
Othor mau ngucapin Terimakasih nih buat kalian pendatang baru yang udah mampir di karya recehan othor ini dan bersedia komen kalau typo nya banyak! π€£
Othor seneng kok kalau ada yang komen kayak gitu. Othor selalu revisi setiap kali mau nulis lagi. Maafkan sebelumnya, banyak yang udah mampir dan baca sering kali eror bacaan nya! π€£
So.. thank you for All.. π
Happy reading...
πΈπΈπΈπΈ
Dua Minggu berlalu.
Hari ini adalah hari dimana mereka semua akan pulang kerumah masing-masing dan akan kembali ketika perpisahan sekolah beserta pengambilan ijazah mereka nantinya.
Sebulan sebelum mereka mengadakan perpisahan, seluruh murid kelas tiga yang sudah menyelesaikan ujiannya dengan baik di perbolehkan untuk pulang setelah enam bulan lamanya.
Dan akan kembali ketika mereka akan mengadakan perpisahan nantinya. Annisa, Sarah dan Mutia sedang menunggu jemputan sedari jam delapan pagi tadi.
Ketiga wali yang akan menjemput anak gadis seumuran Annisa itu belum juga datang. Dua diantaranya sudah hadir. Sedangkan Annisa belum. ''Kamu jam berapa di jemput nya Nis?'' tanah Mutia pada Annisa.
Annisa yang sedang sibuk dengan laptopnya saat ini menoleh pada Mutia dan tersenyum, ia menoleh pada jam yang melingkar di tangan nya. Hadiah ulang tahun yang ke delapan belas dulu dari Tama.
''Palingan sebentar lagi-,''
Tin, tin!
''Astaghfirullah!! Terkejut saya!'' ucap Mutia karena begitu serius dengan ponselnya saat ini.
Sarah tertawa. Begitu pun Annisa. Sedang pemilik mobil itu terkekeh melihat Annisa. Ia turun dari mobil dan menuju dimana Annisa berada.
Semua yang ada disana terdiam. Ia semakin mendekati sang pujaan hati yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang menurutnya seperti terpesona.
Tama terkekeh lagi. ''Sangat tampan!'' celutuk Sarah tanpa sadar.
Mutia terkejut dan menepuk lengan Sarah.
Plak.
__ADS_1
''Eh, astaghfirullah! Hehehe.. maaf Bang!'' katanya pada Tama sambil terkekeh-kekeh.
''Tidak apa-apa. Assalamualaikum sayang...'' sapa Tama pada Annisa.
Blusssh ..
Tiba-tiba saja pipi itu mendadak merona kala Tama tersenyum begitu manis padanya. Senyum yang selalu ia rindukan selama lebih kurang hampir enam bulan ini.
Sarah dan Mutia saling pandang karena melihat tingkah Annisa seperti seseorang yang sedang malu pada pacarnya. Mereka berdua terkikik geli.
''Hihihi... ehem!! ehemm!! Waalaikum salam Abang ... cie.. cie.. cie.. Annisa di jemput yang tersayang, uhuuyy!!'' celutuk Sarah si tukang usil di dalam hubungan persahabatan ketiga orang anak gadis itu.
Plak..
Annisa memukul ringan lengan Sarah, hingga membuat ketiga orang itu tertawa.
Buhahahaha ..
Sontak saja para orang tua wali yang baru saja datang itu menoleh ke arah mereka. Mereka bertiga langsung saja kicep. Tama melipat bibirnya agar tidak tertawa karena melihat wajah Annisa yang saat ini begitu merah karena malu di goda oleh kedua sahabatnya.
''Ehm, ehm, ehm. Abang mau jemput Annisa ya?'' Tanya Sarah pura-pura tidak kenal dengan Tama.
Plak..
''Ya, Abang ingin menjemput Annisa. Bolehkan Abang bawa ia pergi?'' jawab Tama sekaligus bertanya kepada dua sahabat Annisa.
