengangguk setuju. Annisa pun berlalu dan masuk ke kamar nya dengan Nara dan dua keponakannya tadi.


Sedangkan empat orang disana menghela nafasnya saat melihat wajah sendu Tama. ''Kamu harus tanggung jawab Papi! Kalau sampai adek dan Abang besok tidak baikan, kamu harus tanggung jawab! Aku tidak main-main Gilang Bhaskara!''


Deg!


Deg!


Mama Alina dan Papa Yoga terkejut dengan ucapan Mak Alisa. Sedang yang ditatap berlalu pergi dengan wajah kesal. Papi Gilang terkikik geli. Kedua paruh baya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah Papi Gilang yang sangat suka merecoki hubungan pasangan beda usia itu.


Ke esokan paginya.


Pukul sepuluh pagi, mereka semua ingin pergi jalan-jalan ke pantai batu putih. Menggunakan dua mobil, seluruh keluarga ikut jalan-jalan bersama mereka. Termasuk keluarga Kakek Yoga.


Semuanya bertemu di pantai batu putih nanti. Dan sekarang, mereka sedang berada di dalam mobil. Annisa memilih masuk ke mobil Kakek Hilman. Karena kebetulan sekali beliau datang.


Ia tidak ingin satu mobil dengan Tama dan Papi Gilang. Yang ujung-ujungnya akan menimbulkan masalah baru lagi bagi mereka berdua. Kakek Hilman kebingungan melihat Annisa menaiki mobilnya.


Papi Gilang dan Papa Yoga hanya bisa pasrah. Mereka tidak ingin meributkan Masalah Annisa karena tujuan mereka kesana ialah berlibur. Dan sekarang waktunya untuk mereka berlibur.


Sedari tadi malam Tama pun tidak berbicara sepatah katapun dengan Annisa. Ia ingin mencari waktu yang tepat agar bisa berbicara berdua dengan Annisa nanti di pantai.


Cukup satu jam saja perjalanan menuju ke pantai batu putih dari rumah mereka. Tiba disana, Annisa dan kedua keponakan nya langsung saja berlari ke arah pantai.


Annisa dan Rayyan berlarian mengejar bocah rusuh itu. Sedangkan seluruh keluarga mencari tempat untuk mereka berteduh dari panas. Maklum hawa panas di daerah Aceh itu begitu terasa.


Lagi pun tempat Mak Alisa daerahnya ini sangat dekat dengan laut. Hawa air asin begitu kata orang Aceh.


Semua keluarga berkumpul di sebuah pondok dekat dengan Annisa dan Nara berada saat ini.


Mereka tertawa bersama saat melihat tingkah Ziara dan Arga yang begitu senang kala melihat air laut. Mereka sibuk dengan diri masing-masing. Tanpa sadar mereka mengabaikan Tama.


Tak ada satu orang pun yang ingin berbicara padanya walau sekedar menyapa. Lelah dengan hati dan pikirannya karena hal tadi malam, Tama berbalik pergi meninggalkan mereka semua yang sibuk tertawa melihat kelakuan cucu Mak Alisa. Putri Ira dan Ragata.


Tama berjalan menyusuri pantai di bawah teriknya matahari siang. Ia berjalan tidak tau kemana. Kaki berjalan sedang hati dan pikiran melalang buana entah kemana.


Hingga kakinya berhenti di sebuah pohon kelapa yang bengkok batangnya. Tama duduk disana dengan melihat ombak menggulung-gulung di tepi pantai.


Entah apa yang ada di pikiran nya saat ini. Yang jelas, hatinya begitu gelisah dan tidak tenang. Ia melamun. Duduk sendiri tanpa ada yang menemani.

__ADS_1


Di ujung sana ada seorang gadis sedang menatap Tama dengan senyum manis terukir di bibir nya.


Gadis itu berlari mendekati Tama. Dan saat Tiba didekat Tama, ia memanggil Tama membuat pemuda tampan yang sedang melamun itu terkejut.


''Bang Tama? Sendirian aja? Mana keluarga kamu?''


''Eh? Oh, hai ketemu lagi ya? Ehm.. saya datang bersama keluarga. Tapi mereka ada di ujung sana. Saya hanya ingin menikmati suasana pantai. Kamu sendiri? Sedang apa disini??'' tanya Tama balik pada gadis itu.


''Saya juga datang bersama keluarga. Papa sempat bertemu dengan Kakek Yoga. Itu makanya aku tau, jika kamu pasti juga datang disini. Kata Bapak-bapak itu tadi kamu menuju kesini. Dan ya, Aku menemukanmu!''


Tama tersenyum tipis. Ia tidak menyahuti lagi ucapan gadis yang tadi malam bertemu dengan nya di mesjid dan sempat di jodohkan oleh Papi Gilang dan Kakek Yoga.


''Annisa..'' lirih Tama karena melihat Annisa berdiri mematung dengan tangan terkepal erat.


Gadis itu mengernyitkan dahinya bingung. ''Siapa Annisa? Dimana dia??'' tanya nya.


Tama tidak menjawab. Matanya fokus melihat seseorang di belakang gadis yang sedang berdiri dihadapannya.


Sementara Annisa mengusap kasar air matanya dan berlalu pergi dan menjauh dari keluarganya.


Tama bangkit dan ingin mengejar Annisa, tapi tertahan karena Gadis yang berada di hadapannya ini mencekal tangan nya.


''Kita perlu bicara Bang. Masalah tadi malam belum selesai. Ayo kita selesaikan. Selagi semua keluarga berkumpul di sini.'' imbuhnya


Membuat Tama menghentikan langkahnya untuk berlari mengejar Annisa. Sementara Annisa semakin hancur hatinya saat mendengar sang Papi menerima lamaran keluarga gadis itu untuk suaminya Tama.


Ia berlari tidak tentu arah. Hingga di pinggir pohon jambu yang begitu banyak buahnya, Annisa jatuh terduduk. Ia menangis sekuatnya disana untuk meluapkan rasa sesak di dadanya mulai dari tadi malam hingga sekarang.


Seseorang mengepalkan kedua tangannya saat melihat Annisa menangis meraung tidak karuan di tempat yang sunyi. Ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya.


Ia berlari ke tempat dimana seluruh keluarga berkumpul. Disana sudah ada Tama dan juga Rayyan serta seorang gadis yang Katanya Sangat ingin menerima perjodohan itu di akibatkan karena Papinya.


''Hoo.. jadi bang Tama ingin menikah dengan gadis ini? Begitu kan Pi?''


Deg!


''Nara!''


''Kalian tega! ingin menikahkan bang Tama dengan gadis lain sementara kak Annisa masih ada!''


Deg!


''Nara!!''


''Apa!! Tak suka? Mau kalian Keman kan Kak Annisa yang sudah sah menjadi istri bang Tama? huh?! Aku benci kalian para orang tua yang tidak mengerti perasaan anaknya! Apa kalian tau? Kak Annisa menjerit, menangis, meraung di ujung sana karena kelakuan kalian semua! Kecewa adek sama kalian! Abang Juga! Bukan nya mengejar kakak! Malah sibuk dengan perempuan lain! Jijik aku melihat kalian semua! Kalian egois! lebih baik kami mati daripada kami harus tertekan karena permainan kalian para orang dewasa!AKU.. BENCI PAPI DAN MAMI! KALIAN JAHAT! KALIAN TEGAAAAA!!!!!''


Ddduuaaarrr...

__ADS_1


__ADS_2