Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Kenyataan pahit


__ADS_3

Papa Fabian dan Mama Linda berlari kecil di koridor rumah sakit. Merek sangat panik saat Papa Fabian merasa gelisah dan menghubungi Tama.


Tapi ternyata firasat Mama Linda itu benar adanya. Tama jatuh sakit entah karena apa. Mereka akan tau setelah ini.


Tap.


Tap.


Tap.


''Dimana Abang kamu??'' tanya Papi Fabian pada Mitha dan Anto yang saat ini saling berpelukan dengan mata terpejam.


Keduanya terkejut, mereka berdua melepaskan pelukannya dan bangkit untuk menyakini kedua paruh baya yang begitu khawatir itu.


''Assalamu'alaikum Pa..'' ucap Anto


''Waalaikum salam! Bagaimana dengan Abang kamu? Sudah tau sakit apa??'' tanya Papi Fabian masih dengan panik.


Mama Linda berdiri di depan pintu dengan sedikit berjinjit. Saat Mama Linda ingin berjinjit, pintu dari dalam terbuka lebar.


Ceklek!


''Eh, eh!''


Mama Linda hampir terjatuh jika tidak dokter seumuran Tama itu memegang tubuhnya. ''Hati-hati Nyonya. Keluarga pasien?''


''Ya, saya Mamanya. Itu Papa nya. Dan itu kedua saudaranya. Bagiamana? Bagiamana keadaan putra saya? Sakit apa dia?'' cecar Mama Linda pada dokter tampan sebaya Tama itu.


Dokter itu menghela nafasnya. ''Pasien saat ini sedang mengalami shock berat. Ada kejadian yang begitu membuatnya begitu terpukul. Belum lagi, maag nya kambuh dan itu yang membuatnya saat ini semakin drop. Dan juga .. apakah pasien ada mengkonsumsi salah satu obat perangsang dosis tinggi??''

__ADS_1


Deg!


Deg!


Mitha dan Anto terkejut. Tubuh keduanya bergetar. Sedang kan Mama Linda kebingungan. ''Obat perangsang dosis tinggi? Untuk apa? Putra saya sudah menikah, untuk apa dia menggunakan obat terkutuk itu! Memangnya pisang boma nya itu sudah tidak bisa berdiri tegak lagi? Makanya harus memakai obat sialan itu? Heh, itu tidak mungkin Dokter!'' ucapnya sedikit kesal kepada Dokter itu.


''Tetapi itu benar adanya Nyonya! Putra anda mengalami hal yang sangat serius hingga mengganggu sistem tubuhnya saat ini. Apakah ia tidak menyalurkan nya?''


''Anda bicara padanya Dokter! Putra saya itu sudah menikah. Mana mungkin dia-,''


''Tapi apakah Abang baik-baik aja kan ya dokter?'' Mitha sengaja menyela ucapan Mama Linda yang akan membuka masalah mereka kemarin di rumah sakit itu.


''Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Hanya saja pasien harus istirahat total. Beruntung nya obat penawar itu bisa mengurangi rasa sesak itu. Lain kali jangan mencoba memberikan obat itu dalam dosis tinggi. Hal itu sangat berbahaya baginya. Apalagi tidak ada tempat untuk pelampiasan. Efek obat itu tahan hingga berhari-hari. Saya hanya khawatir, Oba itu bisa mengganggu kinerja otak dan juga.. bisa jadi pasien terus menerus ingin merasa di puaskan karena merasa tidak puas dengan pelayanan istri atau apapun itu. Dan itu bisa menjadi kekerasan di dalam rumah tangga akibat obat dosis tinggi itu. Saya hanya takut, jika pasien menyiksa istrinya karena pelampiasan hasrat itu!''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


Tersentak Mama Linda mendengar nya. Begitu pun Papa Fabian. Beliau sampai mundur dua langkah ke belakang. Dengan sigap Anto memeganginya.


''Baik, terimakasih Dokter! Kami akan menjaga nya dengan baik.'' Ucap Mitha mengiyakan ucapan dokter yang menangani Tama sedari tadi.


''Saya permisi, pasien bisa di jenguk sebentar lagi. Kalau ada apa-apa, segera hubungi saya!''


''Tentu,'' sahut Mitha dengan segera memapah tubuh ringkih Mama Linda yang lemas karena ucapan Dokter itu.


''Annisa. Annisa mana? Kenapa sedari Mama datang, Kakak ipar kamu tidak ada disini? Kemana dia? Apakah Tama sakit gara-gara ini? Apakah Tama memikul Annisa??''


Deg!


Deg!

__ADS_1


Mitha menggeleng, ''Enggak. Abang nggak berbuat kasar kok sama Kakak ipar. Tapi...''


''Tapi apa?? Kenapa? Ada apa? Apakah terjadi sesuatu dengan Annisa?'' cecar Mama Linda lagi


Ia semakin panik saat ini memikirkan kenyataan yang terjadi kemarin yang ia sendiri belum tau kebenaran nya. Papa Fabian tidak berbicara.


Ia duduk di temani Anto. Mitha menatap Anto, ia pun mengangguk. ''Kakak ipar sudah pergi ke Bandung Ma. Pagi ini.''


Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...


''Apa?!'' pekik kedua paruh baya itu.


Anti dan Mitha hanya bisa menghela nafas berulang kali. Inilah yang mereka takutkan jika sampai hal ini terjadi. Anto sudah memikirkan hal ini kemarin. Dan ya, hari ini terjadi.


Kedua paruh baya itu pasti shock mendengar kepergian Annisa. Istri Tama. Menantu kesayangan mereka.


''Pergi?? Pergi seperti apa maksudmu?!'' seru Mama Linda dengan suara naik satu oktaf.


Anto menatap Mama Linda dengan mata berkaca-kaca. Begitu pun dengan Mitha. Dengan segera mereka menceritakan kejadian yang sebenarnya saat di showroom itu hingga Tama harus meminum obat itu dan juga bisa yang tau akhirnya memilih pergi.


Mitha mengerjakan sepucuk surat goresan pena tangannya kepada Mama Linda. Wanita paruh baya itu membacanya dengan dada yang sangat sesak.


Ia menangis tersedu. Begitu pun dengan Mitha yang juga ikut membacanya. Mereka semua tersedu. Termasuk Tama di dalam sana.


Air mata mengalir deras di pipinya saat dalam bayangan matanya itu melihat Annisa pergi darinya tetapi tetap tersenyum padanya.


Sangat menyakitkan mendapati kenyataan pahit yang ahrus Annisa dan Tama lalui. Keduanya di uji dengan sangat.


Ujian pernikahan mereka sedang berlangsung saat ini. Benar kata orang, semakin tinggi pohon itu maka semakin kencang angin menerpanya.

__ADS_1


Begitu juga dengan biduk rumah tangga. Semakin lama pernikahan mereka, maka semakin banyak ujian di dalam rumah tangga mereka.


Benar, semua itu bertujuan untuk menguatkan satu sama lain di dalam hubungan mereka di dalam berumah tangga.


__ADS_2