
Tiga bulan berlalu semenjak Tama mengantar Annisa ke pesantren, hari ini pemuda tampan yang sudah matang itu sedang bersiap ingin menjemput sang pujaan hati.
Rencananya, mereka berdua akan berlibur Ke Aceh selama seminggu. Di rumah Nenek Alina dan Kakek Yoga. Kedua lansia itu pun sudah tau dan sedang menunggu kehadiran mereka.
Tama bersiap sedari subuh. Senyum manis terus tersungging di bibir tampannya. Ia tidak henti-hentinya tersenyum.
Pukul sembilan pagi Tama keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya menuju pesantren Annisa. Sepanjang perjalanan bibir itu terus saja bersiul bersenandung senang.
Hatinya begitu senang, karena sang pujaan hati akan tinggal bersama nya selama sebulan ini. Dan berita yang mengembirakan ialah bahwa Annisa santri terbaik di tahun ini.
Ia mendapati peringkat kelas ke satu diantara ribuan santri yang lain. Prestasi yang sangat membanggakan.
Tama sedari seminggu yang lalu saat Annisa menghubungi nya tentang keberhasilan nya itu sudah menyiapkan hadiah untuknya. ''Kamu pasti suka! Abang yakin itu. Kangen banget sama kamu. Tiga bulan lebih tidak bertemu, kamu pasti akan sangat cantik saat ini. Kangen banget sama kamu, sayang..'' gumamanya masih dengan mengendarai mobil Avanza miliknya. Mobil yang ia beli dengan keringatnya sendiri.
Satu jam kemudian.
Saat ini Tama sedang berada diruang pengumuman para santri yang akan di jemput sekaligus penyerahan piagam kepada wali murid sebagai penghargaan untuk murid yang berprestasi seperti Annisa.
Annisa dan teman-teman yang lain saat ini sedang berdiri di depan untuk mengambil piagam dan juga sertifikat.
Tama yang bertindak sebagai wali dari Annisa dipanggil untuk menemani nya di atas panggung. Semua santri yang ada disana sempat tertegun dengan Tama.
Biasanya yang akan mengambil piagam itu adalah Mak Alisa dan Papi Gilang. Tapi sekarang, malah orang lain. Tama terkekeh saat melihat seluruh santri kebingungan.
''Maaf sebelumnya, saya kesini karena Mak kami yang menyuruh saya untuk menjemput Annisa. Karena beliau dan juga Papi kami sedang berada di luar hkota. Nanti sore mereka berdua baru pulang. Harap maklum. Saya Abang angkat Annisa sekaligus sebagai wali yang akan mengurus Annisa Selama kedua orang tua kami bepergian. Begitu juga kedua adik saya yang lainnya.'' Jelas Tama saat ia berada di panggung karena seorang guru penasaran karena kehadiran nya.
Dan kesempatan itu pun dimanfaatkan boleh Azura. Ia mengatakan kepada seluruh ustadzah disana, jika Tama adalah calon Suaminya.
Annisa hanya bisa tersenyum simpul. Nggak mungkin dong, jika ia akan mengamuk di sana? Sementara pernikahan mereka tetap harus tertutup sampai Annisa tamat sekolah??
Annisa hanya bisa pasrah begitu juga dengan Tama. Ustadzah Azura tanpa tau malu menggandeng Tama untuk memperkenalkan nya pada seluruh guru yang ada disana.
__ADS_1
Tapi Tama bertindak, dengan cepat ia menarik tangan Annisa dan menggenggam nya. Annisa mengulum senyum. Sedangkan ustadzah Azura kesal bukan main.
Selesai dengan acara penyerahan piagam untuk santri yang berprestasi, kini mereka berdua sedang berada di mobil. Annisa menarik nafas panjang saat Azura juga ikut masuk ke mobil Tama. Dan duduk di depan bersama Tama.
''Kamu dibelakang! Ustadzah di depan sama Abang kamu. Oh iya Bang, kita jalan-jalan yuk?'' kata nya pada Tama dengan bibir terus melengkung senyum.
Tama melihat wajah Annisa yang berubah menjadi datar melalui spion depan. Ia menghela nafas panjang.
''Sayangku!'' panggil Tama,
Annisa menoleh begitu juga dengan ustadzah Azura. Ia tersenyum manis pada Tama sedang Tama sedang tersenyum lembut pada Annisa.
Annisa menatap datar padanya. ''Kita makan dulu ya? Baru setelahnya kita ke rumah Mak. Papi kan pulang hari ini??'' ucap Tama pada Annisa, ia sengaja mengabaikan ustadzah Azura dan berbicara pada istrinya.
