
Mitha yang baru saja masuk pun terkejut bukan main. Ia berlari sedikit kencang menaiki tangga.
Hingga tiba di depan pintu kamar Tama, Mitha mematung.
''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk.... Annisaaaaaaaaa... aaaaa.... tidaaaaaaakkkk... aaaaaaaaaa... haaaaaaaaaa... haaaaaaaaaa... kemabliiiiiiiii.... haaaaaaaaaa.....''
Dddduuuuaaaaarrrrrrrrr...
Mitha mundur ke belakang saat melihat Tama meringkuk dan bersujud di lantai kamarnya. Kain sarung yang sudah melorot dan juga wajah basah dengan air mata.
Mitha mematung melihat itu. Sungguh, ia tidak sanggup melihat Tama hancur seperti itu.
Andai Mitha bisa membantunya, pastilah Mitha akan membantu nya. Tetapi saat ini yang Tama inginkan adalah Annisa.
''Huaaaaa.... haaaaaaaaaa... Annisaaaaaaaaa... pulaaaaaaaangggg... aaaaaa.... pulang Dek!!! Haaaaa haaaa.. haa...aaaaa.. aaa... aaa...'' Raung Tama semakin menjadi.
Mitha yang sudah tidak tahan pun masuk. Ia memeluk tubuh Tama yang kini semakin berguncang hebat.
Dadanya sakit sekali. Seluruh sendinya seperti mati rasa. Tama tidak ingin merasakan apapun saat ini. Sungguh, ini sangat sakit menurut nya.
''Haaaaa... deeekkk.. pulaaaaaaaangggg... kamu... haaa.. salah pahaaaaammm.. pu-pulang Sa-sayaaaaaaaangggg...'' Raung Tama semakin menyayat hati.
__ADS_1
Mitha pun ikut menangis sambil memeluk tubuh Tama. Ia memeluk erat tubuh yang begitu terpukul saat ini karena kepergian Annisa.
Tidak terpikir oleh nya jika Annisa pergi karena melihatnya seperti itu. Tama hancur sehancur hancur nya mendapati kenyataan jika kejadian di showroom itu Annisa tau.
Pantaslah ia tidak melihat Annisa di mana pun. Saat ia meminta Anto untuk menyusul Annisa, Mitha yang pergi. Tetapi itulah yang ia baru tau.
Ternyata kejadian di showroom siang kemarin Annisa melihat sebagian. Tidak seluruhnya. Pantas saja ia seperti mendengar suara raungan Annisa yang begitu pilu. Dari sebalik kamar nya.
Ia sempat sadar, tetapi setelah nya tertidur kembali akibat efek obat dosis tinggi itu. Hingga dirinya tidak sanggup mengontrol diri lagi.
Sedangkan di dalam pesawat sana, hati dan jantung Annisa tiba-tiba saja sakit. Ia sesak nafas. Nafasnya tersengal. Matanya terpejam tapi tangannya bergerak menyentuh apapun yang ada disampingnya.
Sesak. Sangat sesak. Dalam bayangan mata terpejam, ia bisa melihat Tama yang saat ini sedang tersedu karena sudah membaca suratnya.
''Astaghfirullah! Annisa!!'' pekiknya.
Membuat penumpang di pesawat itu terkejut dan panik saat melihat Annisa yang seperti orang kehabisan nafas. Tangan kanannya memegang jantung. Sedang tangan kirinya memegangi kursi tempat ia duduk di dalam pesawat itu.
Semuanya panik. Annisa tidak bisa merasa apapun. Yang ia lihat saat ini hanyalah Tama. Ia tersedu dengan mata terpejam.
''Baangh.. Ta-tama...'' bisiknya lirih tetapi terdengar oleh Mutia dan Sarah.
__ADS_1
Keduanya saling pandang. Mereka baru tau, jika Annisa sakit karena berjauhan dari Cinta nya itu hingga merasakan sangat sakit. Mutia yang berada disampingnya itu segera memeluknya. Sarah pun demikian.
''Annisa.. kuatkan hatimu. Kamu harus kuat ! Kamu harus bisa! Kamu jangan lemah. Ada kami bersama mu..'' bisik Mutia di telinga nya.
Annisa bisa mendengar nya. Tetapi Annisa tidak bisa berbicara. Bibirnya terkunci begitu pun dengan kerongkongan nya.
Mata terpejam tetapi air mata beruraian. Ia masih melihat Tama yang semakin tersedu seorang diri di kamar mereka.
Terlihat jika Tama memegangi suratnya dengan memakai baju kaus berwarna putih dan kain sarung miliknya. Kain sarung yang belum sempat Annisa cuci.
Karena bekas percintaan mereka kemarin malam. Mengingat itu semakin sesaklah dada Annisa.
Sarah dan Mutia hanya bisa menangis. Semua yang melihatnya pun tidak tau harus berbuat apa. Mereka hanya bisa diam dan terus melihat Annisa yang kini masih tersengal.
Begitu juga dengan Tama. ''Kamu salah paham sama Abang sayang... kamu salah paham.. pulang sayang... pulang.. biar Abang bisa jelaskan kejadian yang sebenarnya.. pulang sayang...'' lirihnya dengan mata terpejam.
Tama terlelap di pangkuan Mitha. Mitha yang merasakan jika Tama sudah diam keheranan. ''Abang??'' panggilnya.
Tak ada sahutan. Tama tetap diam. Karena takut akan sesuatu, Mitha menggeser tubuh tegap Tama yang sudah lemah.
Deg!
__ADS_1
''Tidaaaaaaaaaaaakkkkk!! Bangun Abang!!!''