Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Maafkan Arta, Abang ..


__ADS_3

''Ayo. Duduk. Hapus air mata mu. Kakak mau ambil mangkuk cuci tangan dulu.'' Imbuh Annisa dengan segera berlalu ke kamar mandi dan mengambil mangkuk kaleng tersedia disana dan mengisinya dengan Aira dari kran kamar mandi.


Setelah di isi barulah Annisa bawa kaleng berisi air itu kehadapan semua orang. Tama melototkan matanya saat mangkuk kaleng yang Annisa letakkan di hadapan nya.


''Astaghfirullah Sayang! Kenapa nggak mangkuk hitam dirumah kita aja sekalian kamu kasih ke Abang?!'' seru Tama begitu terkejut saat melihat kaleng itu berada dihadapannya.


''Hehehe .. cuma itu yang ada, Abang. Nggak ada mangkuk lain. Mau Abang, adek kasih kan Abang tong sampah yang udah adek bersihin untuk mangkuk cuci tangan Abang?'''


"Astaghfirullah sayang!" seru Tama semakin kesal pada Annisa.


Semua yang ada disana tertawa terbahak melihat Tama dan Annisa. Ayah Emil terkekeh kecil melihat tingkah putri bungsunya itu. Bunda Zizi pun ikut tersenyum.


Tama menghela nafas panjang. "Hadeeeuuhh.. kemarin pagi dihidangkan sayur asin! Lah hari ini? Mangkuk kaleng pula? Jangan-jangan mangkuk ini bekas nampung air kencing pasien lagi!'' Tama bergidik ngeri saat mengatakan hal itu.


Annisa melotot. ''Mana ada ih! Abang ini ada aja kalau ngomongnya! Itu mangkuk kaleng adek ambil dari dalam lemari ruangan ini. Tuh, yang di ujung sana. Kalau untuk kapas adek percaya sih!''


''Kapas apan Kak??'' tanya Mitha sengaja memancing reaksi Abang nya itu.


''Hem.. kapas darah.. kapas nggelap borok, bekas nanah.. atau bisa jadi tai-,''


''Stop Sayang! Abang mau makan!'' potong Tama begitu kesal karena Annisa menyebut kan kotoran disana .

__ADS_1


Syakir terkekeh, begitu pun dengan Mitha. Annisa nyengir kuda. ''Sudah, ayo kita makan.'' lerai ayah Emil.


Beliau pun ikut makan karena Tama membelikan nya sate kambing kesukaan nya. Semuanya mulai makan. Annisa dengan sigap menyuapi Arta.


''Aaa..'' katanya pada Arta.


Arta menurut. Ia membuka mulutnya dan mulai makan dengan lahap. Annisa tersenyum melihatnya. Ia pun ikut makan tapi dari tangan Tama.


Tama tidak mengizinkan tangan Annisa yang masuk ke tangan Arta masuk kembali ke mulutnya. Tama melotot melihat nya. Jadi dengan sekali tarikan tangan, Annisa pun paham.


Mereka makan saling menyuapi. Syakir tersenyum melihatnya. Sambil makan pun mereka bercakap-cakap ria. Selalu di isi dengan gelak tawa di dalam ruangan itu akibat ulah Tama dan Annisa.


Mitha terkikik geli melihat nya. Ia bersyukur melihat Abang dan kakak ipar kecilnya itu akur. Semoga ke depannya mereka terus berbahagialah seperti sekarang ini.


Semoga saja.


Selesai makan, Tama dan Mitha pamit pulang. Ia akan kembali nanti sore jam lamanya sore sebelum jam besuk tutup.


Kini tinggallah Annisa, Syakir dan Arta disana. Sedang bunda Zizi memilih keluar bersama Bella. Entah ada keperluan apa, Annisa pun tidak tau.


''Ini di apain Kak?'' tanya Syakir pada Annisa.

__ADS_1


Annisa yang sedang mengajari Arta belajar, menoleh pada Syakir yang masih kepo dengan ponsel pemberian Annisa itu.


''Yang mana?''


''Yang ini, Kak. Di apain coba? Susah banget sih kalau nggak tau??'' gerutu Syakir begitu kesal.


Annisa dan Arta terkekeh. Arta mengambil ponsel itu dan memegang tangan Syakir dan menggerakkan layar itu dengan hati-hati. Syakir terkejut, begitu pun dengan Annisa.


''Ini di geser kesini. Yang ini kesini. Dan yang ini kesini bang. Yang tanda kertas ini untuk di kirim. Kalau mau hapus geser ini.'' katanya pada Syakir.


Syakir tertegun. Lama ia mengajari Syakir hingga Syakir menjadi bisa. Setelah selesai , ia memegang kuat tangan Syakir dan menunduk.


''Maafkan Arta, Abang.. Arta salah... maaf... Arta takut, kalau sampai kejadian teman Abang menimpa diri Abang. sebenarnya Abang nggak bermaksud. Tapi Abang hanya takut. Takut kalau Mak lebih menyayangi Abang Syakir dan melupakan Abang. Hiks.. maaf Bang.. adek salah.. maaf...'' ucap nya dengan terisak.


Syakir pun ikut terisak. ''Kenapa kamu nggak bilang? Seandainya kamu bilang, Abang akan tau yang menjadi masalahmu. Abang bisa mengalah untukmu tetapi bukan berarti kamu menuduh Abang tanpa tau apa yang Abang dapatkan karena tuduhan mu itu. Mak kita kita nggak gitu orangnya. Beliau baik, bahkan sangat baik. Mak sama Mak Alisa itu mirip Dek. Mereka berdua itu sama. Seandainya kamu tidak berbuat hal semacam itu, pastilah Abang tidak akan tersakiti hingga sekian lama.''


''Abang mengalah demi dirimu. Tapi kamu? Kamu sangat tega sama Abang. Abang kecewa. Tapi tidak bisa marah padamu. Karena apa? Karena Abang sangat menyayangimu!''


Deg!


Tersentak Arta mendengar nya begitupun dengan Bunda Zizi. Wanita paruh baya itu tercekat dengan ucapan putra sulung yang selalu ia tekan dan kucilkan saat berada dirumah.

__ADS_1


''Astaghfirullah al'adhimm...'' lirihnya dengan dada begitu sesak.


Ia lebih memilih duduk di bangku tunggu diluar ruang inap ayah Emil dimana sang putra dhdan anak tirinya ada di dalam sana duduk bersama kedua anaknya.


__ADS_2