Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Butuh waktu


__ADS_3

Mereka berdua tiba dirumah Tama sudah siang. Anto dan Mitha menunggu mereka disana.


Annisa turun dari mobil dan mulai berjalan perlahan menuju pintu rumahnya. Mitha mendekati Annisa. ''Kakak ipar!'' sapanya sambil memeluk Annisa.


Annisa tersenyum lirih. ''Assalamu'alaikum Mitha.. Anto.. sehat?''


Mitha mengurai pelukannya. ''Alhamdulillah Kak. Ayo kita masuk. Aku udah masak tadi. Kakak belum makan kan?''


Annisa menggeleng. ''Kalian aja ya? Kakak ngantuk. Mau tidur.'' Jawabnya dengan segera masuk dan meninggalkan tiga orang yang saling memandang melihat kepergian nya itu.


Tama menghela nafasnya. ''Ayo kita masuk. Abang lapar. Sedari tadi nggak ada singgah sama sekali. Kakak kamu tidak mau makan ataupun minum..'' lirih Tama dengan wajah lesu.


Entah kenapa ia merasa tubuhnya begitu lelah selama dua hari ini. Mungkin karena habis mengurus tahlilan ayah Emil, pikir nya. ia berjalan lunglai menuju ke meja makan.


Anto dan Mitha mengangguk. Mereka berdua mengikuti Tama yang sudah lebih dulu masuk kerumah langsung menuju dapur.

__ADS_1


Saat mencium bau aroma rendang, Tama bergegas dengan cepat menuju dapur. Ia duduk di kursi dan langsung mengambil makanan yang sudah Mitha masak.


Tama tidak peduli dengan dua orang yang mematung melihat tingkah nya. Mereka terkekeh saat menyadari jika Tama begitu kelaparan hingga makan begitu lahap nya.


Sementara Annisa di kamar sana, ia lebih memilih untuk memejamkan matanya setelah menunaikan sholat dhuhur terlebih dahulu.


Saat ini Annisa masih berduka karena kepergian ayah Emil. Ia butuh waktu untuk bisa menenangkan dirinya.


Sangat sulit melupakan seseorang yang kita sayangi walau dia dulunya sangat jarang menumpahkan kasih sayang nya untuk Annisa.


Semua itu butuh waktu dari keadaan yang sedang menimpa dirinya. Tama yang sudah selesai makan siang pun segera bangkit menuju ke kamar nya dengan membawa sepiring nasi, buah dan minuman untuk Annisa makan.


Selama sebulan.inghu ini selera makan Annisa begitu menyusut. Annisa hanya ingin makan saat Tama yang menyuapi nya.


Tama masuk ke kamar dan melihat sang istri tertidur dengan nyaman di ranjang mereka. Tama berjalan mendekat dan meletakkan sepiring nasi dan minuman tadi ia letakkan di atas nakas yang berada disisi kiri ranjangnya.

__ADS_1


Tama menghela nafasnya. ''Sabar sayang.. ikhlaskan kepergian ayah. Semua itu sudah menjadi ketetapan Nya. Kamu harus bisa menerima kenyataan ini. Kamu harus kuat. Annisa yang Abang kenal sangat lah kuat. Abang mohon.. jangan seperti ini lagi. Abang sakit melihatmu seperti ini..'' lirih Tama di telinga Annisa.


Cup.


Tama mengecup kening Annisa dan memeluk tubuh ringkih itu. Annisa sudah bangun saat mendengar suara pintu terbuka tadi. Tetapi ia malas untuk membuka mata.


Hatinya masih sedih saat ini. Tetapi yang ia tidak duga jika Tama pun terluka karena ulahnya. Annisa memeluk erat tubuh hangat Tama.


Ia terisak. ''Hiks.. maafkan adek, Bang.. adek lupa kalau ada Abang yang juga membutuhkan adek .. maaf..'' lirihnya dalam pelukan Tama.


Tama semakin erat memeluk tubuh Annisa. ''Jangan bersedih lagi. Ada Abang disini. Waktu kamu tersisa tiga Minggu lagi. Sebelum kamu berangkat ke Bandung, bisakah kamu kembali ceria seperti dulu nya? Agar Abang tidak sedih saat kamu tinggal nanti?''


Annisa mengangguk dalam pelukan hangat Tama. ''Tentu. Adek akan kembali ceria lagi seperti sedia kala. Hanya saja untuk menghilangkan kenangan ayah yang sangat singkat itu masih belum bisa adek lupakan. adek butuh waktu. Tetapi adek akan berusaha untuk kembali ceria seperti yang Abang inginkan! Adek janji!'' ucap nya pada Tama.


Hingga membaut Tama tersenyum bahagia. ''Ya, Abang pegang janjimu. Ayo, kamu belum makan siang kan? Itu udah Abang bawakan makan siangmu. Bangun dulu,'' ujarnya pada Annisa dan membantu Annisa untuk bangkit.

__ADS_1


Annisa pun bangkit dan Tama pun mulai menyuapinya sambil bibir keduanya menyungging kan senyum manis.


__ADS_2