Annisa Istri Kecilku

Annisa Istri Kecilku
Pertemuan Pertama setelah sekian lama


__ADS_3

Annisa berjalan mendekati kedua anaknya yang saling berebutan mainan tanpa memerhatikan kedua sahabatnya itu terpaku menatap ketiga orang di depan pintu mobil sana.


Begitu juga dengan ketiga orang itu. Mereka mematung kala melihat seorang ibu muda yang begitu berisi setelah lima tahun berlalu. Mata mereka terpaku pada sosok yang saat ini sedang berjalan dengan santainya. Dengan tubuh yang lumayan berisi. Setelah lima tahun berlalu. Yaitu Annisa.


Annisa melerai keributan dua bersaudara sepasang itu dengan cara memeluk keduanya dengan erat.


"Kenapa berkelahi, hem?" tanya Annisa pada kedua tuyul biang rusuh itu.


Kedua bocah itu terdaim. Mata mereka sejurus melihat ke depan sana. mata kecil itu mengerjab polos.


Annisa tidak menyadarinya karena tubuhnya membelakangi ketiga orang yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat terkejut. Terutama Tama.


Yang Tama tau, kalau Annisa dulu pergi meninggalkannya tidak dalam keadaan hamil. Lalu, siapa kedua bocah itu? Kenapa sepasang anak itu memanggil Annisa dengan sebutan Mami?? Jangan-jangan..


Di tengah lamunannya itu, Tama terkejut lagi dengan ucapan Annisa.


"Sayang Mami? Kok diam?? Ayo, bersiap! Katanya mau ketemu Papi??"


Deg!


Deg!


Ketiga orang itu semakin terkejut saat mendengar ucapan Annisa. Mata kedua bocah rusuh itu mengerjab, "Papi??" katanya pada Annisa.


Annisa tersenyum dan mengurai pelukannya dan menatap lembut duo bocah yang begitu rusuh itu.


"Ya, Papi kalian! Sebentar lagi ia akan datang untuk menjemput kita kesini. Masih ingat siap nama Papi dan seperti apa rupanya?"

__ADS_1


Bocah kecil itu kembali mengerjab. Bola mata bulat bening mirip sang Papi membuat Annisa semakin terkekeh melihatnya.


"Emm.. nama Papi adalah Adrian Pratama!"


Deg!


Deg!


Tubuh tegap nan kekar itu limbung ke belakang. Anto dengan sigap menahannya. Annisa tersenyum lagi.


"Adek pintar! Seperti apa wajahnya??" tanya Annisa lagi


"Emmm Papi Tama itu Tampan! Bahkan sangat tampan! Seperti yang berdiri disana itu!" tunjuk sang Putra sulung kepada sosok yang berdiri mematung melihat merek bertiga.


Annisa menoleh, dan..


Deg!


Deg!


Deg!


"Sayang..." sahut Tama seperti suara desauan angin halus yang berhembus di telinga Annisa.


Kedua mata itu saling menatap dan terpaku pada sosok yang saat ini di tunjuk oleh sang putra sulungnya.


"Benarkan Mi? Seperti itukan ya wajah Papi ?? Papiiiiii!!! Horeeeee!!! Papii datang!!! Papiiiiiiiii!!!!" seru si cantik yang sangat mirip dengan Tama itu.

__ADS_1


Si sulung pun demikian, ia pun begitu senang kala melihat jika orang yang selama ini mereka tanyakan dan mereka rindukan sudah datang untuk menjemput mereka seperti kata sang Mami.


"Huaaaa... Papiiiii!!! Papi, Abang!!!" seru si sulung.


Dengan segera mereka berdua berlari mengejar sosok yang saat ini sedang menyender di pintu mobil sewaannya. Anto dengan sigap menahan tubuhnya saat menyadari tubuh itu akan luruh ke tanah.


Seiring dengan langkah kedua bocah itu yang semakin dekat, Tama pun sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Ia luruh ke tanah bersamaan dengan kedua bocah itu memeluk erat tubuhnya dan menangis disana.


Grep!


"Huaaaaa... Papiiiii!!!!" seru keduanya dengan segeras memeluk erat tubuh kekar dan hangat yang selama selalu mereka rindukan setiap kali melihat seluruh anak-anak yang sebaya mereka bermain dengan kedua orang tuanya.


Tama tergugu. Tidak tau harus berbuat apa. Tetapi tangan kekar nan hangat itu memeluk erat tubuh dua bocah yang merupakan darah dagingnya dan Annisa.


Tama terisak. "Hiks.. Anakku.. Ya Allah.. Kalian sudah besar Nak? Ya Allah sayang.. Kenapa kamu nggak bilang, hem?" tanya Tama pada Annisa yang kini masih mematung melihat kehadirannya setelah sekian lama berpisah.


Annisa tidak bisa menjawabnya. Bibir itu kelu untuk sekedar memanggil namanya. Dadanya sesak sekali. Seperti di himpit batu besar hingga sulit untuk di lepaskan.


Sarah dan Mutia yang sudah sadar dari rasa terkejutnya pun kini mendekati Annisa. "Bang Tama sudah datang Nis! Bahkan kedua anakmu saja tau, jika itu Papi mereka berdua. Temuilah dirinya. Bukankah kamu juga sangat merindukannya setelah lima tahun terakhir??" Ucap Mutia yang kini sedang mengusap tubuh belakang Annisa yang sedikit bergetar.


Tama menatap sendu pada Annisa. Buliran bening itu terus mengalir di pipinya seiring seruan kedua anaknya.


"Sayang.."


Deg, deg, deg..


Suara halus Tama yang selalu ia rindukan kini bisa Annisa dengar lagi. Tubuh nya bergetar. Ia pun ikut menangis.

__ADS_1


"Hiks.. Abang.. Suamiku.. Imamku.. Cintaku.. Hidupku.." bisik Annisa begitu lirih, tetapi tau apa yng Annisa ucapkan.


Tama mengngguk dan tersenyum padanya. Annisa pun semakin tersedu. Tama tertawa saat melihat Annisa terduduk di tanah karena terkejut melihat kedatangannya.


__ADS_2