
"Ciaaattt.. Hiaaa.. Husshh.. Wushh.." ucap Annisa sambil terus menepiskan ikan asin terbang itu hingga masuk ke dalam piring.
Tama yang melihat itu bertambah terperangah. Gaya tepisan Annisa begitu cantik, persis seperti gaya kungfu seorang master wanita yang sering Tama nonton di film fantasi tentang kerajaan.
Annisa menghela nafas panjang saat semua ikan asin itu sudah berhenti beterbangan mengenai dirinya.
"Ishh... Dasar ikan asin nggak ada akhlak! Ingin dimakan aja kok susah! Pakai acara terbang-terbang segala!" sungut Annisa sambil membersihkan tangannya yang tadi terkena minyak panas.
"Untung saja Mak udah ngajarin aku biar tangan ini tidak melepuh terkena minyak panas. Tinggal bubuhkan garam, selesai deh!" gumamnya sambil tangan terus bergerak memindahkan sayur jengkol masuk kedalam piring yang sudah ia sediakan.
Setelah selesai, Annisa berbalik.
Deg!
"Astaghfirullahh!!!" pekik Annisa begitu terkejut.
Mangkuk dan piring yang ada di tangannya sampai terbang mengenai wajah Tama.
Pluuk..
Duuk..
"Allahu akbar!!" seru Tama begitu terkejut saat menangkap satu buah mangkuk berisi rendang jengkol yang sudah matang.
Annisa terkejut bukan main. Bibirnya berubah menjadi pucat pasi seperti mayat hidup. Tama yang melihat Annisa begitu terkejut dengan tubuh gemetar, tertawa terbahak.
Buahahahaha...
Pecahlah sudah tertawa Tama. Sedari tadi melihat tingkah Annisa yang begitu mengocok perutnya, kini pecahlah sudah.
Annisa semakin pucat saja wajahnya. "Aduhh!! Mati aku!! Abang pasti bakalan marah ini kalau tau aku bisa silat?? Ya Allah.. Aku harus apa??" gumam Annisa di dalam hati.
Ia terus memperhatikan Tama yang sedang tertawa terbahak hingga memenuhi seluruh ruangan dapur mereka.
Annisa menuju meja makan dengan menunduk, kemudian meletakkan makanan itu disana. Ia duduk setelah melihat Tama berhenti tertawa. Annisa tertunduk takut. Tama menatap Annisa yang menunduk, tidak berani mentapnya.
__ADS_1
Tama tersenyum tapi terkekeh. Hatinya masih geli melihat tingkah Annisa tadi. Ia berpindah duduk dan mendekati Annisa.
Apa kabar dengan Annisa? tubuhnya semakin gemetar karena ketakutan. Tama tau itu. Dulu, saat kecil Annisa pun pernah melakukan hal yang sama seperti ini yang membuat Mak Alisa begitu kesal padanya.
Annisa meremat kedua tangannya yang semakin dingin. Ia tak berani mendongak menatap Tama yang sedang berdiri di sebelahnya.
Krieeettt..
Suara kaki kursi berderit karena tetarik. Annisa semakin menunduk takut. Tama terkekeh lagi, ia mendekati Annisa yang masih terduduk dengan menunduk itu.
"Sayang, lihat Abang! Kamu kenapa ketakutan sih? Yang kayak Abang mau marah aja sama kamu? Abang nggak marah sayang, sama kamu! Lihat Abang sini!" titah Tama dengan lembut menarik sedikit dagu Annisa.
Annisa tidak berani melihatnya. Ia masih ketakutan. Takut seperti kejadian delapan tahun silam.
"Sayang.. Lihat abang dulu. Abang nggak akan marah sama kamu karena sudah merusak dapur kita! Ayo, lihat sini Abang dulu! Sayangku, cintaku, jantungku, pujaan hatiku??" bujuk Tama dengan sedikit menggoda Annisa.
Mata Annisa mengembun, ia tau sekali jika Tama tidak akan marah padanya. Masih jelas teringat saat dulu, Annisa pernah merusak hasil kerja sekolah Tama hingga rusak tak beraturan.
Padahal tugas itu akan ia kumpul hari itu juga, tapi karena kecerobohan Annisa yang dengan sengaja ingin menyentuh barang itu tetapi terlepas secara tiba-tiba, membuat Mak Alisa begitu kesal pada Annisa kecil.
Ia duduk meringkuk di sudut ruangan saat Mak Alisa mengomel karena telah menghancurkan hasil kerja keras Tama yang selama sebulan ini ia siapkan bertiga dengan Lana dan IRa. Mak Alisa sebagai pemandunya.
Sementara Annisa datang tiba-tiba dan menghancurkannya. Annisa menangis sesegukan saat itu. Begitu juga dengan sekarang. Annisa menangis dengan menunduk tidak berani melihat Tama.
