
''Sayang, tunggu! Abang mau bicara!'' cegat Tama. Ia memegang tangan Annisa dengan erat.
Annisa berbalik dan menatap nya dengan datar. Entah kenapa Tama merasa tercubit hatinya dengan perlakuan Annisa kepadanya yang begitu ketus.
''Ada apa? Ingin bilang kalau Abang sibuk di bengkel? Banyak pelanggan? Padahal buktinya satu harian ini Abang bersenang-senang dengan wanita lain??''
Deg!
''Dek...'' panggil Tama dengan lirih.
''Kenapa? Ingin membela diri? Demi wanita lain yang tidak ada hubungannya dengan Abang, Abang rela mengabaikan kedua orang tua Abang yang baru pulang dari umroh? Di mana hatimu Bang? Oke, jika itu kau lakukan padaku. Datang sekali namun sibuk berbalas pesan dengan mantan tunangan tercinta mu itu! Tapi ini kedua orang tuamu Bang! Sungguh keterlaluan kau bang Tama!'' seru Annisa dengan lirih namun penuh penekanan.
Tama terdiam mendengar ucapan Annisa. ''Kamu datang? Kenapa tidak menemui Abang? Abang menunggu mu hingga dua jam disana. Tapi kamu tak kunjung keluar. Ada apa dengan mu? Apa kau tidak menyukai pernikahan ini? Makanya kau menolak untuk bertemu dengan Abang?'' ucap Tama menuduh Annisa yang tidak-tidak.
Annisa terkekeh, namun air mata mengalir di pipinya. Tama terkejut melihat Annisa menangis.
''Untuk apa aku menemui suami yang Tidak ingin menerima ku! Abang menerima ku Karena Mama! Abang yang terpaksa menerima pernikahan ini! Bukan aku! Jika ku tau, Abang terpaksa menerima ku, aku tidak sudi menikah dengan mu! Sekarang aku harus apa? Semua ini terungkap ketika aku sudah sah menjadi istrimu! Aku harus menerima segala perlakuan mu terhadap ku! Begini saja. Kita katakan yang sebenarnya pada Mama Linda, bahwa Abang terpaksa menikahi ku! Padahal Abang sangat ingin menikahi wanita tercinta Abang itu. Ayo, kita katakan saja pada Mama Linda, agar aku bisa cepat terbebas dari hidupmu!''
Ddddduuuaaarrrr..
Tama tersentak mendengar ucapan Annisa. Tangannya mengepal erat. Rahangnya mengeras.
''Jangan sekali-sekali kamu mengatakan jika kita akan berpisah, Annisa! Sampai kapanpun Abang tidak akan melepaskan mu!'' tegas Tama dengan dingin dan menusuk.
Ada rasa takut melihat Tama berubah seperti itu. Tapi ia tahan. Tangannya pun sama mengepal erat.
''Cih! Tidak mau melepaskan ku, tapi bersenang-senang dengan wanita lain! Apa itu namanya? huh?! Suami baik? Atau suami tukang selingkuh??''
Deg!
Jantung Tama seperti dihantam batu besar. Ia terkejut mendengar ucapan Annisa. ''Kamu...!!''
__ADS_1
''Apa?! Ingin bilang apa?! huh?! Asal Abang tau ya? Aku sengaja bertahan karena permintaan Mama. Mama yang memintaku agar tetap bertahan dengan suami seperti mu! Aku pulang kesini pun karena permintaan nya! Adakah sekali saja Abang berpikir, bagaimana kalau Mama tau keadaan kita yang sebenarnya?! Bagaimana jika Mama tau, bahwa putra tersayang nya ini terpaksa menikahi adik angkat nya? Bagaimana jika Mama tau, jika kamu dan Selena telah merencanakan hal itu semua?! Yang menyebabkan Kau harus berpisah sementara dari Mantan tunangan mu itu?! Bagaimana?! Apa Abang bisa menangani nya??'' tukas Annisa dengan Suara lirih namun begitu dingin.
Saat ini mereka berdua sedang berada di dapur. Karena Tama menyeret Annisa sampai kesana demi perdebatan mereka tidak didengar kan oleh kedua orang tuanya.
Tama menatap Annisa dengan datar. Annisa berdecih lagi melihat wajah datar Tama. Tangan Annisa yang masih berhiaskan Henna yang sudah pudar itu mengepal semakin erat.
Ia melawan rasa takut nya, demi untuk bisa melawan Tama. Rasa sakit hati nya sangatlah banyak. Saat mengetahui fakta jika sampai saat inipun Tama dan Selena sering pergi malam-malam berdua.
