Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Ritual adat


__ADS_3

Tiba di tangan ballroom yang sudah ramai dengan keluarga mereka, Annisa dan Tama saling pandang kala melihat seseorang yang mereka kenal.


''Ustadzah Hanim?!'' seru Annisa begitu terkejut saat melihat wanita paruh baya itu yang terduduk dibangku di sebelah bangku yang akan Annisa duduki nanti saat ritual adat di mulai.


Annisa berjalan mendekat dengan tangan menggenggam erat tangan Tama dan Kinara. Tiba di sana,


''Ini dia pengantin nya! Sudah sedari tadi kita tunggu-tunggu!'' celutuk sang Nenek. Nenek Tama kakak dari neneknya.


Annisa mematung Kaka melihat ustdzah Hanim menatap datar padanya. Hati Annisa seperti tercubit. Tama mengeratkan genggaman tangannya di tangan Annisa.


''Ayo duduk. Mereka sudah menunggumu sedari tadi. Ayo Dek, temani kakak mu.'' Ucapnya pada Kinara.


Kinara mengangguk dan menarik Annisa agar terduduk di kursi yang berdekatan dengan ustdzah Hanim. Wanita paruh baya itu masih tidak ingin melihat Annisa.


Annisa menunduk. Kinara yang berdiri disampingnya menguatkan Annisa dengan tersenyum lembut padanya. Annisa pun ikut tersenyum. Walau terasa sangat dipaksa.


Acara adat pun dimulai.


Bagi sepasang pengantin baru yang keturunan Aceh ada adat turun mandi bagi seorang gadis sebelum ia menikah untuk keesokan harinya.


Dimana para keluarga semuanya berkumpul bersama dan memandikan Annisa silih berganti dengan saudara yang lain.


Rendaman air bunga mawar tujuh rupa di campur dengan janur kuning melengkung di atas kendi, Annisa mulai dimandikan oleh satu persatu sanak keluarga.


Begitu pun dengan Tama. Dalam adat Jawa sering disebut dengan siraman. Mereka berdua sedang di mandikan di tempat yang berbeda.


Untuk nanti malam, mereka berdua tidak dipertemukan. Mereka akan dipertemukan keesokan hari nya di waktu akad ulang.

__ADS_1


Saat gayung yang berbentuk bulat terbuat dari tempurung itu di pegangin oleh ustdazah Hanim, Annisa menunduk. Bahunya bergetar. Ustdzah Hanim pun demikian.


Mak Alisa tersenyum melihat nya. Tadi, ustdzah Hanim sudah tau kalau Annisa sudah menikah dengan Tama saat kenaikan kelas dulu. Ustdzah Hanim terkejut karena merasa di bohongi.


Tetapi setelah mendengar kan penjelasan dari Mana Linda dan Papa Fabian, Wanita paruh baya guru Annisa itu baru bisa bernafas dengan lega.


Karena ia tau, Annisa dan Tama terpaksa menyembunyikan identitas pernikahan mereka karena Annisa yang masih sekolah. Pernikahan yang terjadi dulu itu merupakan pernikahan dadakan.


Tapi tidak dengan sekarang. Pernikahan sekarang ini akan mereka umumkan kepada seluruh masyarakat kota Medan yang mana seorang pengusaha showroom dan pemilik bengkel otomotif itu akan segera menikah.


Undangan sudah disebar luaskan. Semua ini atas ide dari Tama. Selama tiga bulan ini ia menyiapkan sendiri acara pernikahan nya. Dibantu oleh Papa Fabian, Mama Linda, kedua adik Tama dan tidak ketinggalan Mitha dan Anto.


Mereka pun ikut andil dalam hal itu.


Tes.


Tes.


Semakin lama semakin banyak. Annisa tersedu. Begitu pun dengan ustdazah Hanim. Cukup tiga gayung saja, setelah nya beliau mengambil handuk untuk diletakkan di tubuh Annisa yang kebasahan karena air kembang itu.


Annisa masih tersedu kala ustdazah Hanim membawa dirinya masuk ke kamar nya. Mereka berdua berjalan beriringan dengan Annisa yang masih tersedu.


Tidak ada yang berbicara. Keduanya masih membisu. ''Ganti bajumu. Dan pakailah ini. Sarung ini pemberian dari gurumu. Ustadzah Hanim!'' ucap Mak Alisa yang semakin membuat Annisa bertambah tersedu.


Ia berbalik dan memeluk erat tubuh wanita paruh baya yang sudah ia anggap Mak nya itu. ''Kenapa kamu nggak bilang nak? Jadi.. selama ini nak Tama datang itu memang sudah menjadi suami mu??''


Annisa tidak menyahuti. Ia masih terisak di pelukan ustdzah Hanim. ''Berarti setiap kali demam karena kamu tidak bisa jauh darinya nak??'' tanya nya lagi.

__ADS_1


Annisa tidak menyahut. Mak Alisa yang paham, ia memilih keluar dari kamar itu dan membiarkan Annisa dan ustdzah Hanim berbicara sebentar.


''Ma-maaf Us hiks tadzah..'' Isak Annisa


''Ceritakan! Ustadzah ingin mendengar nya darimu..''


Annisa mengurai pelukannya dan melihat Annisa yang kini masih saja terisak. Dengan segera ustdazah Hanim mendudukkan Annisa di kloset.


Ia membuka hijab, baju serta seluruh pakaian yang melekat di tubuh Annisa. Annisa tersedu lagi. Tapi ia tau, jika bersama ustdazah Hanim bila di kamar mandi tidak boleh berbicara.


Ustdzah Hanim menyiram kembali air mawar kembang tujuh rupa itu di seluruh tubuh Annisa.


Dirasa cukup, ia membalut tubuh halus itu dan segera membawanya ke ranjang. ''Ceritakan!'' titah nya lagi.


Annisa mulai menceritakan dari awal ia menikah karena apa hingga ia lari ke pesantren saat itu. Dan juga Tama yang menyesal karena telah mengabaikan nya.


Tidak ada yang ditutupi oleh Annisa lagi dari wanita paruh baya itu. Ustadzah Hanim tertegun sejenak, ''Tunggu dulu. Kalau begitu kamu dan Tama sudah melakukan hubungan suami istri?!'' serunya dengan suara naik satu oktaf.


Annisa menggeleng, ''Tidak Ustadzah. Abang tidak melakukan hal itu. Tapi.. selain dari itu, iya..'' lirih Annisa dengan pipi merona.


Ustdzah Hanim menghela nafasnya. ''Tak apa. Apa yang sudah terjadi tidak mungkin bisa di ubah lagi. Semua ini sudah terlanjur. Seharusnya jika seperti ini kamu sudah kami keluarkan dari sekolah Annisa.''


Deg!


Deg!


''Apa?!'' pekik Annisa begitu terkejut.

__ADS_1


''Ya, tapi ya sudah. Toh, kamu sudah selesai ujian kan? Dan lagi.. ustadzah pun taunya seminggu yang lalu setelah ujian kamu selesai. Ustdzah tidak bisa berkata apapun lagi saat ini. Awalnya ustdzah marah. Tapi setelah mendengar cerita dari Mak dan juga mertua mu ditambah dengan kamu, ustdzah percaya. Ustdzah merestui mu. Semoga kamu bahagia dan selalu dilimpahkan Rahmat Allah SWT untuk rumah tangga kalian berdua.''


__ADS_2