Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Berpisah


__ADS_3

Dua jam lebih tiga puluh menit mengendarai mobil kini Tama dan Annisa sudah tiba di pesantren Annisa. Sudah banyak yang berdatangan tetapi belum masuk. Karena pintu pesantren masih tertutup.


Pintu pesantren akan terbuka pada pukul empat lebih dua puluh lima menit. Di saat itulah semua murid pesantren tidak ada yang tidak hadir. Karena jika pintu sudah tertutup maka akan sulit untuk dibuka kembali. Begitu peraturan pesantren Annisa.


Tama dan Annisa masuk ke parkiran pesantren. Tetapi mereka berdua tidak turun. Keduanya masih betah berada di dalam mobil. Sarah dan Mutia yang tau kalau Annisa sudah datang langsung saja menghubungi nya.


''Assalamu'alaikum Nis? Kok belum turun? Kami udah nungguin loh.. sedari tadi?'' Ucap Sarah dan Mutia bersamaan saat panggilan dari Mutia diangkat oleh Annisa.


Annisa terkekeh, ''Tungguin ya? Aku masih belum bisa turun. Kalian Taulah..'' sahut Annisa melirik Tama sekials. Sedang yang dilirik saat ini menatap lurus ke depan dimana seluruh murid pesantren satu persatu berdatangan diantarkan oleh saudara dan juga orang tua mereka.


''Ck. Ya, ya. Baiklah. Kami tunggu! Jangan lama-lama sayang-sayang nya!'' ketus Sarah


Annisa tertawa, Tama menoleh. Ia pun menatap Annisa yang kini sedang menatapnya dengan dalam.


''Aku tutup, bentar lagi aku turun. Oke?''


''Hem,'' sahut Sarah sedikit kesal. Karena ia bisa melihat mobil Tama baru saja tiba tapi Annisa belum turun juga.


Mereka tidak tau saja kalau pasangan beda usia itu saat ini sedang merasa berat untuk berpisah satu sama lainnya.


Annisa memegang ponsel itu dengan erat dan memaksa tersenyum pada Tama. Tama tetap menatap nya dengan dalam. Di tatap seperti itu membuat Annisa salah tingkah sendiri. Tanpa di duga, Tama terkekeh.


''Kamu kenapa? Pipi kamu kok merah? Malu sama Abang??'' goda Tama masih dengan terkekeh.

__ADS_1


Annisa memukul lengan Tama sekilas. Ia menunduk malu. ''Apaan sih?'' ucap Annisa tidak suka pada sikap Tama yang menoel-noel dagunya.


Plakk..


Hahaha...


Tama tertawa saat melihat wajah Annisa semakin malu padanya. ''Yang kayak Abang ini orang lain saja buat kamu hingga malu seperti itu??'' goda Tama lagi pada Annisa.


Plakk..


Annisa memukul lagi. Kali ini dada Tama. Tama merengkuh Annisa untuk di peluknya dengan erat. ''Abang akan kangen banget sama kamu sayang...'' lirih Tama masih dengan memeluk erat tubuh Annisa.


Annisa pun demikian. Ia pun tak kalah erat memeluk tubuh tegap Tama yang selalu menghangatkan dirinya di setiap malamnya. Annisa terisak. Tama semakin erat memeluk tubuhnya.


Annisa tidak menyahut, ia semakin erat memeluk tubuh Annisa. Tak ada tempat yang lebih nyaman selain pelukan hangat Tama. Delapan belas tahun yang lalu, seperti inilah yang Tama rasakan saat pertama kali memegang Annisa yang saat itu baru lahir.


Tama saksi hidup Annisa. Ia juga yang pernah memandikan Annisa. Mulai dari memandikan, membuang pup, hingga menyuapinya makan. Mereka sempat berpisah lantaran Tama sudah di jemput oleh Papa Fabian.