Annisa tau itu. Lagi, buliran bening itu mengalir di pipinya. ''Bahkan setiap malamnya, kalian selalu keluar berdua. Kalian bersenang-senang diatas penderitaan ku yang terpaksa harus menikah dengan Abang angkat ku sendiri! Abang tidak pernah bertanya kepada ku, apa yang menjadi keinginan ku! Yang Abang pikirkan hanya Selena dan Selena! Ya, aku akui! Wanita mu itu cantik dan modis! Tidak sepertiku! Cupu dan selalu norak dalam berpakaian! Aku tidak bisa menunjukkan auratku kepada lawan jenisku. Yang ada akan bertambah Dosa dengan terpampang nya auratku!''
''Aku tau, Abang menyesal menikah dengan ku! Aku tau itu! Lebih baik lepaskan aku, daripada aku harus terluka ribuan kali oleh perlakuan mu dan wanita mu! Lepaskan aku! Biarkan aku menjadi janda muda asalkan aku masih gadis! Siapa pun mau menerimaku, jika aku masih suci dan belum tersentuh oleh siapapun! Termasuk kamu bang Tama!''
Deg!
''Lepaskan aku! Dan kembalilah pada kekasih mu! Sekarang dia sedang menunggu mu di persimpangan jalan sana! Pergilah! Nanti akan aku katakan pada Mama, kalau Abang sedang bertemu KLIEN bengkel mobil mu! Pergilah!'' usir Annisa untuk kedua kalinya.
Tama menatap datar pada Annisa. Ucapan Annisa baru saja menohok hatinya. Sakit sekali. Tapi apa yang dikatakan oleh Annisa itu benar adanya.
Tanpa berkata apapun ia masuk ke kamarnya dan pergi dari rumah itu. Setelah Tama pergi, luruhlah Annisa ke lantai.
''Allahu.... sakit... sakkiiiiitttt.. Mak, Papi.. kakak mau pulang.. hiks.. kakak nggak kuat..'' isanya seorang diri di dapur.
Sementara seseorang mematung dibalik dinding dekat dapur. Tangan nya mengepal erat saat mendengar semua perdebatan antara Tama dan Annisa.
Ia menyeka dengan kasar bulir bening yang mengalir di pipinya. ''Kamu akan menyesal Adrian Pratama! Kamu akan menyesal karena telah melukai hati putriku! Kamu lihat saja. Apa yang akan aku lakukan padamu!'' ucapnya begitu dingin. Kedua tangannya mengepal dengan erat.
Sementara Annisa semakin tersedu di tepi dinding dekat kulkas. Tubuh kecil itu terus berguncang dengan hebat.
Seseorang mengelus kepalanya. ''Bangun Nak!'' titahnya
Annisa terkejut mendengar suara itu. Suara yang begitu di kenalnya. Annisa menelan Saliva nya.
__ADS_1
Ia menoleh dan betapa terkejutnya Annisa Kala melihat Papa Fabian dan Mama Linda sudah berdiri di hadapan nya dengan wajah basah air mata.
''Ma-mama! Pa-papa!'' seru Annisa begitu terkejut. Saking terkejutnya, Annisa sampai mundur hingga menubruk dinding.
Mama Linda mendekati nya. ''Bangun sayang! Ayo kita duduk di depan!'' titah Mama Linda.
Annisa terdiam. Walau masih dengan suara Isak tangis, Annisa menggeleng. Mama Linda tau itu.
Annisa pasti takut jika Mama Linda akan tau semua rahasianya dengan Tama tadi. Annisa memilih mundur dan semakin mundur.
Mama Linda semakin sedih melihat nya. Dengan segera ia memeluk tubuh kecil Annisa dengan sayang.
Dua tubuh itu berguncang hebat. Papa Fabian pun ikut tersedu. Ia tak menyangka, jika Tama putra sulungnya tega melakukan hal ini kepada istri sahnya.
Akankah kejadian dua puluh tahun lalu terulang lagi pada Tama? Pikir Papa Fabian.
Mama Linda membawa Annisa ke kursi depan. Namun belum lagi, mereka bertiga duduk sudah terdengar suara derap langkah kaki masuk kerumah itu.
''Assalamualaikum, Mama.. Papa.. aku membawa Selena kesini untuk-,''
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
''Mama...''
💕💕💕💕
__ADS_1
Huhuhu... othor suka bingit bagian ini! Tepuk menepuk! Othor sangat suka! Memacu adrenalin!
Hihihi..