Tama menghela nafasnya. Kejadian saat ini sama seperti kejadian delapan tahun silam hingga membuat Annisa demam. Ia tidak ingin makan apapun dan juga menemui siapa pun.
HIngga Tama berinisiatif untuk membawa Annisa jalan-jalan dengan cara memaksa gadis kecil itu. Mereka berdua menaiki motor gede milik Tama dan meletakkan Annisa menghadap padanya.
"HIks.. Ma-maaf,.. Adek salah.. Ma-maaf bang.. Ma-maaf.." lirihnya saat itu sambil memeluk tubuh Tama yang sedang mengendarai motor gede miliknya.
Tama tertegun sejenak memikirkan kejadian delapan tahun silam. Ia menghela nafasnya, melihat Annisa yang tidak mau menatapnya sama sekali, ia mengangkat tubuh kecil Annisa yang sudah besar itu, tidak seperti delapan tahun silam.
Tama memangku tubuh Annisa dan ia dudukkan di pangkuanya. Dengan segera Annisa memeluk tubuh tegap itu. Wajahnya ia curukkan ke leher Tama. Ia sesegukan disana.
Tama mengusap lembut tubuh Annisa yang bergetar karena sedang menangis sesegukan di ceruk leher Tama.
__ADS_1
''Sayang.. Abang nggak marah sama kamu.. Abang hanya terkejut melihat gaya kamu menepis ikan asin itu seperti seorang ahli kungfu professional! Apakah kamu jago bela diri sayang? Sejak kapan??''
Deg!
Deg!
Jantung Annisa semakin berdegup kencang, Tama bisa merasakan itu. Ia tau jika Annisa pasti ketakutan saat mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan.
''Sayangku.. cintaku.. pujaan hatiku.. dengerin Abang! Kamu boleh kok jago bela diri, Abang nggak akan marah kok. Hanya saja, pergunakan bela diri itu pada tempatnya, hem??'' kata Tama pada Annisa yang masih terisak di ceruk lehernya.
Tangan hangat dan kekar begitu membuatnya nyaman, hingga ia terbuai. Lama kelamaan Annisa berhenti dari menangis. Tama tersenyum tipis, ia mengurai pelukan nya dan mengusap pipi Annisa yang masih basah dengan air mata.
''Udah, jangan nangis lagi. Abang lapar ingin makan. Tapi kenyang gara-gara liatin kamu jago silat! Udah ya?'' ucap Tama lagi begitu lembut.
Seolah Tama sedang berbicara dengan anak kecil. Dulu, ia pun begitu lembut berbicara pada Annisa. Tak pernah sedikitpun ia meninggikan suaranya pada Annisa.
Inilah yang membuat Annisa jatuh hati pada Tama. Perhatian Tama selalu tercurah padanya. Mulai dari ia bayi sampai dengan saat ini.
Masih terasa sampai kehati. Perhatian yang Tama berikan untuknya begitu menyentuh relung hatinya yang begitu dalam. Sejatinya cinta ini hadir tanpa paksaan atau tanpa kabar dulu.
Yang jelas cinta ini hadir tanpa diminta. Tapi dengan tiba-tiba menelusup ke dalam hati mereka berdua. ''Abang sangat mencintaimu sayang.. mana mungkin Abang marah pada hidup Abang?? Kamu segalanya untuk Abang. Kalau boleh Abang tau, sejak kapan kamu mulai menyukai Abang?'' tanya Tama pada Annisa
Annisa menatap Tama dengan insten. Tama tersenyum lembut padanya. Annisa ikut tersenyum walau dengan wajah sembab. ''Nggak tau sejak kapan. Yang jelas rasa suka itu saat Abang pertama kali membawaku ke tepi pantai dengan motor gede milik Abang dulu. Abang tau? Saat itu ada rasa entah seperti apa dihati kecil ini.'' Kata Annisa sambil mengambil tangan Tama dan meletakkan di dadanya yang sedang berdegup dengan kencang.
Tama pun begitu. Ia pun berdebar-debar. ''Sedari kecil rasa cinta ini sudah di hati kecil ku. Entah rasa suka, benci dan rindu menyatu hingga membentuk rasa cinta untuk Abang. Makanya tiap kali adek lihat Abang bersama wanita lain, hati ini begitu sakit dan terluka saat menyadari jika Abang lebih perhatian dengan mereka dibandingkan dengan adik kecilmu ini. Rasa cinta ini sudah hadir sedari adek kecil, Bang. Sangat sulit untuk membunuh rasa ini.''
''Bukannya bertambah berkurang, malah bertambah parah. Jika boleh adek memilih.. lebih baik adek mati daripada harus melihat Abang bersanding dengan wanita lain!''
Deg!
Deg!
💕💕💕💕💕
Maaf ye telat lagi? hehehe.. yang penting Annisa selalu update rutin! 😁😁
__ADS_1