
''Bagi kami adik-adik kami bisa sekolah dengan nyaman dan senang tidak apa mengeluarkan uang banyak. Ingat Yah, uang bisa dicari selagi tubuh kita sehat. Tapi kalau saudara yang hilang, apa gunanya banyak harta namun tidak punya saudara untuk berbagi. Kami senang bisa berbagi dengan saudara kami sendiri. Mereka bertiga sedarah dengan kami walau berbeda ibu. Itu tidak jadi masalah untuk kami. Kami tetap menyayangi mereka bertiga. Karena Keluarga segalanya untuk kami.'' Ucap Annisa
Semua yang ada disana tertegun mendengar nya. Kak Ira tersenyum, walau Wajah itu tertutup niqob tapi bagi yang tau ia saat ini sedang tersenyum pada adik bungsunya itu.
''Kamu benar Dek. Keluarga yang utama. Bukan orang lain. Kalaupun kita senang, kita harus lebih mendahulukan Keluarga daripada orang lain. Karena ketika kita membutuhkan pertolongan belum tentu orang luar yang akan menolong kita, tapi keluarga yang paling dekat dengan kitalah yang akan menolong kita suatu saat jika kita tertimpa masalah. Kakak belajar dari pengalaman hidup. Banyak orang terkadang lebih menyayangi orang lain ketimbang saudaranya sendiri. Padahal dia tau, kalau keluarga nya itu sedang kesusahan. Alangkah baiknya, dibantu dulu. Membantu pun haruslah ikhlas!''
''Jangan karena mengharap pujian dari orang lain kita merasa bangga! Sebenarnya itu salah. Jika ada manusia yang ingin menolong orang lain karena mengharap pujian maka orang itu sudah riya' dalam beramal. Ia lebih senang di puji dan disanjung oleh orang lain ketimbang saudaranya yang sedang kesusahan yang memang sangat membutuhkan pertolongan nya!''
''Kakak hanya heran saja. Di jaman sekarang ini. Masih banyak manusia-manusia yang seperti itu di sekitar kita. Mereka menutup mata saat melihat saudara mereka yang kesusahan. Jangankan untuk membeli hal lain untuk makan sesuap pun sangat sulit. Tapi ia tidak melihat itu. Ia menutup matanya! Ia hanya tersenyum sinis kepada mereka orang susah walau itu saudara istri atau saudara suaminya sendiri!''
''Bahkan mereka ada yang bilang, kalau mau makan, ya cari sendiri! La wong aku pun cari sendiri? Kalau kamu pinjam, kamu mau bayar pakai apa? Gitu katanya. Saudara nya ini sangat kesusahan sebenarnya. Ia sangat membutuhkan uang itu untuk makan ketiga anaknya dirumah. Berharap bisa mendapat pertolongan dari saudara eh, malah mendapat penghinaan katanya nanti tidak bisa membayar!''
''Kakak kesal banget sebenarnya sama orang yang kayak gini. Yang lebih parahnya, ketika ia mengalami kesusahan dan mendapatkan musibah, ia malah menuduh saudaranya itu yang menyebabkan dirinya mendapat musibah itu. Belum lagi ia bilang kalau mereka saudaranya yang saat ini tidak sayang dan tidak tau terimakasih karena dulu sudah pernah di tolong olehnya. Dia tidak sadar dengan ucapannya itu yang sudah mengungkit kebaikan nya itu! Ketika dia mendapatkan masalah dan musibah, baru saudara susah yang ia cari? Gimana sama nih orang ya? Mereka seakan buta dengan keadaan saudara mereka yang susah! Kenapa nggak buta aja mata mereka sekalian biar tau rasa! Hati udah buta! Nggak ada gunanya kan kedua mata itu masih terbuka dan masih bisa melihat kesusahan saudaranya sendiri??''
Deg!
Deg!
__ADS_1
Deg!
Ada jantung beberapa orang berdenyut ngilu saat mendengar ucapan Kak Ira. Mereka semua menunduk seakan tersindir dengan ucapan kak Ira. Kak Ira masih berusaha mengontrol emosinya saat ini. Dirasa cukup, ia melanjutkan nya lagi.
''Kakak tidak menyangka kalau orang seperti ini masih di terima oleh masyarakat? Apakah mungkin karena mereka memiliki harta yang bisa di manfaatkan oleh mereka demi kesenangan dan kebutuhan hidup mereka? Cih! Jahat sekali orang ini!''
''Ayah, kami bertiga ini anak kandungmu. Jangan sama kan kami dengan orang lain?? Kami tidak seperti orang lain Yah.. kami ini menyayangi saudara kami. Yang lebih kami utama kan adalah saudara kami terdahulu. Bukan orang lain. Untuk apa menolong orang lain hanya untuk sebuah pujian? Semua itu sia-sia untuk pertolongan jika kita mengharapkan pujian. Itu riya' namanya. Memberi tapi ingin diketahui oleh orang lain!''
''Bukan kah jika tangan kiri tidak boleh tau jika tangan kanan yang memberi?? Lebih baik sembunyi-sembunyi dari pada terang-terangan kan Yah?''
Deg!
Deg!
''Kamu benar Dek. Jika kita yang memang sudah memilki harta lebih, sebaiknya keluarga dulu yang harus di selamat kan bukan orang lain. Terkecuali orang itu begitu membutuhkan pertolongan kita, maka kita yang memilki harta lebih wajib menolongnya. Bukankah pahala bagi orang yang menolong dengan ikhlas dan meminjamkan harta kepada orang yang membutuhkan itu sangat besar pahalanya??''
Deg!
__ADS_1
Deg!
''Di jaman sekarang ini sudah sangat sedikit orang yang melakukan hal seperti ini. Mereka lebih mengutamakan orang luar dibandingkan dengan saudara sendiri! Abang pun heran, saat melihat keluarga yang begitu congkaknya ingin menolong tapi mengharap balasan. Papa Fabian tidak pernah mengajarkan kami hal seperti itu. Beliau selalu mengajarkan seperti yang kamu katakan Ra. Kamu benar. Tidak sedikit orang di jaman sekarang lebih mengharap pujian daripada pahala. Apakah mungkin karena pahala itu tidak terlihat, makanya mereka sesuka hati berbuat seperti itu??''
Deg!
Deg!
Lagi dan lagi. Rasanya seluruh tulang di dalam tubuh mereka rontok semua saat mendengar ucapan Tama yang memang benar adanya.
💕💕💕💕
Noh, di dekat othor ada. Bukti nyatanya!
Hemm.. oke deh, sambilan nunggu cerita bang Tama ini update, mampir dulu yuk di karya temen othor yang satu ini.
__ADS_1
Noh, cus kepoin? Ceritanya seru loh..
Like, komen, kembang yang banyak buat othor agar othor rajin update! Jangan cuma minta update, kasih dong hadiahnya buat Othor?? 😒😒