
Ayah Emil memeluk erat tubuh Syakir. Ia berbisik lirih di telinga Syakir. ''Jaga Mak dan kedua adikmu. Ayah percaya kamu bisa mereka. Jangan tinggalkan mereka disaat kamu sudah sukses nanti. Ikuti jejak ketiga saudara mu yang lain.. Ayah minta maaf jika selama ini ayah melukaimu.. manut dan ostuhksn pada perintah kakakmu. Terutama Annisa. Dua bisa menjadi ibu sekaligus ayah untukmu. Ayah bisa melihat itu darinya. Kalau ada masalah, jujur dan ceritakan pada mereka bertiga. Ayah yakin mereka bertiga pasti bersedia membantu mu. Hem? Ayah titip keluarga kita, Nak..'' bisik ayah Emil hingga membuat tubuh Syakir bergetar hebat.
Papi Gilang, Ragata, dan Tama mendekati ayah Emil dan Syakir yang saat ini saling berpelukan.
Sedangkan ketiga wanita di sana terpaku di tempat melihat ayah Emil menangis tersedu sambil memeluk erat tubuh Syakir.
Siapa lagi kalau bukan Annisa, Ira dan Bunda Zizi. Tiga wanita kesayangan ayah Emil saat ini. Untuk Bella sendiri belum paham akan hal yang akan terjadi. Tetapi ayah Emil tetap menyayangi nya. Sama seperti ketiga putrinya yang lain.
Mak Alisa heran melihat ketiga wanita itu terdiam terpaku di ambang pintu dapur. ''Kalin kenapa? Angkat dulu ini makanan nya. Mumpung si kembar bersama Papi kalian! Buruan!'' Setu Mak Alisa sedikit keras hingga membuat ketiganya yang berdiri mematung di depan pintu dnehn Pring dan mangkuk cuci tangan itu terjingkat kaget.
''Eh? Hah? I-iya Mak! Kita kesana!'' sahut Annisa dengan cepat.
Ia berjalan menuju ayah Emil yang kini sudah mengurai pelukannya dari tubuh Syakir. Ia terkekeh kala mendengar suara lengkingan mantan istrinya jika sedang kesal. Sama seperti Bunda Zizi.
Ia terus saja terkekeh, kadang terdiam karena merasakan sesak yang terus berdatangan di dadanya. Syakir, Tama dan Papi Gilang gelisah melihat itu. Tetapi Ragata mencegah nya dengan cara menggelengkan kepalanya pertanda jangan di cegah.
Annisa yang melihatnya hanya bisa menggigit bibirnya untuk menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul saat melihat ayah Emil sesak nafas sepeti itu hingga wajahnya merah padam.
Ira, Mak Alisa dan Bunda Zizi pun sama. Wajah ketiganya nya datar seketika saat melihat Ayah Emil kepayahan saat bernafas. Menunggu hingga lima belas menit barulah sesak itu berkurang.
Ayah Emil menitikkan air matanya. Syakir mengusap air mata itu dengan tangan bergetar. Ada Arta dan Bella disana uang baru saja pulang dari tempat mengaji mereka.
''Sudah.. ayah tidak apa-apa. Ayah.. hah.. sudah keseringan seperti ini.. hah.. ayo kita makan!'' ucapnya mencoba menghilangkan senyap sunyi sepi di dalam rumah besarnya itu.
''Ba-baik. kita makan! Kakak?'' panggil Syakir pada Annisa
''Ya, sudah selesai. Kamu mundurkan ke belakang. Hati-hati saat bangkit. Nanti kesenggol semua sayur itu!'' tunjuk Annisa dengan dagunya pada mangkuk sayur yang tepat berada di belakang nya.
''Ya,'' jawab Syakir.
__ADS_1
Ia berdiri perlahan dan maju ke belakang ayah Emil dan duduk disampingnya. Baru setelahnya Arta duduk di sebelah kiri Syakir, di susul Bella dan Bunda Zizi.
Sementara di depan ayah Emil ada Annisa yang siap melayani ayahnya itu. Di samping kanan ayah Emil ada Papi Gilang, Tama, Ragata dan si kembar. Lana duduk di ujung bersama di kembar.
Dirinya pun ikut terdiam tidak tau harus bicara apa. Sedari tadi anak kak Ira terus saja mengoceh tidak jelas mengganggu Om nya itu. Tetapi Lana tidak menggubris nya.
Ia menatap datar pada sang ayah yang kini sedang tersenyum namun berbalut sendu di dalamnya. Lana tau itu.
Mereka semua makan bersama. Makan malam yang selalu ayah Emil nantikan. Ia tersenyum ketika membasahi seluruh keluarganya berkumpul diruang besarnya yang hampir setara besarnya dengan rumah Kakek Yoga di Aceh.
Ia menatap seluruh keluarga nya dengan bibir terus menyungging kan senyum manis.
''Ayah bahagia bisa berkumpul bersama kalian semua diruang ayah ini. Rumah yang seharusnya di tempati oleh Alisa kini menjadi milik Zizi.''