Sarah dan Mutia mengangguk. ''Tentu Bang. Silahkan! Kami pun sudah di jemput sedari subuh tadi. Hanya Annisa yang belum. Maka dari itu kami menunggu Abang baru setelahnya kami pamit untuk pulang. Nis!'' panggil Sarah pada Annisa.
''Ya, pulanglah. Kita akan bertemu saat perpisahan nantinya. Jangan putus komunikasi hem? Kita bertiga akan berangkat ke Bandung bersama nanti!''
Sarah dan Mutia tersenyum. ''Tentu. Kami pamit. Selamat bersenang-senang dengan pangeran tampan mu ini. Nanti ceritakan ya gimana rasanya pecah tanggul surga??'' bisik Mutia sambil berbisik lirih di telinga Annisa.
Plak..
Annisa memukul lengan Mutia dan melotot pada nya. Sarah tergelak keras karena dia pun ikut mendengar bisikan lirih Mutia padanya.
''Dasar wong sableng koe!'' ketus Annisa pada kedua sahabatnya.
__ADS_1
Buhahahaha...
Kedua sahabat itu tertawa bersama. Mereka begitu senang menggoda Annisa saat ini. Tama hanya bisa terkekeh. Ia mengedipkan mata nakal pada Annisa.
Annisa mendelik menatap nya tapi bibir itu tetap terkekeh karena melihat tingkah kelakuan dua sahabat karibnya itu.
''Oke, bang Tama. Nis! Kami pamit pulang. Karena kamu sudah ada pawangnya, maka harus undur dari hadapanmu!'' ucap Mutia saat ini yang sedang melakonkan peran seorang dayang kepada ratunya.
Mutia seorang penulis kerajaan yang bertema fantasi. Sedangkan Annisa lebih menyukai tema rumah tangga. Apalagi jika cerita itu di mulai dengan perdebatan. Pastilah Seru menurutnya. π€£π€£ kayak othor! π€£π€£
''Ya, kalian pulanglah. Aku pun akan pulang. Jangan lupa nanti dua Minggu setelah nya kita harus bertemu kembali!''
''Tentu. Kami pulang. Assalamualaikum.. selamat bersenang-senang dengan yang tersayang... uhuuyy!!'' celutuk Sarah membuat Annisa melotot lagi.
Sarah dan Mutia langsung ngacir menuju kedua orang tua mereka karena takut melihat Annisa yang tiba-tiba melotot dan mengambil sendalnya yang ingin di lemparkan pada mereka berdua. Sambil berkacak pinggang.
Tama tertawa. Ia menatap dalam pada Annisa. Annisa yang masih kesal kembali duduk.
''Apa kabar sayang?'' suara lembut Tama mengalun merdu di telinga Annisa.
Ia menoleh, ''Alhamdulillah adek baik. Abang sendiri??''
''Alhamdulillah.. seperti yang kamu lihat sekarang!''
Annisa terkekeh. ''Abang tampan kalau model rambutnya kayak gitu!'' Annisa menunduk malu.
Tama tertawa. ''Berarti Abang nggak sia-sia dong merubah penampilan hingga kamu terpesona dengan pria tua kamu ini!''
Annisa melotot. Tama tertawa. ''Udah ah. Ayo kita pulang. Abang punya kejutan untukmu dirumah.''
''Heh? Kejutan??'' Tama mengangguk, ''Ya, kejutan spesial untukmu! Cup!'' Tama mengecup sekilas kening Annisa sebelum berlalu pergi membawa tas dan ransel Annisa untuk dibawa masuk ke mobil.
Sedangkan Annisa kebingungan. ''Kejutan? Kejutan apa?'' gumamnya.
''Sayang?''
''Hah? Iya, adek kesana!'' sahutnya pada Tama yang saat ini sedang menunggu nya di pintu mobil yang sudah terbuka untuk menunggu Annisa masuk.
__ADS_1
ππππ
Ayo tebak. Kira-kira apa kejutan bang Tama untuk adek Annisa??