Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kerumah Ayah Emil


__ADS_3

Selesai mandi, Tama dan Annisa mulai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Mereka melaksanakan sholat dengan khusyuk hingga selesai.


Setelah selesai, Tama membalikkan tubuhnya dan menghadap Annisa. Annisa mengulurkan tangannya untuk menyakini Tama. Tama tersenyum, bukannya melepas ia semakin erat memegang tangan itu.


Grep!


Annisa tertawa. ''Maafkan kesalahan Abang tadi malam. Abang minta maaf. Bukan maksud Abang ingin membuatmu kesal seperti itu. Tapi-,''


''Sssttt... udah! Semua itu sudah terlewat! adek nggak kemana-mana kok. Sedari jam sepuluh adek nungguin Abang sendiri di kamar. Tapi Abang nggak kunjung masuk. Karena udah ngantuk adek memilih tidur duluan. Lampu sengaja adek matikan. Abang kan tau kalau adek itu sukanya tidur dalam gelap??'' potong Annisa dengan tangan terletak di bibir Tama.


Tama tersenyum haru. ''Maafkan Abang sayang...'' lirih Tama dengan memeluk erat tubuh Annisa.


Annisa mengelus tubuh belakang Tama. ''Udah.. adek tak apa Abang. Tadi malam itu hanya sedang kesal saja. Adek tau udah ngomong terlalu kasar sama mereka bertiga. Tapi cuma itu caranya untuk membuat mereka diam. Kalau nggak, mereka terus saja menggoda ku yang masih kecil ini. Mereka nggak tau aja kalau si kecil ini sudah bisa menghasilkan anak! Ishhh...'' kesal Annisa lagi


Tama terkekeh. ''Abang percaya. Ya sudah bersiap lah. Kita makan di rumah Mak aja nanti. Kinara pasti udah nungguin kita. Udah sediain kado untuk Bella??''


Annisa tersenyum. ''Sudah Abang. Kinara udah nyiapin itu semua. Kita tinggal datang aja. Uang adek sih sebenarnya. Hehehe...''


Tama pun ikut terkekeh.


Mereka berdua bersiap ingin menuju kerumah Mak Alisa. Disana sudah menunggu seluruh keluarga nya. Termasuk kak Ira dan Bang Ragata.


Mereka berdua pergi tanpa mengabarkan kepada pengantin baru yang saat ini sedang melihat mereka dari balik jendela mereka. Anto mengelus lembut tubuh Mitha.

__ADS_1


''Sudahlah Dek. Biarkan dulu kakak ipar kecil kita itu pergi bersama Abang. Abang lebih tau tentang Annisa ketimbang kita. Tapi dari yang terlihat, mereka mau pergi kerumah Mak Alisa ya?''


Mitha menghela nafasnya. ''Ya, mereka akan kerumah Mak Alisa. Kalau saja kita tidak mencari masalah tadi malam. Pastilah saat ini kita ikut bersama mereka...'' lirih Mitha dengan segera berlalu ke dapur untuk mencuci piring sarapan mereka.


Sementara di perjalanan Annisa mendapatkan telepon dari Kinara yang mengatakan kalau mereka sudah menuju kerumah ayah Emil duluan.


Karena Bella sangat ingin bertemu dengan Kinara. Annisa mengiyakan. Mereka berdua langsung menuju ke kediaman ayah Emil yang berjarak dua jam dari tempat mereka saat ini.


Dua jam kemudian.


Annisa dan Tama tiba di kediaman ayah Emil. Disana sudah ada Mak Alisa dan Papi Gilang. Ada kak Ira dan keempat anaknya.


Ada juga Kinara dan Algi yang sedang sibuk merias rumah itu hingga menjadi cantik. Bella berlari saat melihat mobil Annisa dan Tama datang.


Tama tertawa. Ia turun dan segera menggendong Bella yang saat ini sedang menunggu kedatangan mereka.


''Assalamu'alaikum Mak, Papi??'' sapa Annisa dan Tama bersama an.


''Waalaikum salam, oh sayangku!!!'' jawab Papi Gilang mendrama.


Annisa dan semua yang ada disana tertawa. ''Udah ih! Kakak udah besar loh...'' katanya pada Papi Gilang yang saat ini sedang memeluk erat tubuhnya.


''Mana ada kamu besar? Kalau kamu besar nggak akan mungkin Papi bisa peluk kamu! Memang tubuh kamu tambun apa?!'' goda Papi Gilang pada Annisa.

__ADS_1


Annisa melototkan matanya. ''Apa?? Jangan melotot seperti itu sama Papi! Bagi Papi, kamu tetap putri kecil Papi! Paham??'' katanya pada Annisa


Annisa mengerucutkan bibirnya. Ayah Emil terkekeh. ''Sudahlah Gi. Jangan menggodanya terus. Lebih baik kita bersiap sekarang!''


Papi Gilang berdecak sebal. ''Kamu gimana sih Bang? Masa' iya kita yang udah tuir ini ngangkatin mangkuk besar itu! Bisa encok nanti pinggang ku!'' keluh Papi Gilang pada ayah Emil.


Ayah Emil tertawa. ''Ya sudah, kita minta Syakir, Tama dan Arta saja yang mengangkat mangkuk itu.'' Katanya masih dengan terkekeh.


Papi Gilang pun ikut terkekeh. Mereka berdua bahu membahu mengangkat mangkuk yang berisi daging ayam semur yang masih mengepul itu untuk dibawa masuk ke dalam rumah.


Sementara Mak Alisa masih sibuk memasak ikan lain di dapur sana. Annisa tersenyum melihat keakraban sang ayah dan sang Papi dalam mengangkat mangkuk itu.


''Papi asli vs Papi kw kak!'' celutuk Kinara membuat Annisa tertawa terbahak.


Begitu pun dengan Tama. Ia pun ikut tertawa karena ucapan Kinara. ''Kamu ya Dek! Kalau Papi tau, kamu bakalan di Omelin habis-habisan oleh Papi nanti!''


''Hihihi... kan mereka berdua nggak tau Kak!''


Annisa dan Kinara masih saja tertawa-tawa. Tama pun ikut terkekeh. Syakir terkikik geli mendengar kakak tirinya ini mengatakan hal itu untuk kedua ayah mereka.


💕💕💕💕


Dasar Kinara? 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2