Ustadzah Azura kesal. Wajahnya masam karena terus di cuekin oleh Tama. Padahal mereka dalam mobil yang sama.
Tama terus berbicara pada Annisa yang dibalas dengan senyum tipis saja oleh istrinya. Sepanjang perjalanan, hanya suara Tama dan Azura yang terdengar.
Tama tak menggubris ucapan Azura. Ia lebih mementingkan Annisa. Wajah sang istri begitu datar saat ini.
Azura semakin bingung. ''Tunggu dulu Bang! Kenapa turun di sini? Kita makan di sini? Kenapa nggak di restoran yang kita lewati tadi sih?!'' gerutu Azura pada Tama.
Tama yang sudah turun dan merangkul pinggang Annisa menoleh padanya. ''Kita?? Sejak kapan?? Kamu aja kali! Saya dan istri saya ingin makan di rumah makan ini! Apa saya tadi mengajakmu untuk ikut bersama kami? Tidak kan? Ayo sayang! Bisa cepat tua Abang berbicara pada wanita sepertinya!'' ketus Tama sambil berjalan meninggalkan Azura yang melototkan ke arahnya karena perkataan Tama baru saja.
Annisa tergelak keras, hingga kepala nya mendongak ke atas. Tama pun ikut tertawa. Ustadzah Azura mengepalkan tangannya.
''Aku akan memisahkan kalian berdua! Lihat saja! Untuk sekarang, aku akan ikuti permainan kalian!'' gumamnya dengan tersenyum miring melihat kebersamaan Annisa dan Tama.
Ia melenggang masuk dan langsung duduk di sebelah Tama. Tama memutar bola mata malas. Dari kejauhan Annisa juga demikian.
''Ck! Dasar pelakorr! Kalau sudah itu pekerjaan nya, sulit untuk disadarkan! Hadeuuhh..'' gumam Annisa seraya berjalan menuju meja dirinya dan Tama tadi duduk.
__ADS_1
Tiba disana, Tama bangkit dan duduk di sebelah Annisa. Ustadzah Azura merengut. ''Abang kenapa geser sih? Disini kan juga ada kursi?'' gertunya
''Suka-suka saya lah! Kok kamu yang sewot! Meja saya yang pesan, makanan saya yang bayar! Dan kamu cuma numpang duduk dan ingin ngatur saya begitu?!'' sewot Tama pula.
Annisa Terkekeh. ''Udah.. malu dilihat orang. Dikira aku yang lagi pengganggu diantara kalian!'' lerai Annisa.
Ustdzah Azura tersenyum senang. ''Heh! Bahkan satu orang pun bisa menebak jika saya istri bang Adrian! heh! Kamu bukan siapa-siapa bang Adrian-,''
''Diam kamu! Disini yang menjadi istri saya itu Annisa! Bukan kamu! Ck! pengganggu saja! Saya itu menyusul istri saya! Bukan menyusul kamu! Lebih baik kamu keluar dan tinggalkan kami berdua! Sebelum saya menyeret kamu dari rumah makan ini!'' tekan Tama pada Ustadzah Azura dengan tatapan tajamnya.
Ustadzah Azura terkejut mendengar suara Tama naik satu oktaf. Semua pengunjung disana menoleh pada mereka bertiga. Ustadzah Azura menghela nafasnya.
''Maaf.. saya tidak akan ganggu lagi. Janji!'' katanya pada Tama dan Annisa.
Pasangan beda usia itu menatap udtadzah Azura dengan dingin. Tapi Ustadzah Azura tidak peduli. Ia tetap duduk disana bersama mereka.
Makan di meja yang sama dan makanan yang sama Annisa pesan. Annisa bukanlah wanita yang tega terhadap wanita lain. Ia lebih memilih diam daripada memperkeruh suasana.
Sedari tadi, Tama tidak ingin melihat wajah Azura. Bahkan ia duduk dengan membelakangi Azura. Mereka makan dalam diam.
Sesekali suara Annisa terdengar, ia sedang memberikan lauk lagi pada piring Tama. Ustadzah Azura bertambah panas melihat nya manakala tangan Tama bergerak mengusap sambal yang belepotan di pipi Annisa.
Annisa terkekeh.
Hadeuuhh... liburan yang seharusnya untuk mereka berdua, malah di ganggu oleh ulat bulu yang begitu gatal!
💕💕💕
Kita apakan noh si ulat bulu?
Biar nggak terlalu gatal?
__ADS_1
Gedek othor mulianya! 😒
😄😄😄😄