
"Ayo kita masuk, Abang udah lapar loh.. Belum kenyang tadi saat makan. Tetapi kedua bocah rusuh kamu itu sudah menarik Abang untuk pergi kesini. Seakan mereka tau kalau Abang ingin membawa mereka kesini." Ucap Tama sambil menuntun Annisa yang masih berdiri mematung karena melihat market, restoran dan juga showroom mobil itu Tama bangun dengan uang pribadinya selama ini.
Tidak bisa di taksir betapa kaya nya sang suami selama ia pergi. Hingga bisa membangun sebuah showroom mobil dan juga membuka resto serta market itu di kota Bandung ini.
Tama menuntun Annisa masuk ke dalam resto yang sudah di sulap menjadi taman bermain untuk anak-anak.
Lagi dan lagi Annisa tertegun. Annisa tidak menyangka jika Tama menyiapkannya hanya dalam waktu beberapa jam saja saat ia sudah tiba di Bandung dan juga saat Tama sudah mengetahui jika ia sudah memiliki anak.
Annisa bukanlah wanita yang bodoh. Ia sangat pintar dalam segaal hal. Apalagi dalam menganalisa setiap kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya.
Tama tersenyum, "Sudah.. Jangan pikirkan apapun saat ini. Lihat saja kedua anak kita!" tunjuk Tama pada si kembar yang kini sibuk bermain perosotan juga ayunan tali. "Mereka sangat bahagia bisa bertemu dengan papi, Ibuk serta adik sepupunya."
Annisa menoleh pada Tama. "Adik??"
Tama menoleh pada annisa, "Ya, adik. Usia anak Mitha dan Anto hanya terpaut dua minggu saja. Dan juga jika menurut aturan silsilah keluarga, anak Mitha dan Anto 'kan memang harus memanggil anak kita dengan sebutan Kakak??" tanya Tama pada Annisa
__ADS_1
"Iya sih, tapi.."
"Sudah sayang.. Duduk dulu, ayo!" ajak Tama pada Annisa.
Annisa menurut saat Tama menariknya menuju meja yang sudah di sediakan oleh manager resto itu. Melihat kedatangan Tama dan Annisa, manager resto milik Tama itu mendekati mereka berdua.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Adrian Pratama. Mari, silahkan tuan!"Ucapnya ramah pada Annisa dan Tama
Tama tersenyum, "Terimakasih Pak Rusli." Jawab Tama.
Setelahnya pun mereka berdua duduk di meja yang sama dengan Mitha dan Anto. Begitupun dengan kedua sahabat Annisa yang begitu berjasa di dalam kehidupan Annisa selama Annisa di Bandung.
Annisa mengangguk patuh. Mereka semua pun segera makan. Termasuk si duo bocil biang rusuh yang kini nemplok di pangkuan Tama dan Annisa. Keduanya ingin disuapi makan oleh Annisa dan Tama dengan tangan langsung, seperti yang Annisa ajarkan selama ini kepada kedua anaknya.
Tama tersenyum puas kala melihat kedua anaknya itu begitu patuh dan menurut kepada Annisa. Ia yakin, dibawah asuhan Annisa pasti kedua anaknya itu akan memiliki budi pekerti seperti Annisa.
__ADS_1
Selesai makan, kini semuanya duduk lesehan di lantai. Ada ambal beludru yang sudah Tama siapkan untuk anak-anaknya bermain selama para orang tua berbicara.
"Baiklah, seperti kata Abang tadi. Jelaskan siapa nama kedua anak kita dan siapa yang memberi nama mereka berdua. Dan seperti apa saat kamu melahirkan mereka dulunya." Kata Tama pada Annisa
Annisa mengangguk patuh. "Saat melahirkan si kembar, tidak ada yang menemaniku saat itu. Hanya ada kedua sahabat setiaku ini yang selalu menemaniku. Tidak pernah sekalipun mereka meninggalkan ku. Mereka juga lah yang selama ini memnbantuku mengurus si kembar secara bergantian. Aku tidak mencari pengasuh, karena kedua sahabatku ini sanggup mengurus kedua anak kita,"
"Saat melahirkan mereka sama saja seperti melahirkan orang-orang pada umumnya. Sakit, mulas, hingga rasanya ingin mati saat itu juga. Tetapi semua itu bisa aku lewati karena memang aku selama hamil sering bergerak dan tidak hanya diam saja."
"Bahkan, Annisa masih bisa mengikuti mata kulianya walau sebenarnya saat itu ia sudah merasakan sakit perut bang!" tambah Mutia
"Hooh, bener itu Bang. Bahkan semua orang yang satu fakultas sama kami terkejut bukan main saat tau kalau Annisa akan melahirkan. Karena yang mereka tau, jika Annisa itu masihlah gadis. Sempat terjadi pergunjingan hingga aku waktu itu di panggil keruang dekan. Disana aku disidang dan ditanyai. Ya.. Aku jawab jujur dong? Bahwa Annisa sudah menikah saat ia sudah lulus ujian dulu, sekalian aku tujukkan bukti buku nikah punya Annisa dan juga beberapa foto kalian berdua. Alhamdulillah, clear! Semua itu karena si tuyul kalian itu! Mereka tau, jika saat itu Maminya mendapat masalah hingga harus di panggil ke ruang dekan." timpal Sarah lagi.
"Tetapi karena mereka berdua, Mami nya terbebas dari DO pihak kampus. Dan ya. Annisa merupakan mahasiswa terpintar di kampus kita. Kalau untuk namanya, itu Annisa sendiri yang memberikan nya untuk si kembar. Katanya, dua nama itu merupakan penggabungan dari nama kalian berdua. DANIS DAN TANIA. DA untuk ADRIAN, dan NIS untuk ANNISA. Begitu juga dengan Tania. TA untuk TAMA. Dan NIA untuk ANNISA. Bukan begitu Nis??" tanya Sarah pada Annisa dan diangguki oleh Annisa.
"Ya, abang aku beri nama DANIS PRAWIRA PRATAMA dan adek, aku beri nama dengan SRITANIA PUTRI PRATAMA. Darah daging kita berdua dan nama mereka pun aku ambil dari nama kita berdua. Tak apakan Bang Tama?"
__ADS_1
Tama menggeleng, "Tidak. Nama yang bagus untuk kedua buah hatiku. Terimakasih karena masih mau menerima pria tua ini, sayang.."
Annisa tersenyum. "Ya, karena aku memang masih mencintaimu dan menginginkanmu menjadi imam untuk perahu kita menuju surga nya Allah SWT." Jawab Annisa yang dihadiahi dengan kecupan penuh cinta di dahinya oleh Tama.