Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kau membelanya Zi?!


__ADS_3

''SYAKIR!!!'' pekik Uwak Nita begitu marah.


''Saya!!!'' balas Syakir tak kalah tinggi dari suara Uwak Nita.


Bunda Zizi melihat keadaan semakin tidak baik, ia pun ikut angkat bicara. ''Sudah, sudah. Benar kata Syakir. Jika tujuan Kakak kesini hanya untuk menghina menjatuhkan ku. Lebih baik kalian tidak usah datang. Untuk apa datang kesini jika tujuan kalian hanya untuk menghinanya! Apa salahnya Tama pada kalian semua?! Apakah Tama pernah melukai perasaan kalian?! Apakah Tama pernah mengganggu kalian semua?! Tidakkan??'' ketus bunda Zizi begitu kesal pada Kakak sepupunya ini. Kakak sepupu dari sebelah Ayah nya.


Uwak Nita ini melotot tak terima pada bunda Zizi. ''Kamu Zi! Kamu lebih membelanya dibandingkan saudara mu sendiri?? Apa yang sudah di berikan pria tua itu untuk keluargamu? Selama ini Kamilah yang-,''


''Yang apa?! Yang sengaja datang untuk menggrogoti uang suami ku hingga suamiku harus berhutang di bank begitu?! Lebih baik aku membelanya dari pada aku membela kalian yang tidak tau seperti apa kondisiku! Kalian datang kesini untuk menghina nya atau menjenguk suami ku sih?! Jika tujuan kalian ingin menjenguk suamiku, lebih baik kalian diam! Membuat kepala pusing saja!'' ketus bunda Zizi pada Kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Uwak Nita tertawa sumbang. ''Zi... Zi. Kau harus ingat Zi! Selama ini yang menolong mu adalah kami! Bukan dirinya! Kenapa kamu begitu membelanya?! Apa kelebihan nya dibandingkan dengan kami keluarga mu?''


Bunda Zizi yang kini sedang berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk Tama dan juga untuk ayah Emil berbalik. ''Aku lebih memilih nya karena ia menerima tanpa diungkit-ungkit! Ia memberi tanpa pamrih! Tidak seperti kalian! Sekali menolong, selamanya di ungkit-ungkit terus seperti sekarang ini! Jika dibandingkan dengan kalian, Tama lebih baik! Aku bersyukur pernah mengenal nya. Tetapi aku menyesal memiliki keluarga Pengeruk seperti kalian! Aku heran, kenapa bapak memiliki saudara seperti kalian?! Sudah tidak mau membantu, sekali membantu malah di ungkit-ungkit!'' ketus bunda Zizi sembari berlalu meninggalkan kakak sepupu nya itu yang terkenal begitu julid dalam berbicara.


Syakir terkekeh mendengar Bunda Zizi begitu ketus kepada keluarga nya. Arta pun sama. Ia cekikikan sendiri sembari menulis pr nya diruang TV.


Ada Tama juga disana. Tak ada satupun yang peduli pada sepupu bunda Zizi itu. Mereka duduk sendiri tanpa ada yang menyuruh mereka untuk duduk.


Uwak Nia menggeleng kan kepalanya. ''Memang ya Zi. Sedari dulu saudara sepupu julid kamu itu tidak pernah berubah! Selalu saja begitu setiap kali datang kesini. Kakak heran sama mereka? Apakah mulut mereka itu tidak pegal hanya untuk mengatai orang saja? Bukannya mengejar pahala malah menambah dosa!'' ketus Uwak Nia pada Bunda Zizi.

__ADS_1


Bunda Zizi tertawa. ''Kakak bisa saja. Jangan diambil pusing kak. Yang ada kita bertambah pusing sendiri menghadapi mereka itu! Ini minumannya kak?''


''Nggak usah dikasih minum Napa?! Biar kering tuh batang lehernya! Enak aja dia mau minum! Udah puas ngatai suami Annisa, malah sekarang di suguhi minum? Enak sekali hidup mereka!'' ketus Uwak Nia semakin tidak suka pada sepupu bunda Zizi itu.


Bunda Zizi terkekeh. ''Tak apa kak. Tamu itu adalah raja kan? Walaupun mulut tamu itu seperti boncabe level sepuluh, kita tetap harus memberikan minum untuk mereka. Jangan membalas mereka dengan kejahatan Kak. Tapi sentuhlah hati mereka dengan kebaikan yang kita punya. Aku ke depan dulu Ya Kak?''


''Ya, hati-hati kamu di semprot lagi nanti sama sepupu julid kamu itu!'' ketus Uwak Nia.


Beliau masih kesal pada sepupu bunda Zizi itu. Bunda Zizi terkekeh sambil membawa nampan ia berlalu ke depan. Dimana para tamunya itu sudah menunggu mereka disana. Entah apa yang terjadi lagi setelah ini. Bunda Zizi pun tidak tau.

__ADS_1


Yang penting ia sudah menghargai sepupunya itu yang datang katanya, untuk menjenguk suaminya.


__ADS_2