Tapi itu cuma sebentar. Bisa di hitung cuma beberapa bulan saja. Dan ketika Tama beranjak SMA, ia akhirnya bertemu lagi dengan Mak Alisa. Tama menginap dirumah Papa Fabian hanya ketika malam Minggu. Itu pun terkadang. Selebihnya, Tama pulang lagi kerumah Mak Alisa dengan menggunakan motor pemberian Papi Fabian untuknya.


Setiap hari setelah selesai sekolah, Tama selalu pulang kerumah Mak Alisa. Di tempat tinggal Mak Alisa sekarang. Sempat berpisah karena Mak Alisa pergi dari kediaman Ayah Emil.


Berhari-hari Tama mencari mereka hingga ia putus asa. Sempat juga tanya sama ayah Emil, tapi ayah Emil tidak mau menjawab. Bahkan saat itu, ayah Emil sedang di pertemukan dengan calon istri barunya sebelum Bunda Zizi.

__ADS_1


Karena tidak mendapat kan jawaban, Tama juga sempat pulang ke Aceh. Tapi tetap kecewa. Hingga suatu saat, ia ada janji dengan salah satu orang kenalan Mak Alisa. Teman sekelas nya itu sangat mengenal Mak Alisa. Dia lah yang menunjukkan dimana Mak Alisa berada.


Dan kini, hubungan itu bukannya terputus. Malah lebih erat. Bayi perempuan yang dulu sering di timang Tama, kini telah menjadi istri sahnya secara agama. Sedang hukum masih dalam proses.


Menunggu Annisa tamat sekolah dulu baru buku nikah itu akan keluar. Annisa masih saja memeluk erat tubuh tegap Tama.


''Sudah sayang.. temanmu sedari tadi sudah menggerutu tidak jelas di luar sana. Lihatlah salah satu teman mu itu. Ia sibuk mengomel tidak jelas. Haha.. sudah sayang.. jangan menangis. Tinggalkan senyum manis kamu untuk Abang, tapi jangan air mata. Itu sama saja seperti Abang sengaja membuatmu terluka karena kelakuan Abang padamu.'' Lirihnya membuat Annisa mengurai pelukannya.


''Baiklah adek keluar. Abang jaga diri dan kesehatan. Jangan lupa sholat dalam keadaan apapun. Adek akan selalu mendoakan Abang. Kita bertemu enam bulan lagi. Jemput adek nanti saat adek menghubungi Abang. Adek pamit. Assalamualaikum.. Cup, cup, cup, Cup!'' Annisa mengecup seluruh wajah tampan Tama.


Terakhir, ia labuhkan kecupan hangat di putik merah jambu milik Tama yang selalu membuatnya tergoda dan candu ingin menikmati nya lagi.


Annisa menyesap dan memaguut bibir tampan itu. Tama terdiam dan menikmati setiap perlakuan Annisa untuk yang terakhir kalinya. Dirasa sudah kehabisan nafas, Annisa melepaskan nya.


Tama tersenyum, Annisa pun ikut tersenyum. Cup! Sekali lagi Annisa mengecup bibir itu. Setelahnya ia melepaskan dan menggamit tangan Tama dan keluar dari mobil itu dengan tergesa. Annisa malu.


Tama tergelak keras. Ia pun ikut keluar mengikuti Annisa yang saat ini sedang mengambil dua ransel miliknya. Setelahnya ia berpamitan pada Tama yang berdiri mematung dan melambaikan tangan terakhir padanya sebelum ia masuk ke dalam pesantren.


Annisa masuk ke pesantren saat ustadzah Hanim sudah berdiri menunggu mereka. Tama tersenyum dan melambaikan tangan nya. Annisa pun ikut tersenyum.


Mereka berpisah lagi. Tapi hanya untuk sementara. Setelah enam bulan, Tama akan menjemput Annisa kembali.


Setelah melihat Annisa masuk, Tama pun kembali masuk ke mobilnya dan meninggalkan pesantren Annisa menuju pulang ke kediaman nya.

__ADS_1


Hidup Tama kembali seperti biasa. Disaat Annisa tidak ada. Mereka berpisah tapi hanya untuk sementara.


__ADS_2