Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Sensitif


__ADS_3

Nak.. sudah.. Bude datang kesini karena ingin menjenguk mu. Bude dengar dari Mak kamu kalau kamu kuliah disini dan dekat dengan toko roti Bude. Maafkan Pakde mu ya?'' punya Mami Zahra dengan lembut pada Annisa


Annisa menggeleng, ''Nggak Bude! Pakde harus tau tentang masalah dulu. Pakde salah karena telah menuduh Mak dan Papi Gilang yang sudah menculik Bude. Masa iya di culik Bude bisa sehat dan semok sih?!'' sungut Annisa tiba-tiba menjadi kesal.


Mutia dan Sarah saling pandang kemudian mengulum senyum. Inilah yang saat ini terjadi pada Annisa. Lagi baik, maka baik juga moodnya.


Tetapi jika sedang kesal, moodnya pun mendadak berubah. Terkadang pun ia menangis sendiri karena tidak di penuhi keinginan nya. Mutia dan Sarah sering kali kelimpungan melihat sikap Annisa ini.


Satu bulan ini mereka berdua di pusingkan dengan sikap Annisa yang sering berubah-ubah dan sangat sensitif.


Begitu juga dengan saat ini. Mami Zahra menghela nafasnya. ''Kita duduk dulu nak. Pegal Bude Gendong adek kamu ini!'' gerutu Bude Zahra sedikit kesal pada Annisa yang tidak menyuruhnya duduk.


Annisa menghela nafasnya. ''Padahal aku menyukai Pakde. Pakde itu sama seperti Papi. Tetapi karena kejadian dulu, yang tanpa konfirmasi kalian langsung saja menyerang Mak dan Papi ku. Pakde jahat! Hiks .. Pakde jahat!'' seru nya sedikit kuat hingga membuat Sarah dan Mutia panik bukan main.


''Annisa, lihat aku!'' titah Sarah pada Annisa yang kini tiba-tiba tersedu. Annisa menoleh padanya walau tersedu.


''Kamu nggak boleh cengeng! Ingat kata dokter kemarin, Hem?'' ucap Sarah mencoba menenangkan Annisa.


''Hiks .. hiks.. tapi Pakde Rian jahat! Dia nggak sayang sama aku! Hiks.. dia mirip saja kayak Papi! Tetapi dia tidak sayang padaku! Hiks.. bang Tama.. adek mau hiks.. pulang... aaaaa..'' Annisa tersedu di pelukan Sarah.

__ADS_1


Mutia menghela nafasnya. Ia menoleh pada Mami Zahra yang tertegun melihat tingkah Annisa sama seperti dirinya beberapa bulan yang lalu.


''Apa mungkin...''


''Mari duduk Mami, Papi. Silahkan!'' ucap Mutia mempersilahkan kedua orang yang sedang menatap Annisa dengan raut wajah bingung.


''Annisa tidak apa-apa Bude.. ayo! Duduk dulu. Sini dulu, adek bayinya? Siapa ini namanya??'' tanya Mutia pada bayi Mami Zahra yang baru enam bulan itu.


''Apakah Annisa...''


''Nggak Bude! Bukan apa-apa kok!'' potong Sarah dengan tersenyum manis menutupi keadaan Annisa yang sebenarnya.


Karena mereka takut kejadian satu Minggu yang lalu terulang kembali. Annisa sampai masuk rumah sakit lagi lantaran mood nya tiba-tiba buruk karena salah satu mahasiswa menggodanya dengan mengatakan jika ia ingin menikahi Annisa.


Annisa tersedu waktu itu saat pemuda itu mengatakan nya. Bahkan Annisa sampai mengamuk pada lelaki itu dengan cara menghajar nya hingga membuat Annisa dipanggil keruang dekan.


Beruntung nya Annisa ia selamat dari hukuman karena ketua dekan itu memaklumi nya.


Dan hari ini? Kedatangan Papi Rian membuat mood Annisa hancur total. Dia yang tadinya sangat ingin makan makanan yang manis, kini sudah hilang selera nya.

__ADS_1


Susah payah Sarah membujuknya hingga Annisa kini diam, tetapi wajah itu begitu jutek kepada Papi Rian.


Mami Zahra tersenyum saat melihat perubahan pada diri Annisa. Ia tau kenapa Annisa seperti itu. ''Bude datang kesini untuk mengunjungi mu. Karena Mak kamu bilang, kamu sangat ingin makan puding lumut buatannya bukan begitu??''


Annisa diam. Dia tidak ingin menjawab ucapan Mami Zahra. Matanya itu menatap dingin pada Papi Rian.


''Ya, aku ingin makan puding lumut buatan Mak!'' jawab Annisa sedikit ketus pada Mami Zahra.


Beliau terkekeh. ''Bude bawakan kok. Ambillah. Bude bawa banyak. Di mobil ada lagi kok,'' Annisa melengos


Mami Zahra tertawa. ''Hem.. kamu merajuk sama Bude?? Yakin??'' godanya pada Annisa.


Annisa tetap melengos. Tidak ingin melihat kedua orang itu. Ia masih saja tidak suka pada Papi Rian suami Bude Zahra.


💕


Ingin tau cerita Mami Zahra? Yuk mampir!


__ADS_1


Nih ye?


__ADS_2