Ayah Emil menatap Mak Alisa yang kini sedang menyuapi kedua cucu kembarnya. Dan beralih pada bunda Zizi yang saat ini sedang menunduk menyembunyikan air matanya dari mata sang suami.
''Ayah sangat bahagia sayang.. terimakasih karena sudah memenuhi undangan ayah untuk yang terakhir kalinya.
Inilah terakhir kalinya Ayah bisa berkumpul dan makan malam bersama kalian semua. Sebelum ayah pergi, ayah ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Ayah pernah berdua pada Allah dan meminta ini di sisa hidup ayah.
Dan ya, Allah kabulkan. Semoga setelah kepergian ayah nanti kalian semakin kaur dan semakin kita memegang tali persaudaraan ya?
Ayah bangga sama kak Ira, putri sulung ayah dengan anak alsia yang kini telah sukses dengan rumah sakitnya. Begitu juga putra sulung ayah. Ayah bangga padanya waksu dulu sempat ayah ingin membunuhnya...''
Tes.
Tes.
Buliran bening itu mengalir di pipinya. Ia usap cepat agar semua keluarga tidak melihatnya. Tetapi terlambat. Semuanya tau jika ayah Emil saat ini sedang menangis walau bibir tersenyum.
__ADS_1
Bibir tersenyum tetapi air mata mengalir hebat. Ia beralih menatap Ira, Annisa, Lana, dan ketiga anaknya yang lain. Tatapan mata itu begitu sendu.
Tubuh Annisa berguncang hebat. Ayah Emil tau itu. Ia makan tersenyum tetapi buliran bening itu terus mengalir di pipi tuanya.
Jangan tanya seperti apa Mak Alisa dan Ira. Wajah kedua itu pun sama. Tetapi tidak mengeluarkan suara.
Lana menunduk. Bahu tegap mirip ayah Emil itu juga berguncang. Semuanya sama tanpa terkecuali. Seolah mereka sudah tau jika ini adalah akhir perjalanan hidup ayah Emil di dunia.
Ayah Emil terus menatap keluraganya. Papi Gilang mengelus lembut tubuh belakang ayah Emil. Suami Mak Alisa dan mantan suami itu sudah akur sejak pertemuan terakhir mereka ketika Mak Alisa baru menikah dulu.
Bunda Zizi sempat salah paham padanya. Tetapi itu hanya sebentar saja. Papi Gilang dan Mak Alisa datang kerumah mereka untuk menjelaskan nya.
Dan semenjak itulah Papi Gilang dan ayah Emil mulai akrab. Tidak perseteruan lagi. Kedua suami Mak Alisa itu sudah menerima dengan takdir masing-masing.
Bahwa Mak Alisa tidak tercipta untuknya tetapi untuk Papi Gilang. Begitu pun dengan dirinya. Ada Bunda Zizi yang menjadi pelengkap hidup ayah Emil dihati taunya yang sedang sakit-sakitan.
''Terimakasih untuk semuanya. Terimakasih karena kalian telah memenuhi undangan ayah.. untuk bang Lana.. hah.. ayah minta maaf atas kejadian dulu.. ayah sempat ingin membunuhmu karena khilaf.. dan juga untuk kak Ira dan adek Annisa. Maafkan ayah kalian ini yang tidak bisa merawat dan menolong kalian waktu itu hingga Mak kalian memilih pergi dari hidup ayah karena kesalahan ayah sendiri..''
''Dan untuk ketiga anak ayah yang lain. Syakir, Arta, dan Bella. Sering-sering lah kerumah saudara kalian agar tali saudara kalian tidak pernah putus wakdh tempat kalian jauh. Jika mereka yang tua tidak sempat mengunjungi kalian. Maka kalian lah yang harus menjenguk mereka. Paham?'' ketiga anak ayah Emil dari bunda Zizi mengangguk patuh.
Saat ini mereka semua sudah selesai makan. Dan sudah memasuki waktu isya. ''Dan untuk kamu sayang. Jaga anak-anak kita dengan baik. Selalu hubungkan mereka dengan. ketiga saudara mereka. Syakir putra suling kita sudah bisa membiayai hidupku dsn hidup adiknya kelak. Masukkan mereka bertiga ke pesantren seperti janji awal kita dulu. Ikuti jejak Ira, Lana dan Annisa. Jadikan Abang dan kakaknya sebagai panutan untuk ketiga anak kita ini.''
''Absng berterima kasih padamu karena sudah bersedia pria tua penyakitan ini. Dan juga maafkan semua kesalahanku Abang, Zi..'' ucapnya pada bunda Zizi yang kini semakin tersedu.
Ayah Emil tersenyum, ''Jangan menangis. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Termasuk ayah. Jika waktunya sudah tiba, maka ayah akan pergi meninggalkan dunia ini. Tetapi untuk saat ini, ayah sudah bisa tenang. Ayah bisa pergi dengan tenang karena melihat anak-anak ayah berkumpul disini. Terima untuk semuanya.. ayah mau sholat. Ayo Gi. Pimpin lagi sholatnya. Udah masuk waktu isya.''
💕💕💕💕
Jangan nangis! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ¤§ðŸ¤§ðŸ¤§
__ADS_1